Kerangka Kompetensi Kecerdasan Artifisial untuk Siswa #3 Spesifikasi Kompetensi

Artikel ini mengulas bagaimana kerangka kompetensi AI untuk siswa menerjemahkan konsep menjadi spesifikasi praktis: tujuan kurikuler, metode pengajaran, dan lingkungan belajar yang perlu disiapkan sekolah di tiga level kompetensi (Memahami, Menerapkan, Mencipta).

Dua artikel sebelumnya telah membahas latar belakang, prinsip, dan struktur kerangka kompetensi kecerdasan buatan untuk siswa. Pertama, mengapa siswa membutuhkan kerangka kompetensi AI. Kedua, bagaimana kerangka itu disusun dalam empat aspek dan tiga level progresi. Pertanyaan berikutnya cukup sederhana tetapi sangat praktis: apa yang sebenarnya harus dilakukan sekolah dan guru di kelas?

Chapter 4 dalam dokumen AI Competency Framework for Students mencoba menjawab pertanyaan tersebut secara konkret. Bagian ini tidak lagi hanya berbicara tentang konsep, tetapi memaparkan spesifikasi kompetensi: apa yang diharapkan dari siswa, bagaimana tujuan kurikuler dirumuskan, metode pengajaran apa yang disarankan, dan lingkungan belajar seperti apa yang perlu disiapkan. Singkatnya, ini adalah bagian yang menghubungkan teori dengan praktik.

Artikel ketiga ini merangkum isi Chapter 4 dengan fokus pada tiga hal utama: pertama, bagaimana spesifikasi disusun di tiga level kompetensi (Memahami, Menerapkan, Mencipta); kedua, bagaimana empat aspek kerangka (cara pandang berpusat pada manusia, etika, teknik dan aplikasi, desain sistem) diterjemahkan ke dalam tujuan kurikuler dan strategi pembelajaran; dan ketiga, apa implikasinya bagi sekolah yang ingin mulai mengadopsi kerangka ini secara realistis.

Daftar Isi


Gambaran Umum Spesifikasi Kompetensi AI untuk Siswa

Chapter 4 menjelaskan bahwa kompetensi AI siswa bukan hanya hasil satu mata pelajaran, tetapi buah dari berbagai jenis pembelajaran: kurikuler (dalam struktur resmi), kokurikuler (klub, proyek, lomba), dan informal (media sosial, gim, konten digital). Karena itu, spesifikasi kompetensi dirancang fleksibel agar dapat diadaptasi sesuai:

  • tingkat kesiapan AI negara atau institusi,
  • waktu pembelajaran yang tersedia,
  • kapasitas guru dan infrastruktur,
  • konteks sosial dan budaya peserta didik.

Secara garis besar, setiap blok kompetensi di dalam kerangka memiliki empat komponen:

  1. Student competency: kemampuan, pengetahuan, dan sikap yang diharapkan dimiliki siswa.
  2. Curricular goals: tujuan kurikuler yang membantu perencana kurikulum menerjemahkannya ke dalam hasil belajar.
  3. Suggested pedagogical methods: metode pengajaran yang disarankan, disertai contoh aktivitas.
  4. Learning environments: kondisi dan sumber daya belajar yang ideal, mulai dari alat sederhana hingga fasilitas yang lebih canggih.

Spesifikasi dibagi ke dalam tiga bagian utama: level 1 (Memahami), level 2 (Menerapkan), dan level 3 (Mencipta). Di setiap level, empat aspek kerangka (cara pandang berpusat pada manusia, etika, teknik dan aplikasi, desain sistem) diurai dalam blok kompetensi yang saling melengkapi. Dengan demikian, sekolah dapat memilih kombinasi blok yang relevan dengan konteksnya, tanpa kehilangan benang merah kerangka secara keseluruhan.

Spesifikasi Level 1: Memahami

Level pertama bertujuan membangun fondasi konseptual dan kesadaran etis tentang kecerdasan buatan. Fokusnya bukan membuat siswa langsung “ngoding AI”, tetapi memastikan mereka mengerti bahwa:

  • AI dirancang dan diputuskan oleh manusia,
  • AI membawa manfaat dan risiko,
  • AI perlu dipahami sebelum digunakan secara luas.

Tujuan Kurikuler Level Memahami

Di level ini, untuk setiap aspek kerangka, Chapter 4 menawarkan contoh tujuan kurikuler. Secara ringkas, beberapa garis besarnya sebagai berikut.

  • Cara pandang berpusat pada manusia (Human agency)
    Siswa diharapkan mampu mengenali bahwa:
    • AI adalah teknologi yang dirancang dan dikendalikan manusia, bukan entitas yang berdiri sendiri.
    • Keputusan perancang dan pengembang AI memengaruhi bagaimana AI berdampak pada kehidupan manusia dan hak asasi.
    • Manusia tetap bertanggung jawab terhadap keputusan yang melibatkan AI, terutama ketika menyangkut keamanan, keadilan, dan martabat manusia.
  • Etika kecerdasan buatan
    Siswa diperkenalkan pada nilai dan prinsip seperti:
    • Do no harm: tidak merugikan, melanggar hak, atau membahayakan orang lain.
    • Proporsionalitas: menimbang manfaat dan risiko penggunaan AI di suatu konteks.
    • Non diskriminasi: menyadari potensi bias dan dampaknya terhadap kelompok tertentu.
    • Transparansi dan akuntabilitas: hak untuk memahami secara wajar bagaimana AI bekerja dan siapa yang bertanggung jawab atas keputusannya.
  • Teknik dan dasar-dasar AI
    Tujuan di sini adalah membangun AI literacy dasar:
    • Memahami konsep sederhana tentang data, pola, dan algoritme.
    • Melihat contoh bagaimana sistem AI belajar dari data (misalnya pengenalan pola gambar atau rekomendasi konten).
    • Menyadari bahwa AI bersifat multidisipliner: terkait matematika, sains, teknologi, ilmu sosial, dan bahasa.
  • Desain sistem AI dan perumusan masalah
    Siswa diajak memahami bahwa:
    • Setiap sistem AI berangkat dari definisi masalah yang jelas.
    • Masalah yang kabur akan menghasilkan solusi AI yang tidak efektif atau bahkan berbahaya.
    • Penting untuk menanyakan: “Apakah masalah ini memang perlu AI?” sebelum memilih solusi.

Pendekatan Pedagogis dan Lingkungan Belajar di Level Memahami

Chapter 4 merekomendasikan pendekatan pedagogis yang dekat dengan pengalaman siswa dan tidak selalu bergantung pada teknologi canggih. Beberapa ide yang ditawarkan antara lain:

  • Pembelajaran berbasis kasus (case-based)
    Guru menggunakan contoh nyata: sistem rekomendasi video, filter foto, aplikasi navigasi, atau konten media sosial. Dari kasus tersebut, siswa diajak mendiskusikan:
    • Siapa yang merancang sistem ini?
    • Data apa yang dikumpulkan?
    • Siapa yang diuntungkan, siapa yang mungkin dirugikan?
  • Refleksi terarah
    Siswa dapat diminta menulis jurnal singkat tentang pengalaman mereka dengan AI: kapan merasa terbantu, kapan merasa tidak nyaman, kapan merasa “diawasi” oleh algoritma. Guru membantu menghubungkan refleksi tersebut dengan konsep etika dan hak digital.
  • Aktivitas unplugged dan low-tech
    Tidak semua sekolah memiliki laboratorium komputer lengkap. Karena itu, Chapter 4 menyarankan penggunaan:
    • Simulasi manual proses “belajar dari data” menggunakan kartu, gambar, atau benda di kelas.
    • Permainan peran di mana siswa berperan sebagai “algoritme” yang harus membuat keputusan berdasarkan aturan tertentu.
    • Diskusi kelompok kecil dengan kertas kerja atau poster, bukan selalu komputer.

Lingkungan belajar yang direkomendasikan di level ini juga relatif sederhana:

  • Ruang kelas biasa dengan papan tulis, kertas, dan alat tulis.
  • Perangkat yang sudah umum seperti telepon genggam atau tablet (bila ada), untuk mengamati contoh aplikasi AI.
  • Video pendek atau materi visual lain yang menunjukkan cara kerja sistem AI secara ilustratif.

Pesannya jelas: fondasi pemahaman AI tidak harus mahal. Yang lebih penting adalah desain aktivitas yang memantik rasa ingin tahu dan kemampuan refleksi siswa.

Spesifikasi Level 2: Menerapkan

Level kedua berfokus pada kemampuan siswa untuk menggunakan AI secara bermakna dan bertanggung jawab dalam konteks nyata. Di sini, AI tidak lagi hanya diamati, tetapi mulai dipakai untuk menyelesaikan tugas, menganalisis data, atau mendukung pengambilan keputusan.

Tujuan Kurikuler Level Menerapkan

Pada level ini, tujuan kurikuler di masing-masing aspek bergeser dari sekadar mengenali ke arah kemampuan penggunaan dan pengambilan keputusan.

  • Cara pandang berpusat pada manusia
    Siswa diharapkan mampu:
    • Menggunakan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti pengambilan keputusan manusia.
    • Membedakan situasi di mana saran AI perlu diterima, ditolak, atau dikombinasikan dengan penilaian manusia.
    • Memahami bahwa tanggung jawab akhir tetap berada pada manusia, bukan sepenuhnya pada sistem otomatis.
  • Etika dan regulasi AI
    Tujuan pada level ini antara lain:
    • Membantu siswa memahami peraturan dasar terkait data pribadi, konten berbahaya, dan hak cipta.
    • Melatih siswa mengenali risiko misinformasi, ujaran kebencian, atau penyalahgunaan data yang mungkin difasilitasi AI.
    • Mendorong siswa untuk menerapkan prinsip etis dalam penggunaan AI sehari-hari, misalnya saat membuat konten atau berbagi data.
  • Teknik dan aplikasi AI
    Siswa mulai:
    • Menggunakan alat AI untuk tugas-tugas sederhana: pengelompokan data, pencarian pola, atau pemrosesan teks dan gambar.
    • Mengenal pustaka atau alat AI yang bebas dan/atau sumber terbuka yang dapat digunakan di sekolah.
    • Mengembangkan pemahaman bahwa kualitas data dan cara penggunaan alat menentukan kualitas hasil.
  • Desain sistem dan implementasi
    Tujuan di sini adalah agar siswa:
    • Dapat merancang alur sederhana bagaimana sebuah sistem AI bekerja, mulai dari input hingga output.
    • Mampu berkontribusi dalam menyusun kriteria evaluasi sistem (misalnya, apa arti “hasil yang baik” atau “adil”).
    • Menyadari keterbatasan alat dan kebutuhan untuk menguji sistem di berbagai skenario.

Pendekatan Pedagogis dan Lingkungan Belajar di Level Menerapkan

Pada level menerapkan, Chapter 4 mendorong penggunaan tugas berbasis proyek dan kegiatan praktis yang menempatkan AI sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar objek teori.

  • Project-based learning
    Siswa dapat diajak:
    • Menggunakan alat AI sederhana untuk menganalisis data survei kelas (misalnya preferensi bacaan atau pola belajar).
    • Mengevaluasi rekomendasi aplikasi (film, musik, berita) dan mengkaji apakah rekomendasi tersebut adil dan relevan.
    • Menyusun presentasi tentang bagaimana AI digunakan di bidang tertentu (kesehatan, transportasi, pendidikan) dan dampaknya.
  • Tugas autentik lintas mata pelajaran
    Contoh:
    • Di pelajaran sains, siswa menggunakan alat AI untuk mengelompokkan gambar spesies tumbuhan atau hewan.
    • Di pelajaran bahasa, siswa mengevaluasi terjemahan otomatis dan mendiskusikan kekuatan dan kelemahannya.
    • Di pelajaran IPS, siswa menganalisis bagaimana algoritma dapat memengaruhi opini publik.
  • Diskusi terarah tentang konsekuensi penggunaan
    Setelah menggunakan alat AI, siswa diminta menjawab pertanyaan seperti:
    • Seberapa akurat hasilnya?
    • Apakah ada kelompok yang mungkin dirugikan jika hasil ini digunakan untuk mengambil keputusan?
    • Data tambahan apa yang dibutuhkan untuk membuat keputusan yang lebih adil?

Untuk lingkungan belajar, level ini idealnya didukung oleh:

  • Laboratorium komputer atau akses ke perangkat bersama.
  • Akses internet yang memadai untuk menggunakan alat AI daring atau pustaka sumber terbuka.
  • Lingkungan “aman untuk mencoba”, di mana kesalahan dipandang sebagai bagian dari proses belajar.

Tidak semua sekolah akan memiliki infrastruktur lengkap. Karena itu, Chapter 4 menekankan pentingnya kreativitas dalam memanfaatkan sumber yang ada, misalnya menggunakan layanan AI gratis dengan batas wajar atau bekerja sama dengan institusi lain (universitas, komunitas) untuk mendapatkan akses sumber daya.

Spesifikasi Level 3: Mencipta

Level ketiga merupakan tahap di mana siswa berperan sebagai co-creator. Mereka tidak hanya menggunakan AI, tetapi mulai terlibat dalam proses perancangan, penyesuaian, dan evaluasi sistem AI. Tentu, lingkupnya tetap disesuaikan dengan usia, kemampuan, dan fasilitas yang tersedia.

Tujuan Kurikuler Level Mencipta

Pada level ini, tujuan kurikuler bergerak ke arah:

  • Cara pandang berpusat pada manusia
    Siswa:
    • Merefleksikan dampak jangka panjang adopsi AI dalam masyarakat.
    • Mengembangkan visi tentang “masyarakat yang diinginkan” di era AI, termasuk aspek keadilan, inklusi, dan keberlanjutan.
    • Menguatkan identitas sebagai warga yang mampu memengaruhi arah penggunaan teknologi, bukan hanya mengikutinya.
  • Etika dan tata kelola AI
    Siswa dilatih untuk:
    • Mengkaji regulasi atau pedoman etis yang berlaku di berbagai sektor dan negara.
    • Mengembangkan kriteria sendiri (berbasis prinsip) untuk menilai apakah sebuah sistem AI layak diadopsi.
    • Mengevaluasi dan memperbaiki prototipe AI yang mereka kembangkan agar sejalan dengan nilai dan aturan yang disepakati.
  • Teknik dan aplikasi AI tingkat lanjut
    Tentu bukan pada level insinyur profesional, tetapi siswa:
    • Mendalami konsep data dan algoritme sehingga dapat menyesuaikan atau menggabungkan alat yang sudah ada.
    • Memahami proses pelatihan model pada skala yang sesuai (contoh: model klasifikasi sederhana).
    • Mengembangkan keterampilan debugging, pengujian, dan dokumentasi yang baik.
  • Desain sistem dan siklus hidup AI
    Siswa:
    • Merancang alur kerja dan arsitektur sederhana sistem AI, termasuk aliran data, modul pemrosesan, dan antarmuka pengguna.
    • Melakukan pengujian sistem di berbagai skenario dan membaca hasil pengujian tersebut.
    • Membuat keputusan tentang kapan sebuah sistem perlu dimodifikasi, dikurangi ruang lingkupnya, atau bahkan dihentikan penggunaannya.

Pendekatan Pedagogis dan Lingkungan Belajar di Level Mencipta

Chapter 4 menekankan bahwa level mencipta memerlukan pengalaman belajar yang lebih mendalam dan jangka panjang. Beberapa pendekatan yang disarankan antara lain:

  • Proyek jangka panjang
    Siswa bekerja dalam tim untuk:
    • Mengidentifikasi masalah autentik di komunitasnya (misalnya pengelolaan sampah, transportasi lokal, atau kesehatan sekolah).
    • Menentukan bagian mana yang relevan untuk menggunakan AI dan bagian mana yang lebih baik ditangani manusia.
    • Merancang dan menguji prototipe solusi yang menggabungkan AI, sambil mencatat dampaknya terhadap pengguna.
  • Kolaborasi lintas institusi
    Bila memungkinkan, sekolah:
    • Bekerja sama dengan perguruan tinggi, industri, atau komunitas pembelajar untuk mendapatkan bimbingan teknis.
    • Mengikutsertakan siswa dalam kegiatan seperti hackathon, kompetisi, atau laboratorium inovasi.
    • Membangun ekosistem mentor di mana siswa lebih berpengalaman dapat membantu teman sebaya.
  • Penekanan pada dokumentasi dan refleksi
    Siswa tidak hanya mengerjakan proyek, tetapi juga:
    • Mendokumentasikan keputusan desain dan alasan di baliknya.
    • Merefleksikan aspek etis di setiap tahap: pemilihan data, desain antarmuka, dampak sosial.
    • Mempresentasikan proyek mereka kepada audiens yang lebih luas dan membuka ruang untuk kritik konstruktif.

Dari sisi lingkungan belajar, level mencipta idealnya didukung oleh:

  • Akses ke komputer dengan kemampuan memadai dan, bila mungkin, sumber daya komputasi awan (cloud) berskala kecil.
  • Perangkat lunak pengembangan (IDE, notebook interaktif, pustaka AI sumber terbuka).
  • Platform kolaborasi dan pengelolaan versi (misalnya sistem serupa dengan repositori kode) untuk mendukung kerja tim.

Namun, esensinya bukan sekadar alat teknis. Lingkungan belajar di level ini harus:

  • Memberikan ruang eksperimen dan kegagalan yang aman.
  • Mendorong budaya umpan balik dan perbaikan berkelanjutan.
  • Menjaga agar diskusi tentang nilai, etika, dan dampak sosial tetap berjalan bersamaan dengan pengembangan teknis.

Matriks Perbandingan Level Memahami, Menerapkan, dan Mencipta

Untuk membantu sekolah dan guru memetakan perbedaan ketiga level progresi, berikut tabel ringkas yang membandingkan fokus kompetensi, contoh tujuan kurikuler, strategi pedagogis dominan, dan kebutuhan lingkungan belajar di setiap level.

AspekLevel MemahamiLevel MenerapkanLevel Mencipta
Fokus kompetensiKesadaran, pengenalan konsep dasar, dan refleksi awal tentang dampak AI.Penggunaan AI secara praktis dan bertanggung jawab untuk tugas nyata.Perancangan, penyesuaian, dan evaluasi sistem AI secara etis dan kreatif.
Contoh tujuan kurikulerMenjelaskan bahwa AI dirancang manusia, mengenali contoh bias, memahami konsep data dan algoritme secara sederhana.Menggunakan alat AI untuk menganalisis data, mengevaluasi rekomendasi, dan mengambil keputusan dengan mempertimbangkan etika.Merancang prototipe solusi berbasis AI, menguji dan memperbaiki sistem, serta menilai dampak sosial dan lingkungan.
Strategi pedagogis utamaDiskusi kasus, refleksi, aktivitas unplugged, ilustrasi visual.Proyek lintas mata pelajaran, tugas autentik, simulasi penggunaan AI dalam konteks nyata.Proyek jangka panjang, kolaborasi lintas institusi, dokumentasi dan presentasi publik.
Lingkungan belajarRuang kelas dengan alat sederhana; video atau materi visual; perangkat dasar bila ada.Laboratorium komputer atau perangkat bersama; akses internet dan alat AI sumber terbuka; budaya aman untuk mencoba.Perangkat dengan kemampuan lebih tinggi; alat pengembangan AI; platform kolaborasi; ekosistem mentor dan mitra eksternal.
Orientasi nilaiMengenali nilai dasar (keadilan, non diskriminasi, privasi, tanggung jawab).Menerapkan nilai tersebut dalam penggunaan AI sehari-hari dan tugas proyek.Menanamkan nilai dalam desain sistem, termasuk evaluasi dan mitigasi dampak negatif.

Matriks ini dapat menjadi alat komunikasi yang efektif ketika sekolah berdiskusi dengan guru, orang tua, dan pemangku kepentingan tentang target kompetensi di tiap jenjang. Misalnya, sekolah dapat memutuskan bahwa pada akhir pendidikan dasar, semua siswa setidaknya berada pada ujung atas level memahami dan mulai memasuki level menerapkan, sementara program peminatan di pendidikan menengah menargetkan capaian level mencipta.

Implikasi Praktis bagi Sekolah dan Guru

Spesifikasi yang dirinci dalam Chapter 4 menunjukkan bahwa implementasi kerangka kompetensi AI tidak bisa dilakukan secara instan. Ada beberapa implikasi praktis yang perlu dipertimbangkan.

  • Perencanaan lintas jenjang
    Sekolah perlu memetakan:
    • blok kompetensi mana yang realistis untuk dicapai di setiap jenjang usia,
    • bagaimana siswa bergerak dari memahami ke menerapkan, dan dari menerapkan ke mencipta,
    • mata pelajaran mana yang dapat menjadi “kendaraan” untuk menyisipkan kompetensi AI.
  • Pengembangan kapasitas guru
    Spesifikasi di Chapter 4 secara implisit mengandung tuntutan baru pada guru:
    • memahami konsep dasar dan isu etika AI,
    • nyaman memfasilitasi diskusi nilai dan dilema, bukan hanya mengajarkan prosedur teknis,
    • mampu merancang tugas dan proyek yang memadukan konten mata pelajaran dengan kompetensi AI.

    Ini berarti diperlukan program pelatihan dan komunitas belajar guru yang berkelanjutan.

  • Pengelolaan infrastruktur dan kemitraan
    Beberapa aspek, terutama di level mencipta, membutuhkan:
    • akses komputasi dan perangkat lunak tertentu,
    • dukungan kebijakan terkait keamanan data dan penggunaan platform daring,
    • kemitraan dengan pihak luar (universitas, industri, komunitas teknologi) untuk memperkuat ekosistem.

    Namun, Chapter 4 mengingatkan bahwa banyak aktivitas awal dapat dilakukan dengan sumber daya minimal, selama desain pembelajaran kreatif dan reflektif.

  • Integrasi dengan kebijakan dan budaya sekolah
    Spesifikasi kompetensi tidak bisa berdiri sendiri jika:
    • kebijakan sekolah tentang penggunaan perangkat digital tidak selaras,
    • budaya sekolah tidak mendukung diskusi kritis dan keberagaman perspektif,
    • aspek perlindungan data dan keamanan siswa belum diatur dengan jelas.

    Oleh karena itu, implementasi kerangka kompetensi AI perlu dipandang sebagai bagian dari strategi digital dan kebijakan pendidikan sekolah secara keseluruhan.

Kesimpulan: Menyusun Rencana Implementasi yang Realistis

Chapter 4 dalam kerangka kompetensi AI untuk siswa membawa diskusi keluar dari tataran konsep dan masuk ke wilayah yang paling menantang: bagaimana melakukannya di lapangan. Dengan merinci kompetensi ke dalam tujuan kurikuler, metode pengajaran, dan lingkungan belajar untuk tiga level progresi, UNESCO memberi panduan yang dapat diadaptasi oleh berbagai konteks pendidikan di dunia.

Bagi sekolah, tantangannya adalah menyusun rencana implementasi yang realistis: dimulai dari fondasi pemahaman di seluruh jenjang, lalu secara bertahap memperluas ke penggunaan praktis dan, bagi yang siap, ke pengalaman penciptaan sistem AI. Bagi guru, tantangannya adalah mengintegrasikan kompetensi AI ke dalam identitas profesional mereka, bukan sebagai beban tambahan, tetapi sebagai peluang untuk memperkaya pembelajaran dan menyiapkan siswa menghadapi masa depan.

Pada akhirnya, spesifikasi kompetensi dalam Chapter 4 mengingatkan bahwa AI bukan hanya urusan teknologi. Ini adalah soal bagaimana kita membentuk generasi yang mampu memanfaatkan kecerdasan buatan dengan kecerdasan manusia yang lebih besar: berpikir kritis, berempati, dan bertanggung jawab terhadap sesama dan planet ini. Artikel berikutnya dapat menggali lebih jauh contoh konkret perumusan hasil belajar dan rubrik penilaian yang selaras dengan kerangka ini, sehingga sekolah memiliki gambaran yang semakin jelas tentang langkah-langkah implementasi berikutnya.

Sumber / Referensi

  • https://www.unesco.org/en/articles/ai-competency-framework-students
  • https://unesdoc.unesco.org/
Share the Post:

Related Posts