Kerangka Kompetensi Kecerdasan Artifisial untuk Guru #3 Spesifikasi

Artikel keempat ini mengulas spesifikasi rinci kerangka kompetensi kecerdasan artifisial untuk guru: mulai dari sasaran kurikuler, tujuan pembelajaran, hingga contoh aktivitas konkret di tiga tingkat perkembangan (Acquire, Deepen, Create) dan lima aspek kompetensi. Ulasan ini membantu sekolah dan lembaga pelatihan mengubah kerangka UNESCO dari dokumen konseptual menjadi desain program nyata.

Tiga artikel sebelumnya telah memaparkan landasan konseptual kerangka kompetensi kecerdasan artifisial untuk guru dari UNESCO: latar belakang dan urgensi, prinsip-prinsip utama, serta struktur matriks lima aspek dan tiga tingkat perkembangan. Artikel keempat ini masuk ke “ruang mesin”: bagaimana kerangka tersebut diterjemahkan menjadi spesifikasi konkret untuk pelatihan dan pengembangan profesional guru.

Dalam dokumen aslinya, bagian ini disebut sebagai specifications dari kerangka kompetensi. Di sinilah kita menemukan detail berupa:

  • Curricular goals (CG) – sasaran kurikuler yang harus dicapai program pelatihan atau dukungan untuk setiap blok kompetensi.
  • Learning objectives (LO) – rumusan “guru dapat …” yang menggambarkan kemampuan, pengetahuan, dan sikap yang diharapkan.
  • Contextual activities – contoh aktivitas dan perubahan perilaku yang menjadi bukti pencapaian kompetensi di konteks nyata.

Dengan kata lain, artikel keempat menjawab pertanyaan yang paling sering muncul di lapangan: “Kalau sekolah saya ingin melatih guru tentang AI, secara konkret apa yang harus di-ajarkan dan bagaimana mengukurnya?”

Gambaran Umum Spesifikasi Kerangka AI untuk Guru

Struktur besar kerangka sudah jelas: lima aspek kompetensi (mindset berpusat pada manusia, etika AI, fondasi dan aplikasi, pedagogi, serta pengembangan profesional) dan tiga tingkat perkembangan (Acquire, Deepen, Create). Artikel keempat dalam dokumen UNESCO mengambil setiap persilangan aspek–tingkat ini dan menjadikannya blok kompetensi lengkap dengan:

  • pernyataan kompetensi guru,
  • sasaran pelatihan (curricular goals),
  • tujuan belajar rinci (learning objectives),
  • serta contoh aktivitas kontekstual.

Hasilnya adalah lima belas blok yang masing-masing dapat dipandang sebagai “paket modul pelatihan”. Misalnya:

  • Mindset berpusat pada manusia – tingkat Acquire: fokus pada pemahaman agensi manusia dan risiko AI terhadap otonomi guru dan murid.
  • Etika AI – tingkat Deepen: fokus pada internalisasi praktik penggunaan AI yang aman dan bertanggung jawab, bukan sekadar mengetahui prinsip di atas kertas.
  • AI pedagogy – tingkat Create: fokus pada inovasi pedagogis yang benar-benar baru berkat dukungan AI.

Pendekatan ini menghindari dua jebakan klasik: pertama, pelatihan yang hanya “ceramah teori AI”; kedua, pelatihan yang hanya membahas fitur teknis tanpa kerangka etika dan pedagogi. Spesifikasi memaksa semua unsur ini dipikirkan bersama.

Bagaimana Cara Membaca Spesifikasi (CG, LO, dan Aktivitas)

Sebelum menyelam ke tiap tingkat, penting memahami tiga elemen kunci:

1. Curricular goals (CG)

Curricular goals menjawab pertanyaan: “Program pelatihan ini pada akhirnya ingin membawa guru ke posisi seperti apa?” Rumusannya bersifat makro, misalnya:

  • menguatkan perspektif berpusat pada manusia dalam memanfaatkan AI;
  • membantu guru mengembangkan keterampilan mengoperasikan alat AI yang relevan dengan tugas mengajar;
  • menanamkan praktik penggunaan AI secara aman dan etis di sekolah.

Di level kebijakan atau institusi, CG sangat membantu untuk menyelaraskan program pelatihan dengan visi jangka panjang organisasi: guru seperti apa yang ingin dihasilkan di era AI.

2. Learning objectives (LO)

Learning objectives menurunkan CG menjadi rumusan yang lebih konkret dan dapat diamati, dengan pola “guru dapat …”. Contohnya:

  • guru dapat menjelaskan bagaimana AI dapat melemahkan agensi murid jika digunakan tanpa pengawasan;
  • guru dapat membedakan kapan analitik pembelajaran berbasis AI membantu, dan kapan justru berisiko memperkuat bias;
  • guru dapat merancang satu siklus pembelajaran yang memadukan AI dan umpan balik manusia secara seimbang.

LO inilah yang seharusnya menjadi dasar desain sesi pelatihan, penugasan, dan asesmen terhadap peserta pelatihan.

3. Contextual activities

Bagian ini menjawab pertanyaan: “Kalau guru sungguh menguasai kompetensi tersebut, perilaku apa yang akan tampak di kelas dan di sekolah?” Contoh yang diberikan meliputi:

  • menulis panduan sederhana untuk rekan kerja tentang “do and don’t” penggunaan AI di kelas;
  • melakukan uji mandiri terhadap bias sebuah alat AI sebelum menggunakannya untuk asesmen;
  • memimpin komunitas praktik guru yang bereksperimen dengan pembelajaran berbasis AI.

Di sinilah kerangka UNESCO terasa sangat praktis: bukan hanya daftar istilah, tetapi serangkaian indikator perilaku yang bisa dipantau dan didiskusikan bersama dalam pengembangan profesional guru.

Spesifikasi Tingkat Acquire: Literasi Dasar yang Wajib Dimiliki Semua Guru

Tingkat Acquire bertujuan memastikan semua guru memiliki literasi dasar yang layak tentang AI dan penggunaannya di pendidikan. Tujuannya bukan menjadikan semua guru “ahli teknis”, melainkan menghindari dua ekstrem: ketakutan berlebihan dan penerimaan buta.

1. Mindset berpusat pada manusia (blok 1.1)

Di tingkat ini, sasaran kurikuler berfokus pada:

  • memahami bahwa manusia – bukan algoritma – yang harus memegang keputusan akhir dalam pendidikan;
  • mengenali cara-cara AI dapat memperkuat atau justru melemahkan otonomi guru dan murid;
  • mengkritisi narasi berlebihan, misalnya klaim bahwa AI akan sepenuhnya menggantikan guru atau sebaliknya bahwa AI harus sepenuhnya dilarang.

Tujuan belajar menekankan kemampuan guru untuk:

  • menjelaskan apa yang dimaksud dengan agensi manusia dalam konteks AI;
  • mengidentifikasi situasi konkret di mana penggunaan AI dapat mengikis kemandirian berpikir murid;
  • merumuskan aturan praktis sederhana yang menjaga dominasi nilai kemanusiaan saat menggunakan AI di kelas.

Aktivitas kontekstual yang disarankan antara lain membuat daftar “do & don’t” penggunaan AI yang dipajang di ruang guru atau dibahas di rapat tim.

2. Etika AI (blok 2.1)

Pada tingkat Acquire, fokus etika adalah pengenalan prinsip dasar dan regulasi yang relevan. Program pelatihan diharapkan:

  • memperkenalkan prinsip keadilan, non-diskriminasi, privasi, dan akuntabilitas;
  • menghubungkan prinsip tersebut dengan peraturan lokal atau nasional terkait data dan teknologi di pendidikan;
  • membantu guru mengenali contoh pelanggaran etika yang mungkin terjadi di sekolah ketika menggunakan AI.

Guru diharapkan mampu memberikan contoh kasus sederhana – misalnya, bagaimana penggunaan pengawasan otomatis dapat mengganggu rasa aman murid – dan mengaitkannya dengan prinsip yang dilanggar.

3. Fondasi dan aplikasi AI (blok 3.1)

Blok ini menargetkan pemahaman konseptual dasar dan kemampuan mengenali jenis-jenis AI yang relevan dengan pendidikan. Sasaran utamanya:

  • guru dapat menjelaskan secara garis besar bagaimana AI belajar dari data;
  • guru dapat membedakan AI dengan TIK biasa (misalnya antara pengolah kata dan model bahasa generatif);
  • guru dapat menyebutkan contoh aplikasi AI yang sudah atau bisa digunakan di sekolah.

Aktivitas yang diusulkan termasuk membuat “peta alat” yang membedakan mana aplikasi yang sebenarnya menggunakan AI dan mana yang tidak, serta kelebihan dan keterbatasannya.

4. Pedagogi AI (blok 4.1 – AI-assisted teaching)

Di tingkat Acquire, guru mulai mencoba AI-assisted teaching dalam skala terbatas. Program pelatihan diharapkan memberi:

  • contoh bagaimana AI dapat membantu menyiapkan materi, latihan, atau pertanyaan pemantik;
  • pedoman untuk menilai kelayakan materi yang dihasilkan AI sebelum dibawa ke kelas;
  • pengalaman praktik merancang satu sesi belajar yang dibantu AI tetapi tetap dipimpin guru.

Indikator keberhasilan antara lain: guru dapat merancang dan merefleksikan satu siklus pembelajaran yang memanfaatkan AI tanpa menyerahkan seluruh proses kepada mesin.

5. AI untuk pengembangan profesional (blok 5.1)

Blok terakhir tingkat Acquire menyasar kesadaran guru bahwa profesi mereka juga berubah di era AI. Kurikulum pelatihan mendorong guru untuk:

  • memahami perubahan tuntutan kompetensi guru di era AI;
  • mengidentifikasi kesenjangan antara kompetensi yang diminta dan kompetensi yang saat ini dimiliki;
  • memulai penggunaan sederhana AI untuk belajar mandiri – misalnya untuk mencari sumber belajar, menyusun rencana peningkatan kompetensi, atau mengelola portofolio.

Di sini, AI diposisikan sebagai mitra belajar guru, bukan sekadar alat untuk mengajar murid.

Spesifikasi Tingkat Deepen: Pendalaman dan Integrasi dalam Praktik Mengajar

Jika tingkat Acquire memastikan semua guru “melek AI”, tingkat Deepen bertujuan membentuk guru yang benar-benar kompeten mengintegrasikan AI ke dalam praktik pembelajaran dan profesional mereka.

1. Mindset berpusat pada manusia (blok 1.2 – human accountability)

Pada tingkat ini, fokus bergeser dari sekadar memahami agensi manusia ke akuntabilitas manusia. Guru diharapkan:

  • memahami konsekuensi etis dan sosial jika keputusan pedagogis diserahkan sepenuhnya kepada AI;
  • menegaskan peran guru sebagai pihak yang bertanggung jawab atas keputusan akhir terkait pembelajaran dan asesmen;
  • berani menolak penggunaan AI yang mengancam martabat murid atau menggantikan ekspresi dan pemikiran mereka sendiri.

Spesifikasi menekankan pentingnya guru berada “di dalam loop keputusan” ketika AI digunakan, bukan sekadar pengamat di luar sistem.

2. Etika AI (blok 2.2 – safe and responsible use)

Di tingkat Deepen, etika tidak lagi berhenti pada pemahaman prinsip; guru diharapkan mampu:

  • mengevaluasi keamanan dan keandalan alat AI yang digunakan di sekolah;
  • mengidentifikasi risiko terhadap kelompok rentan, termasuk murid dengan disabilitas atau latar belakang sosial tertentu;
  • menerapkan strategi mitigasi ketika risiko etis ditemukan, termasuk melaporkan temuan kepada pengelola sekolah.

Contoh aktivitas: guru meninjau ulang “koleksi pribadi” alat AI yang biasa dipakai, lalu membuat daftar “white list” dan “red flag” berdasarkan kriteria keamanan, transparansi, dan kesesuaian konteks.

3. Fondasi dan aplikasi AI (blok 3.2 – application skills)

Di tingkat ini, guru diharapkan menguasai keterampilan operasional yang lebih matang, termasuk:

  • menghubungkan pemahaman konsep AI dengan praktik penggunaan alat di kelas;
  • memahami secara fungsional peran data, pemodelan, dan pelatihan dalam kinerja sebuah sistem AI;
  • menggunakan beberapa alat AI secara terpadu untuk mendukung pembelajaran dan manajemen kelas.

Spesifikasi mendorong guru untuk tidak hanya “bisa klik”, tetapi mengerti mengapa alat tersebut berperilaku tertentu, sehingga dapat mengantisipasi bias dan kesalahan.

4. Pedagogi AI (blok 4.2 – AI–pedagogy integration)

Di sinilah AI-assisted teaching naik kelas menjadi integrasi pedagogis yang sadar tujuan. Guru diharapkan mampu:

  • menggabungkan AI dengan pendekatan pembelajaran aktif, kolaboratif, atau berbasis proyek;
  • menggunakan AI untuk mendukung diferensiasi pembelajaran, termasuk bagi murid dengan kebutuhan khusus;
  • mengkritisi kelayakan penggunaan AI dalam asesmen formatif dan sumatif, serta merancang mekanisme umpan balik yang tetap menjadikan guru sebagai pihak yang bertanggung jawab.

Aktivitas yang diusulkan mencakup desain dan uji coba unit pembelajaran yang memadukan AI, kemudian refleksi bersama sejawat mengenai dampaknya terhadap kualitas interaksi guru–murid.

5. AI untuk pengembangan profesional (blok 5.2 – organizational learning)

Pada tingkat Deepen, fokus bergeser dari pembelajaran individu ke pembelajaran organisasi. Spesifikasi mengarahkan guru untuk:

  • menggunakan AI untuk menganalisis data pembelajaran dan data profesional guna mengidentifikasi kebutuhan peningkatan kapasitas di tingkat sekolah;
  • berpartisipasi dalam komunitas profesional yang memanfaatkan AI untuk berbagi praktik baik dan sumber belajar;
  • mendukung rekan sejawat dalam proses upskilling dan reskilling terkait AI.

Dengan kata lain, guru pada tingkat ini mulai berfungsi sebagai katalis pembelajaran berbasis data di komunitas profesional mereka.

Spesifikasi Tingkat Create: Guru sebagai Inovator dan Agen Perubahan

Tingkat Create adalah ruang bagi guru yang telah memiliki pemahaman kuat tentang AI dan ingin melangkah lebih jauh sebagai inovator, perumus kebijakan, dan pemimpin perubahan di komunitasnya.

1. Mindset berpusat pada manusia (blok 1.3 – social responsibilities in an AI society)

Pada tingkat ini, guru didorong untuk:

  • merefleksikan secara kritis dampak AI terhadap masyarakat, demokrasi, dunia kerja, dan relasi sosial;
  • mengembangkan cara-cara kreatif untuk menguatkan solidaritas, empati, dan kohesi sosial di tengah penetrasi AI;
  • berperan aktif sebagai warga yang memperjuangkan pemanfaatan AI demi kebaikan bersama, bukan semata kepentingan komersial.

Aktivitas yang diusulkan termasuk menulis esai atau memimpin diskusi publik tentang bagaimana pendidikan seharusnya merespons perubahan sosial yang didorong AI.

2. Etika AI (blok 2.3 – co-creating ethical rules)

Di sini, guru bukan hanya pengguna yang mematuhi aturan, tetapi co-designer aturan etis. Spesifikasi mengarahkan guru untuk:

  • terlibat dalam penyusunan pedoman etika penggunaan AI di sekolah atau di tingkat sistem;
  • bekerja sama dengan pemangku kepentingan lain (pengembang, orang tua, murid) untuk menyusun standar dan prosedur;
  • mendorong mekanisme pengaduan, pemantauan, dan perbaikan ketika terjadi penyimpangan etis.

Peran ini sangat penting agar kebijakan AI di pendidikan tidak hanya disusun oleh penyedia teknologi atau birokrat, tetapi juga oleh praktisi yang berhadapan langsung dengan murid.

3. Fondasi dan aplikasi AI (blok 3.3 – creating with AI)

Pada tingkat Create, fokus berpindah dari penggunaan alat yang sudah ada ke penciptaan solusi. Guru diharapkan:

  • mampu bekerja sama dengan pengembang atau peneliti untuk mengonfigurasi atau menggabungkan alat AI yang relevan dengan kebutuhan lokal;
  • mengusulkan dan menguji prototipe solusi AI yang mendukung pembelajaran atau manajemen sekolah;
  • menggunakan prinsip inklusivitas dan etika dalam setiap inisiatif inovatif yang melibatkan AI.

Artinya, guru tidak harus menjadi programmer, tetapi cukup memahami konsep dan alur kerja sehingga bisa menjadi “product owner” dalam inovasi berbasis AI di lingkungannya.

4. Pedagogi AI (blok 4.3 – AI-enhanced pedagogical innovation)

Blok ini mendorong guru untuk merancang pendekatan pembelajaran yang benar-benar baru, yang tidak mungkin dilakukan tanpa bantuan AI. Contohnya:

  • menggunakan AI untuk menciptakan simulasi kompleks yang memungkinkan murid mengeksplorasi skenario dunia nyata secara aman;
  • mengembangkan model asesmen yang lebih kaya, dengan kombinasi analitik AI dan refleksi naratif murid;
  • mengundang murid menjadi co-designer dalam memanfaatkan AI untuk proyek pembelajaran autentik.

Spesifikasi menekankan bahwa inovasi pedagogis ini harus tetap berlandaskan nilai kemanusiaan dan akuntabilitas guru, bukan sekadar mengejar efek “wow” teknologi.

5. AI untuk pengembangan profesional (blok 5.3 – professional transformation)

Blok terakhir menggambarkan peran guru sebagai agen transformasi profesional. Guru diharapkan:

  • menggunakan AI untuk merancang sistem pendampingan dan pelatihan yang lebih inklusif dan adaptif;
  • memimpin komunitas praktik yang berfokus pada co-creation alat AI atau strategi pembelajaran baru;
  • mendorong pembelajaran organisasi yang berkelanjutan, bukan pelatihan sesaat.

Inilah titik ketika guru tidak hanya “mengikuti” kebijakan, tetapi turut membentuk arah transformasi profesional di institusi dan bahkan di tingkat sistem.

Matriks Perbandingan Acquire, Deepen, dan Create

Untuk membantu visualisasi, berikut matriks ringkas yang membandingkan karakter umum tiap tingkat perkembangan di seluruh aspek kompetensi:

Matriks perbandingan tiga tingkat perkembangan kompetensi AI guru
TingkatFokus UtamaPeran GuruContoh Bukti Perilaku
AcquireLiterasi dasar AI, pengenalan etika, dan penggunaan terbatas dalam pembelajaran.Pengguna awal yang mulai bereksperimen secara hati-hati.Menjelaskan konsep dasar AI, mencoba satu-dua alat AI untuk persiapan materi, menulis panduan singkat penggunaan AI di kelas.
DeepenPendalaman konsep, integrasi pedagogis, dan penerapan etika secara konsisten.Praktisi kompeten yang mengintegrasikan AI dalam desain dan pelaksanaan pembelajaran.Merancang unit pembelajaran berbasis AI, meninjau bias alat, memfasilitasi diskusi sejawat tentang praktik terbaik penggunaan AI.
CreateInovasi, konfigurasi solusi, dan kontribusi terhadap kebijakan dan transformasi profesional.Agen perubahan dan co-designer kebijakan serta inovasi berbasis AI.Terlibat dalam perumusan pedoman etika, menginisiasi proyek pengembangan solusi AI, memimpin komunitas praktik AI untuk guru.

Matriks ini membantu sekolah dan lembaga pelatihan menghindari ekspektasi tidak realistis. Tidak semua guru harus langsung berada di tingkat Create; yang penting adalah adanya jalur perkembangan yang jelas dan dukungan yang konsisten.

Dari Kerangka ke Program: Menggunakan Spesifikasi untuk Desain Pelatihan

Spesifikasi di artikel keempat dokumen UNESCO sebetulnya bisa dibaca sebagai “template kurikulum” pengembangan profesional guru di bidang AI. Beberapa langkah praktis yang dapat diambil:

  1. Petakan posisi awal guru – gunakan blok kompetensi dan contoh aktivitas untuk melakukan self-assessment atau pemetaan awal di tingkat sekolah.
  2. Pilih blok prioritas – tidak semua blok harus dilatih sekaligus. Misalnya, sebuah sekolah mungkin perlu memprioritaskan etika (2.1 dan 2.2) sebelum mendorong inovasi teknis.
  3. Rancang modul berdasarkan CG dan LO – gunakan curricular goals sebagai rumusan capaian modul, dan learning objectives sebagai dasar perancangan sesi, tugas, dan asesmen.
  4. Gunakan contextual activities sebagai indikator – jadikan contoh aktivitas sebagai bukti atau artefak yang dikumpulkan guru selama dan setelah pelatihan (lesson plan, refleksi tertulis, panduan untuk sejawat, dan sebagainya).
  5. Bangun siklus perbaikan berkelanjutan – nilai kembali posisi guru setelah pelatihan, lalu rancang tahap berikutnya (misalnya dari Acquire ke Deepen) secara bertahap.

Poin pentingnya: kerangka ini bukan daftar ceklis administratif, melainkan alat desain yang fleksibel. Menyalinnya mentah-mentah ke dokumen kebijakan tanpa adaptasi konteks lokal hanya akan menghasilkan “kerangka cantik di atas kertas” tanpa dampak nyata.

Implikasi Praktis bagi Sekolah dan Lembaga Pelatihan Guru

Artikel keempat memberikan sinyal kuat bahwa pengembangan kompetensi AI guru tidak boleh bersifat ad hoc. Beberapa implikasi yang patut diperhatikan:

  • Kebijakan dan pelatihan harus sejalan – sulit meminta guru bertanggung jawab secara etis jika alat yang disediakan sekolah belum melalui proses validasi dan audit yang memadai.
  • Investasi utama ada pada manusia, bukan hanya perangkat – spesifikasi kerangka ini sangat detail di sisi kompetensi, bukan daftar belanja infrastruktur.
  • Perlu ada ruang bagi guru untuk bereksperimen – terutama di tingkat Deepen dan Create, guru membutuhkan kebebasan pedagogis yang wajar untuk mencoba pendekatan baru dengan dukungan AI.
  • Peran lembaga pendidikan guru dan penyedia pelatihan menjadi krusial – tanpa kemampuan menerjemahkan spesifikasi ini ke desain kurikulum dan praktik pembelajaran orang dewasa, kerangka akan sulit dioperasionalkan.

Di sisi lain, artikel ini juga mengingatkan bahwa guru tidak boleh dibiarkan berjalan sendirian. Tanpa dukungan institusional, tuntutan menjadi “guru kompeten AI” mudah berubah menjadi beban tambahan yang tidak adil.

Kesimpulan

Artikel keempat dalam kerangka kompetensi kecerdasan artifisial untuk guru adalah jembatan antara gagasan besar dan praktik sehari-hari. Melalui kombinasi curricular goals, learning objectives, dan contextual activities untuk tiap blok kompetensi, UNESCO memberikan panduan konkret bagaimana merancang, melaksanakan, dan menilai program pengembangan profesional guru di era AI.

Bagi sekolah dan lembaga pelatihan, tantangannya sekarang bukan lagi “apa yang harus dilakukan?”, tetapi “bagaimana menyesuaikan spesifikasi ini dengan konteks lokal dan menjadikannya bagian dari strategi jangka panjang pengembangan guru?”. Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan apakah AI di pendidikan hanya menjadi tren sesaat, atau benar-benar membantu memuliakan profesi guru dan memperkuat hak belajar murid.

Artikel ini menutup rangkaian pemahaman tentang struktur dan spesifikasi kerangka. Langkah berikutnya yang logis adalah menyusun rencana implementasi: kebijakan, mekanisme validasi alat, desain program pelatihan, dan instrumen asesmen yang selaras dengan semangat kerangka, bukan hanya menempelkan label “AI-ready” pada institusi tanpa perubahan nyata.

Sumber / Referensi

  • https://doi.org/10.54675/ZJTE2084
  • https://www.unesco.org/en/digital-education/ai
  • https://www.unesco.org/en/open-access/cc-sa
  • https://ictcft.unesco.org/
  • https://www.unesco.org/en/artificial-intelligence/recommendation-ethics

Share the Post:

Related Posts