Bahagia Itu Tidak Sederhana: Neurosains Kebahagiaan ala dr Ryu Hasan

Artikel ini merangkum gagasan dr Ryu Hasan tentang kebahagiaan yang ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar makan enak atau punya waktu luang, dengan menelusuri bagaimana otak bekerja, peran uang, empati, hingga cara masyarakat membentuk rasa bahagia.

Dalam salah satu perbincangan panjang dan santai namun tajam, dr Ryu Hasan membedah topik yang sering kali disederhanakan: kebahagiaan. Ungkapan populer “uang tidak bisa membeli kebahagiaan” langsung ia koreksi dengan selipan humor: ia setuju… kalau uangnya sedikit. Di balik candaan tersebut, ada argumen serius tentang bagaimana manusia memaknai bahagia, bagaimana otak bekerja, dan bagaimana masyarakat mempengaruhi rasa bahagia bersama.

Percakapan ini tidak hanya menyentuh hal teknis seperti dopamin, amigdala, dan eksperimen pada tikus, tetapi juga meluas ke isu empati, kekerasan simbolik dalam olahraga, fanatisme, hingga konsep entropi dan kolaborasi antar manusia. Artikel ini merangkum dan merapikan gagasan utama dr Ryu Hasan menjadi beberapa bagian yang lebih terstruktur, agar mudah dibaca oleh guru, orang tua, peserta didik, dan siapa pun yang ingin memahami mengapa bahagia itu memang tidak sederhana.

Mengapa Bahagia Itu Tidak Sederhana

Dr Ryu memulai dengan membantah slogan populer “bahagia itu sederhana”. Menurutnya, kalau ada yang mengatakan demikian, besar kemungkinan orang tersebut belum memahami kompleksitas kebahagiaan. Bahagia bukan sekadar momen singkat saat makan pecel atau rawon, melainkan kondisi yang melibatkan memori, emosi, asumsi, dan konteks sosial tempat seseorang hidup.

Kebahagiaan manusia tidak bisa dipisahkan dari kemampuan otak untuk mengingat dan… melupakan. Orang yang mampu melupakan hal-hal yang tidak menyenangkan cenderung lebih mudah merasa bahagia. Di sini, ia menekankan bahwa memori manusia itu tidak persis seperti rekaman objektif; memori bersifat selektif dan bisa berubah. Pertengkaran lama yang dulu penuh kemarahan, beberapa tahun kemudian bisa dikenang sebagai sesuatu yang lucu.

Dari sini muncul satu ide kunci: kebahagiaan bukan sesuatu yang tunggal, statis, dan sederhana, melainkan hasil interaksi banyak variabel—biologis, psikologis, dan sosial—yang saling berkelindan dan terus berubah seiring waktu.

Membedakan Pleasure dan Happiness

Salah satu poin penting dalam penjelasan dr Ryu adalah perbedaan antara pleasure (kesenangan) dan happiness (kebahagiaan). Banyak orang mencampuradukkan keduanya. Makan enak, menonton pertandingan, atau menikmati konser memberikan pleasure, bukan otomatis kebahagiaan yang lebih dalam.

Pada manusia, makan pecel atau rawon memang menyenangkan, tetapi itu bukan kebahagiaan dalam pengertian yang lebih luas. Pleasure biasanya singkat, berpusat pada diri sendiri, dan cepat menghilang begitu aktivitas selesai. Kebahagiaan, sebaliknya, terkait dengan rasa aman, relasi sehat, dan kondisi sosial yang tidak merugikan orang lain.

Dr Ryu menjelaskan bahwa kebahagiaan manusia pada akhirnya selalu terikat pada orang lain. Dalam istilahnya, kebahagiaan sejati tidak pernah seratus persen individual; ia selalu melibatkan dimensi komunal. Di sinilah perbedaan paling jelas dengan sekadar kesenangan pribadi.

Otak, Dopamin, dan Eksperimen Tikus

Untuk menjelaskan kebahagiaan dari sisi ilmu saraf, dr Ryu merujuk pada eksperimen klasik pada tikus yang dilakukan oleh peneliti terdahulu. Mereka memasang elektroda di area tertentu otak tikus yang kemudian diketahui terkait dengan sistem penghargaan, khususnya nukleus akumbens dan jalur dopamin.

Tikus diberikan sebuah pedal. Setiap kali pedal ditekan, area otaknya yang terkait rasa senang dirangsang sehingga tikus merasakan sensasi menyenangkan. Hasilnya mengejutkan: alih-alih makan ketika lapar, tikus memilih terus menekan pedal sampai akhirnya mati dalam kondisi “terlalu senang”. Ini menunjukkan sisi gelap dari rangsangan kesenangan yang terus-menerus tanpa jeda dan tanpa fungsi adaptif.

Eksperimen lain menunjukkan bahwa sensasi bahagia pada tikus muncul saat ia menemukan makanan atau pasangan, bukan saat sedang memakan atau melakukan kontak seksual itu sendiri. Begitu aktivitas dimulai, puncak sensasi bahagia justru menurun. Pola ini menjelaskan mengapa otak terus terdorong untuk mencari lagi dan lagi: ada efek candu.

Pada manusia, sistem dasar ini tetap ada. Namun bahasa, budaya, pendidikan, dan interaksi sosial membuat manifestasinya jauh lebih kompleks daripada sekadar mencari makanan atau pasangan. Inilah yang membedakan kebahagiaan manusia dari kebahagiaan binatang lain.

Kebahagiaan sebagai Realitas Intersubjektif

Manusia hidup bukan hanya dalam realitas objektif dan subjektif, tetapi juga dalam realitas intersubjektif—dunia makna yang disepakati bersama, seperti negara, agama, uang, klub sepak bola, hingga identitas kelompok. Konsep ini selaras dengan gagasan yang pernah dipopulerkan dalam literatur sejarah dan antropologi modern.

Pada binatang, kebahagiaan lebih bersifat subjektif, terkait langsung dengan kebutuhan biologis. Pada manusia, kebahagiaan sangat dipengaruhi oleh narasi dan makna bersama. Seseorang bisa merasa bahagia karena merasa dihargai dalam komunitas, dilindungi oleh negara, atau merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya.

Di sinilah indeks kebahagiaan suatu negara menjadi relevan. Pertanyaan kunci dalam survei semacam itu biasanya sederhana tetapi mendalam, misalnya: apakah seseorang merasa tetangganya peduli ketika ia sakit, atau merasa negara hadir ketika ia mengalami kesulitan. Jawaban-jawaban ini menggambarkan kualitas realitas intersubjektif yang menopang kebahagiaan warganya.

Dengan kata lain, kebahagiaan bukan hanya soal apa yang terjadi di dalam diri, tetapi juga bagaimana lingkungan sosial, budaya, dan politik mengatur hubungan antar manusia.

Peran Empati dan Komunitas

Empati muncul sebagai variabel kunci dalam penjelasan dr Ryu tentang kebahagiaan komunal. Ia mencontohkan hal-hal sederhana: seseorang yang menerobos lampu merah mungkin marah ketika orang lain menghalangi jalannya, tetapi pada saat yang sama bisa melakukan hal yang sama terhadap orang lain. Di sini, otak kesulitan merasakan penderitaan orang di seberang.

Dalam konteks kekerasan, baik fisik maupun simbolik, hal yang sama terjadi. Menikmati pertandingan tinju, pertarungan anjing, atau ikan cupang yang saling melukai bisa memberikan kesenangan, tetapi di saat yang sama melatih otak mematikan empati terhadap pihak yang menderita. Hal ini, dalam jangka panjang, dapat menurunkan kapasitas masyarakat untuk membangun kebahagiaan bersama.

Fanatisme suporter olahraga menjadi contoh nyata. Dukungan terhadap klub tertentu dapat mengikat kelompok, tetapi sering kali diiringi dehumanisasi terhadap kelompok lain. Ketika rasa kebersamaan dibangun di atas kebencian kepada kelompok lain, empati terhadap pihak berbeda identitas akan terus terkikis.

Padahal, bagi kebahagiaan komunal, yang dibutuhkan justru kemampuan warga untuk merasakan penderitaan orang lain dan menahan diri agar tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya, termasuk tidak merugikan orang lain demi kesenangan pribadi atau kelompok.

Kompetisi, Kolaborasi, dan Entropi

Salah satu bagian yang cukup filosofis dalam penjelasan dr Ryu adalah penggunaan konsep entropi. Secara sederhana, entropi menggambarkan kecenderungan alam menuju ketidakteraturan. Kehidupan—termasuk kehidupan manusia—adalah sistem yang justru melawan entropi dengan menciptakan keteraturan, jaringan, dan kerja sama.

Di masa lalu, ketika sumber daya sangat terbatas, perang dan perampasan mungkin dianggap efektif oleh sebagian kelompok untuk mempertahankan keberlangsungan hidup. Namun saat ini, dengan kapasitas teknologi dan produksi yang jauh lebih besar, pola pikir kompetisi destruktif semakin tidak relevan untuk menjawab tantangan global.

Dr Ryu menegaskan bahwa untuk menurunkan entropi secara kolektif, umat manusia perlu bergerak dari dominasi kompetisi menuju kolaborasi. Contoh ekstremnya terlihat pada proyek besar seperti pendaratan manusia di bulan atau pengembangan teknologi kompleks: hal tersebut hanya mungkin terjadi melalui kerja sama puluhan ribu orang, bukan aksi individu yang berdiri sendiri.

Dalam konteks kebahagiaan, artinya makin banyak manusia yang bisa bekerja sama, makin besar peluang terciptanya sistem sosial yang rapi, adil, dan mendukung rasa aman. Namun, selama identitas kelompok dan narasi saling bermusuhan dipelihara, entropi sosial akan terus tinggi, dan kebahagiaan bersama menjadi sulit tercapai.

Benarkah Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan?

Di titik ini, kita kembali ke kalimat pembuka yang paling memancing rasa ingin tahu: menurut dr Ryu, uang memang tidak bisa membeli kebahagiaan jika jumlahnya sedikit, tetapi ketika jumlahnya besar, uang sangat mungkin berkontribusi besar terhadap kebahagiaan.

Alasannya bukan semata karena uang bisa membeli barang dan layanan, tetapi karena uang dapat menurunkan entropi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kondisi ekonomi yang baik, sebuah negara dapat membangun layanan publik yang rapi, sistem transportasi yang tertata, pendidikan yang layak, dan perlindungan sosial yang kuat. Semua ini menurunkan rasa ketidakpastian dan meningkatkan rasa aman warganya.

Namun ada catatan penting: uang hanyalah alat. Uang dapat meningkatkan kebahagiaan jika dipakai untuk memperkuat sistem sosial yang adil, inklusif, dan penuh empati. Jika uang justru memperdalam ketimpangan, memperkuat fanatisme sempit, atau mengabaikan dampak lingkungan, kebahagiaan yang tercipta mungkin hanya dinikmati sebagian kecil orang, sementara entropi sosial justru meningkat di tempat lain.

Singkatnya, uang bisa membeli kondisi yang mendukung kebahagiaan, tetapi tidak menjamin kebahagiaan jika cara memakainya salah arah.

Implikasi bagi Pendidikan dan Orang Tua

Bagi dunia pendidikan dan keluarga, gagasan dr Ryu memiliki beberapa implikasi penting. Pertama, jika kebahagiaan sangat dipengaruhi oleh empati dan kualitas komunitas, maka pendidikan yang hanya menekankan kompetisi, ranking, dan kemenangan semata bisa berisiko mengikis kapasitas empati generasi muda.

Mengasuh dan mendidik dengan orientasi “melahirkan pejuang” boleh saja, tetapi perlu diingat: komunitas pejuang yang selalu siap bertarung tidak otomatis menjadi komunitas yang bahagia. Bila nilai yang ditanamkan adalah menang dengan cara apa pun, bahkan dengan merugikan orang lain, maka secara tidak langsung kita sedang melatih otak anak untuk mematikan empati terhadap pihak lain.

Kedua, pendidikan perlu dirancang sebagai proses pembentukan cara pandang baru terhadap dunia. Jepang menjadi contoh menarik: di masa lalu, masyarakatnya dilatih untuk mencari cara mati yang terhormat; kini mereka dilatih untuk hidup dengan saling menghormati. Pergeseran paradigma ini lahir dari perubahan cara mengasuh dan mendidik generasi.

Ketiga, orang tua dan pendidik perlu membantu anak membedakan antara kesenangan dan kebahagiaan. Menggunakan gawai, bermain gim, atau menikmati hiburan bukanlah hal yang salah, tetapi perlu diletakkan dalam konteks yang sehat, agar tidak berubah menjadi candu yang justru menurunkan motivasi menjalani kehidupan nyata.

Tips Praktis Menata Kebahagiaan Sehari-hari

Berdasarkan gagasan yang disampaikan dr Ryu, berikut beberapa poin praktis yang dapat dijadikan refleksi dalam kehidupan sehari-hari, baik pada level pribadi maupun komunitas:

Melatih empati secara sadar

Cobalah lebih sering membayangkan posisi orang lain, bahkan dalam hal-hal sederhana seperti antrean, lalu lintas, atau komentar di media sosial. Setiap kali muncul dorongan untuk mengambil hak orang lain demi kenyamanan pribadi, itu saat yang tepat untuk melatih empati.

Membedakan kesenangan dan kebahagiaan

Tanyakan pada diri sendiri: apakah aktivitas tertentu hanya memberikan sensasi menyenangkan sesaat, atau benar-benar memperkuat relasi, rasa aman, dan kualitas hidup jangka panjang. Pertanyaan ini membantu mengatur ulang prioritas dalam penggunaan waktu dan energi.

Mengelola memori yang tidak nyaman

Menyadari bahwa memori tidak selalu objektif dapat membantu kita berdamai dengan masa lalu. Konflik yang dahulu menyakitkan, jika dilihat dari jarak waktu, bisa diolah menjadi pelajaran dan bahkan kenangan yang tidak terlalu menekan.

Menggunakan uang secara lebih bermakna

Uang yang dimiliki dapat diarahkan untuk menurunkan entropi dalam lingkup kecil: memperbaiki rumah agar lebih layak huni, membantu tetangga yang kesulitan, mendukung pendidikan anak, atau terlibat dalam kegiatan sosial yang memperkuat komunitas. Dengan cara ini, uang tidak hanya membeli barang, tetapi juga memperkokoh struktur sosial yang mendukung kebahagiaan.

Membangun budaya kolaborasi

Di lingkungan kerja, sekolah, maupun keluarga, dorong pola “menang bersama” alih-alih “menang sendiri”. Proyek bersama, diskusi kelompok, dan kegiatan gotong royong adalah contoh konkret bagaimana kolaborasi bisa dilatih sejak dini.

Kesimpulan

Paparan dr Ryu Hasan mengajak kita keluar dari slogan-slogan sederhana tentang kebahagiaan. Bahagia bukan hanya soal perasaan hangat setelah makan enak atau liburan singkat; ia adalah kondisi kompleks yang melibatkan cara otak memproses dopamin, cara hati mengelola emosi, dan cara masyarakat membangun struktur sosial yang adil dan penuh empati.

Di satu sisi, ilmu saraf menunjukkan bahwa manusia berbagi fondasi biologis dengan binatang lain: mencari makanan, menghindari ancaman, dan menemukan pasangan. Di sisi lain, bahasa, budaya, dan realitas intersubjektif menjadikan kebahagiaan manusia jauh lebih rumit. Empati, rasa aman, keadilan sosial, dan kemampuan melupakan luka masa lalu menjadi bagian tak terpisahkan dari kebahagiaan yang lebih utuh.

Uang, teknologi, dan kemajuan peradaban bisa menjadi alat penting untuk menurunkan entropi dan memperbaiki kualitas hidup, tetapi arah penggunaannya amat menentukan. Jika diarahkan untuk memperkuat kolaborasi dan kepedulian, peluang terciptanya masyarakat bahagia akan meningkat. Namun bila dibiarkan memperdalam fanatisme sempit dan ketimpangan, kita hanya memindahkan entropi dari satu tempat ke tempat lain.

Pada akhirnya, tidak ada yang mewajibkan manusia untuk bahagia. Namun bila kita memilih untuk mencari kebahagiaan bersama, maka cara kita mendidik, mengasuh, bekerja, dan hidup berdampingan perlu selaras dengan tujuan tersebut. Tidak mungkin berharap sampai ke utara jika langkah yang diambil justru konsisten menuju barat. Konsekuen terhadap arah inilah yang menentukan, apakah kita akan menjadi komunitas pejuang yang selalu lelah, atau komunitas manusia yang cukup damai untuk merasakan bahagia.

Sumber/Referensi

Share the Post:

Related Posts