Langsung ke isi
Sing penting seneng atine

Harga Sebuah Pertolongan

· fable · Cerita Angin

Harga Sebuah Pertolongan

Di sebuah desa, warga sepakat membangun lumbung bersama. Setiap keluarga menyumbangkan sebagian hasil panennya. Tujuannya sederhana: jika ada keluarga yang tertimpa musibah atau kekurangan makanan, lumbung itu bisa membantu.

Aturan dibuat. Cara meminta bantuan ditetapkan. Semua warga diminta ikut menyumbang karena tak seorang pun tahu kapan musibah akan datang.

Suatu hari, rumah seorang warga sederhana terbakar. Sebagian besar persediaan makanannya habis. Ia datang ke pengurus lumbung untuk meminta bantuan.

Pengurus memeriksa catatan, menghitung jatah, lalu memberikan bantuan sesuai ketentuan.

Warga itu pulang dengan lega. Tidak banyak, tetapi cukup untuk melewati masa sulit.

Beberapa bulan kemudian, rumah salah seorang tokoh terpandang di desa mengalami kerusakan. Persediaan makanannya sebenarnya masih cukup, tetapi ia membutuhkan bantuan untuk memperbaiki rumah.

Kali ini, pengurus desa mengadakan pertemuan khusus. Kayu terbaik disediakan, tukang didatangkan, dan biaya perbaikan ditanggung bersama.

Seorang warga yang menyaksikan kedua peristiwa itu akhirnya bertanya kepada kepala desa:

"Maaf, saya ingin memahami sesuatu. Bukankah lumbung itu dibangun agar semua warga mendapat pertolongan ketika mengalami kesulitan?"

"Benar," jawab kepala desa.

"Lalu mengapa ketika rumah warga biasa terbakar, bantuannya diberikan sesuai jatah, tetapi ketika rumah orang terpandang rusak, seluruh desa ikut turun tangan?"

Kepala desa tersenyum.

"Setiap orang punya kebutuhan yang berbeda."

Warga itu mengangguk pelan.

"Benar, Pak. Saya hanya baru tahu bahwa kebutuhan seseorang ternyata bisa menjadi jauh lebih besar ketika ia memiliki kedudukan."

Kepala desa tidak menjawab.

Warga itu lalu berkata, "Kalau begitu, mungkin kita perlu memperbaiki tulisan di depan lumbung."

"Apa yang perlu ditulis?"

"Dulu tertulis: Lumbung ini dibangun untuk membantu seluruh warga. Mungkin lebih tepat jika ditulis: Lumbung ini untuk seluruh warga, sedangkan bantuan istimewa mengikuti siapa yang sedang membutuhkan."

Sejak saat itu, warga tetap menyumbang ke lumbung. Mereka tetap mematuhi aturan. Hanya saja, setiap kali mendengar kata kebersamaan, mereka mulai bertanya-tanya apakah kata itu memiliki arti yang sama bagi semua orang.

Sebab mudah sekali berbicara tentang kebersamaan ketika yang dibicarakan adalah kewajiban. Tetapi ketika tiba waktunya berbagi pertolongan, barulah terlihat siapa yang dianggap pantas mendapatkan perhatian lebih.

Sebuah aturan tidak kehilangan maknanya karena tidak mampu membantu semua orang dengan cara yang sama. Ia kehilangan maknanya ketika standar keadilan berubah mengikuti siapa yang sedang membutuhkan bantuan.

Bagikan:WhatsAppFacebookXTelegram