CAPEX dan OPEX: Mengapa Keduanya Sangat Penting dalam Sistem Akuntansi Modern?

Capital Expenditure (CAPEX) dan Operating Expenditure (OPEX) bukan sekadar istilah teknis di laporan keuangan. Pemahaman yang benar atas keduanya memengaruhi cara perusahaan berinvestasi, menyusun anggaran, menilai profitabilitas, hingga dinilai oleh investor. Artikel ini membahas CAPEX dan OPEX dari sudut pandang teori akuntansi dan best practice, serta risiko yang muncul ketika perusahaan tidak membedakannya dengan benar.

Dalam praktik, banyak organisasi — termasuk sekolah, yayasan, dan perusahaan — mencatat semua pengeluaran sebagai “biaya” tanpa membedakan mana yang seharusnya diklasifikasikan sebagai investasi jangka panjang (CAPEX) dan mana yang merupakan biaya operasional harian (OPEX). Padahal standar akuntansi dan literatur manajemen keuangan menekankan bahwa pemisahan ini sangat penting untuk:

  • menyajikan laporan keuangan yang wajar,
  • mengelola cash flow dan anggaran,
  • mengukur kinerja secara akurat, dan
  • mendukung pengambilan keputusan investasi jangka panjang.

Secara garis besar, CAPEX adalah pengeluaran untuk memperoleh atau meningkatkan aset jangka panjang yang memberikan manfaat lebih dari satu periode akuntansi, sedangkan OPEX adalah pengeluaran harian untuk menjalankan bisnis.
Standar seperti IAS 16 (Property, Plant and Equipment) dan IAS 38 (Intangible Assets) memberikan kriteria kapan suatu pengeluaran boleh dikapitalisasi sebagai aset (CAPEX) dan kapan harus langsung dibebankan sebagai Expense (OPEX).

Definisi Akuntansi CAPEX dan OPEX

Capital Expenditure (CAPEX)

CAPEX adalah pengeluaran yang digunakan untuk memperoleh, membangun, atau meningkatkan aset jangka panjang seperti gedung, mesin, kendaraan, sistem IT, maupun aset tidak berwujud seperti software atau lisensi tertentu. Pengeluaran ini memberikan manfaat ekonomi lebih dari satu tahun.

Dalam kerangka IFRS, pengeluaran dapat dikapitalisasi sebagai aset tetap jika:

  • kemungkinan besar manfaat ekonomis masa depan akan mengalir ke entitas, dan
  • biaya perolehan dapat diukur secara andal.

Contoh umum CAPEX:

  • pembangunan gedung sekolah atau kantor baru,
  • pembelian mesin produksi, kendaraan operasional, peralatan lab,
  • pembangunan jaringan infrastruktur IT,
  • pembelian lisensi software jangka panjang atau pengembangan sistem informasi internal yang memenuhi kriteria kapitalisasi.

Operating Expenditure (OPEX)

OPEX adalah biaya yang diperlukan untuk menjalankan operasi sehari-hari, dengan manfaat yang umumnya hanya berlangsung dalam satu periode akuntansi.

Contoh OPEX:

  • gaji dan tunjangan pegawai,
  • listrik, air, internet, dan utilities lain,
  • sewa kantor, sewa peralatan,
  • biaya pemeliharaan ringan, bahan habis pakai, ATK,
  • biaya pemasaran, pelatihan rutin, dan biaya administrasi lain.

Secara akuntansi, OPEX dibebankan langsung ke laporan laba rugi pada periode terjadinya, sehingga langsung mengurangi laba tahun berjalan.

Perbedaan Perlakuan Akuntansi dan Dampaknya pada Laporan Keuangan

Perbedaan utama CAPEX dan OPEX bukan hanya pada jangka waktu manfaat, tetapi juga cara pengakuan (recognition) dan pengukurannya di laporan keuangan:

  • CAPEX → dicatat sebagai aset di Neraca, kemudian dialokasikan sebagai biaya (depresiasi/amortisasi) selama umur manfaatnya.
  • OPEX → langsung dicatat sebagai Expense di Laporan Laba Rugi pada periode terjadinya.

Literatur manajemen keuangan menegaskan bahwa CAPEX menambah nilai pada Balance Sheet, sedangkan OPEX langsung memengaruhi profitabilitas jangka pendek (operating profit).

Dampak pada laba rugi dan neraca

Jika suatu pengeluaran yang seharusnya CAPEX diperlakukan sebagai OPEX, laba tahun berjalan akan lebih rendah (karena seluruh biaya dibebankan langsung), tetapi aset di Neraca menjadi understated. Sebaliknya, jika pengeluaran yang seharusnya OPEX dikapitalisasi sebagai CAPEX, laba jangka pendek terlihat lebih tinggi, tetapi diikuti beban depresiasi di masa depan dan potensi impairment.

Standar akuntansi dan panduan best practice menekankan pentingnya konsistensi dalam menerapkan kriteria kapitalisasi, terutama untuk aset tetap dan aset tidak berwujud.

Dampak pada cash flow dan KPI

Dari sisi cash flow, baik CAPEX maupun OPEX sama-sama mengeluarkan kas, tetapi dilaporkan di bagian berbeda dalam laporan arus kas:

  • CAPEX → biasanya tercermin di arus kas aktivitas investasi.
  • OPEX → berada di arus kas aktivitas operasi.

Pemisahan ini penting untuk analisis indikator seperti free cash flow dan operating margin. Artikel keuangan menekankan bahwa identifikasi CapEx dan OpEx yang tepat sangat mendukung perhitungan metrik kinerja seperti EBITDA, ROI, dan margin operasi.

CAPEX, OPEX, dan Peran Chart of Accounts

Dalam desain Chart of Accounts (COA), pengelompokan CAPEX dan OPEX seharusnya tercermin dengan jelas di level account type dan klasifikasi:

  • Akun-akun CAPEX akan bernaung di bawah kelompok Asset (Property, Plant and Equipment; Intangible Assets; dsb.) dengan normal balance Credit atau Debit yang sesuai (umumnya Debit untuk aset, Credit untuk kontra-aset seperti akumulasi depresiasi).
  • Akun-akun OPEX berada di kelompok Expense (operating expense, administrative expense, selling expense, dsb.) dengan normal balance Debit.

Jika COA tidak dirancang dengan memisahkan akun-akun terkait CAPEX dan OPEX, sistem akuntansi akan kesulitan:

  • menghasilkan laporan CAPEX vs OPEX,
  • menghubungkan CAPEX ke modul aset tetap (fixed asset module),
  • menyusun laporan anggaran (capital budget vs operating budget).

Mengapa Penting Membedakan CAPEX dan OPEX?

Dari sudut pandang teori akuntansi dan best practice manajemen keuangan, setidaknya ada lima alasan utama mengapa pemisahan CAPEX dan OPEX kritikal.

1. Kepatuhan terhadap standar akuntansi

IFRS dan US GAAP mensyaratkan entitas untuk mengklasifikasikan pengeluaran secara tepat karena perlakuan akuntansinya berbeda.
Pengeluaran yang memenuhi kriteria aset harus dikapitalisasi; pengeluaran yang tidak memenuhi harus dibebankan. Kesalahan klasifikasi dapat menyebabkan laporan keuangan tidak lagi menyajikan posisi keuangan “secara wajar”, dan berpotensi menimbulkan temuan audit.

2. Kualitas informasi untuk pengambilan keputusan

Manajemen membutuhkan informasi yang jelas tentang:

  • berapa besar biaya rutin untuk menjalankan operasi (OPEX), dan
  • berapa besar investasi jangka panjang yang sedang dan akan dilakukan (CAPEX).

Tanpa pemisahan yang jelas, board of directors dan manajemen akan sulit menilai:

  • apakah biaya operasional terlalu besar,
  • apakah perusahaan under-invested atau over-invested dalam aset tetap,
  • bagaimana dampak investasi terhadap produktivitas dan pertumbuhan masa depan.

3. Penyusunan anggaran (capital budget vs operating budget)

Banyak literatur keuangan membedakan operating budget untuk biaya operasional harian dan capital budget untuk investasi jangka panjang.
Tanpa memahami CAPEX dan OPEX, organisasi akan:

  • mencampur pengeluaran investasi dengan biaya rutin,
  • kesulitan merencanakan kebutuhan pendanaan jangka panjang (misalnya pendanaan pinjaman untuk proyek gedung baru),
  • tidak memiliki baseline yang jelas untuk mengevaluasi realisasi CAPEX vs OPEX terhadap budget.

4. Analisis kinerja, rasio, dan valuasi

Investor dan analis keuangan memonitor CAPEX dan OPEX untuk menilai:

  • profitabilitas jangka pendek (operating margin, EBITDA),
  • intensitas investasi (CAPEX to Sales, CAPEX to Depreciation),
  • return on investment (ROI, ROA, ROIC).

Kesalahan klasifikasi akan merusak kualitas rasio ini dan dapat mengakibatkan penilaian yang keliru atas kinerja manajemen.

5. Perencanaan pajak dan cash flow

Secara umum, OPEX dapat dikurangkan secara penuh pada tahun terjadinya, sementara CAPEX dikurangkan secara bertahap melalui depresiasi atau amortisasi.
Pemahaman yang tepat atas CAPEX/OPEX membantu:

  • merencanakan beban pajak di masa depan,
  • mengelola cash flow agar investasi tidak mengganggu kemampuan memenuhi kewajiban jangka pendek,
  • mengoptimalkan kombinasi skema pembiayaan (kas, pinjaman, leasing, dsb.).

Risiko Jika Perusahaan Tidak Memahami dan Tidak Menggunakan Konsep CAPEX/OPEX

Apa yang terjadi jika perusahaan menganggap CAPEX dan OPEX “sama saja” dan tidak menerapkan pemisahan yang sistematis?

1. Laporan keuangan yang menyesatkan

Jika semua pengeluaran dicatat sebagai OPEX:

  • laba jangka pendek tampak lebih rendah,
  • aset di Neraca menjadi understated,
  • nilai perusahaan tampak lebih kecil dari kenyataan.

Sebaliknya, jika terlalu banyak pengeluaran yang dikapitalisasi:

  • laba jangka pendek tampak lebih tinggi dari yang seharusnya,
  • beban depresiasi di masa depan membengkak,
  • risiko impairment aset meningkat ketika investasi tidak menghasilkan manfaat sesuai ekspektasi.

2. Sulit membedakan masalah operasional vs masalah investasi

Tanpa pemisahan CAPEX/OPEX, manajemen akan kesulitan menjawab pertanyaan:

  • Apakah margin turun karena biaya operasional membengkak, atau karena ada investasi besar yang dibebankan sekaligus?
  • Apakah cash flow sedang tertekan karena operasi yang tidak efisien, atau karena ada proyek pembangunan besar?

Ketiadaan jawaban yang jelas membuat respon manajemen sering tidak tepat sasaran: memotong biaya training (operasional) padahal masalah utama adalah proyek investasi yang over budget, misalnya.

3. Budgeting kacau dan sulit diaudit

Jika CAPEX dan OPEX tidak dipisahkan dalam anggaran:

  • budget cenderung tidak stabil dari tahun ke tahun,
  • perbandingan antar tahun (year-on-year) sulit dilakukan karena bercampurnya biaya investasi dan biaya rutin,
  • auditor akan kesulitan menelusuri apakah pengeluaran besar telah diklasifikasikan dan didokumentasikan dengan benar.

4. Konflik internal antara Finance, Procurement, dan Operasional

Ketika tidak ada kebijakan jelas tentang CAPEX dan OPEX, keputusan pengadaan menjadi rawan konflik:

  • Bagian operasional menganggap semua kebutuhan “mendesak dan rutin”,
  • Bagian Finance menolak atau menunda karena melihat dampaknya pada cash flow dan rasio keuangan,
  • Manajemen puncak menerima laporan yang tidak konsisten antara biaya proyek dan biaya operasional.

Dalam jangka panjang, ini menurunkan kepercayaan pada sistem akuntansi dan membuat proses pengambilan keputusan menjadi politis, bukan berbasis data.

Best Practice Desain Kebijakan CAPEX dan OPEX

Agar konsep CAPEX dan OPEX tidak hanya menjadi teori, organisasi perlu memiliki kebijakan formal dan menerapkannya secara disiplin. Beberapa best practice yang banyak dianjurkan:

1. Kebijakan kapitalisasi yang terdokumentasi

Susun kebijakan tertulis yang menjawab pertanyaan:

  • Pengeluaran seperti apa yang dikategorikan sebagai CAPEX?
  • Apa batas minimum nilai (capitalization threshold) untuk pengeluaran yang boleh dikapitalisasi?
  • Bagaimana perlakuan biaya yang terkait proyek (misalnya biaya konsultan, training awal, instalasi)?

Kebijakan ini harus selaras dengan standar seperti IAS 16 dan IAS 38, dan mempertimbangkan area abu-abu seperti cloud computing dan software development modern.

2. Struktur COA yang mendukung CAPEX/OPEX

Pastikan COA dirancang sehingga:

  • akun-akun CAPEX dan OPEX terpisah jelas di level Account Type dan kelompok utama,
  • ada akun khusus untuk akumulasi CAPEX proyek (Construction in Progress, Aset dalam Pengerjaan),
  • aset yang telah selesai dapat dipindahkan dari akun proyek ke akun aset tetap yang relevan.

3. Proses persetujuan CAPEX yang berbeda dengan OPEX

Secara tata kelola, pengeluaran CAPEX sebaiknya melalui proses persetujuan terpisah:

  • menggunakan Capital Expenditure Request atau form sejenis,
  • dilengkapi justifikasi bisnis, analisis cost–benefit, dan rencana pendanaan,
  • ditinjau oleh Finance dan manajemen sebelum disetujui.

Sementara itu, OPEX rutin dapat mengikuti prosedur pembelian/pembayaran biasa, dengan batas otorisasi sesuai jabatan.

4. Pelabelan dan reporting teratur

Dalam sistem akuntansi, berikan label (tag atau dimension) untuk membedakan:

  • CAPEX per proyek, per unit bisnis, atau per kategori aset,
  • OPEX per cost center, misalnya per departemen atau unit sekolah.

Buat laporan rutin:

  • realisasi CAPEX vs anggaran per proyek,
  • struktur OPEX per kategori (SDM, utilitas, marketing, dsb.),
  • rasio CAPEX/OPEX utama untuk manajemen.

5. Edukasi lintas fungsi

Finance tidak boleh sendirian memahami CAPEX/OPEX; bagian Operasional, IT, dan Manajemen Proyek juga perlu memahami apa konsekuensinya ketika suatu pengeluaran dikategorikan sebagai CAPEX atau OPEX:

  • bagaimana hal itu memengaruhi laporan keuangan,
  • bagaimana dampaknya terhadap anggaran mereka,
  • apa dokumentasi yang harus disiapkan.

Contoh Kasus Praktis dan Area Abu-abu

Dalam praktik, beberapa jenis pengeluaran tidak selalu jelas apakah termasuk CAPEX atau OPEX. Literatur profesional menyinggung, misalnya, biaya pengembangan software dengan metode agile, cloud computing (SaaS vs on-premise), dan biaya R&D.

1. Pengembangan sistem informasi internal

Dalam pendekatan tradisional (waterfall), biaya analisis kebutuhan dan desain awal sering kali digolongkan sebagai research (OPEX), sementara biaya pengembangan yang memenuhi kriteria dapat dikapitalisasi sebagai CAPEX (Intangible Assets). Di era agile, garis batas ini menjadi lebih sulit, sehingga diperlukan kebijakan internal yang menetapkan proxy (misalnya fase “go-live-ready” sebagai titik mulai kapitalisasi).

2. Pindah dari on-premise ke cloud

Untuk kontrak cloud computing, IFRS menekankan bahwa entitas harus menilai apakah terdapat hak penggunaan aset yang dapat dikendalikan (misalnya lisensi software yang dapat di-host sendiri), atau apakah kontrak tersebut adalah service contract murni (OPEX).

Tanpa analisis ini, perusahaan bisa:

  • mengkapitalisasi biaya yang seharusnya Expense, atau
  • membebankan Expense penuh padahal ada komponen yang seharusnya diakui sebagai aset.

3. Biaya perbaikan dan pemeliharaan

Secara teori, biaya pemeliharaan rutin (maintenance) adalah OPEX, sedangkan pengeluaran yang meningkatkan kapasitas, memperpanjang umur aset, atau meningkatkan kualitas output dapat dikapitalisasi sebagai CAPEX.

Di lapangan, pemisahan ini menuntut penilaian profesional (judgement) dan dokumentasi yang baik, misalnya deskripsi pekerjaan, spesifikasi teknis, dan analisis manfaat.

Kesimpulan

CAPEX dan OPEX bukan sekadar label teknis; keduanya adalah fondasi cara kita “menceritakan” kondisi keuangan dan strategi organisasi melalui laporan akuntansi. CAPEX menggambarkan bagaimana perusahaan berinvestasi untuk masa depan, sementara OPEX menunjukkan berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk menjaga mesin operasional tetap berjalan.

Dari perspektif teori akuntansi, pemisahan CAPEX dan OPEX diperlukan untuk memenuhi standar pelaporan keuangan dan memastikan bahwa aset serta laba-rugi disajikan dengan wajar. Dari perspektif manajemen, pemisahan ini memungkinkan perencanaan anggaran yang lebih akurat, pengelolaan cash flow yang sehat, dan pengukuran kinerja yang bermakna.

Ketika organisasi mengabaikan atau tidak memahami CAPEX dan OPEX, konsekuensinya bisa panjang: laporan yang menyesatkan, keputusan investasi yang buruk, konflik internal, dan sulitnya menjelaskan kondisi keuangan kepada pemegang saham, regulator, atau donatur. Sebaliknya, ketika CAPEX dan OPEX dikelola dengan kebijakan yang jelas, didukung COA yang baik, dan dipahami lintas fungsi, organisasi akan memiliki sistem akuntansi yang jauh lebih kuat sebagai dasar transformasi dan pertumbuhan jangka panjang.

Sumber dan referensi

  • https://www.ifrs.org/issued-standards/list-of-standards/ias-16-property-plant-and-equipment/
  • https://www.iasplus.com/en/standards/ias/ias38
  • https://www.investopedia.com/ask/answers/112814/whats-difference-between-capital-expenditures-capex-and-operational-expenditures-opex.asp
  • https://www.financealliance.io/capex-vs-opex/
  • https://finquery.com/blog/capex-vs-opex/
  • https://www.volopay.com/blog/capex-vs-opex/
  • https://blog.deiser.com/en/differences-capex-and-opex
  • https://www.ey.com/en_gl/technical/ifrs-technical-resources/applying-ifrs-accounting-for-cloud-computing-costs
  • https://kpmg.com/us/en/articles/2025/rd-costs-ifrs-accounting-standards-us-gaap.html
  • https://amsconsulting.com/articles/opex-vs-capex-project-budgeting/



Share the Post:

Related Posts