Artikel pertama membahas latar belakang dan urgensi kerangka kompetensi kecerdasan artifisial untuk guru. Artikel kedua mengulas prinsip dasar yang menjadi kompas etis dan pedagogis. Artikel ketiga ini bergeser dari “mengapa” dan “untuk siapa” menuju “seperti apa bentuk kerangka tersebut secara konkret”.
UNESCO merancang kerangka kompetensi kecerdasan artifisial untuk guru dalam bentuk matriks dua dimensi. Di dalamnya terdapat lima aspek kompetensi yang berkembang melintasi tiga tingkat progresi. Hasilnya adalah lima belas blok kompetensi yang dapat dipakai sebagai acuan penyusunan kurikulum pelatihan, peta jalan pengembangan profesional, maupun instrumen asesmen kompetensi guru di berbagai konteks.
Struktur ini penting karena mengubah wacana kecerdasan artifisial dari sekadar daftar alat menjadi peta kemampuan: apa yang perlu dipahami guru, bagaimana mereka seharusnya menggunakan kecerdasan artifisial dalam pembelajaran, bagaimana menjaga etika dan hak asasi, dan bagaimana memanfaatkan kecerdasan artifisial untuk pembelajaran profesional sepanjang hayat.
Gambaran Umum Struktur Kerangka Kompetensi AI untuk Guru
Kerangka kompetensi kecerdasan artifisial untuk guru tidak disusun sebagai daftar tunggal kemampuan, tetapi sebagai matriks dua dimensi yang saling menguatkan. Dimensi pertama adalah aspek kompetensi (apa saja domain kemampuan yang perlu dikembangkan). Dimensi kedua adalah tingkat perkembangan (sejauh mana kedalaman dan kemandirian guru dalam setiap aspek).
Hasil persilangan kedua dimensi ini adalah lima belas blok kompetensi. Setiap blok merepresentasikan kombinasi tertentu: misalnya, mindset berpusat pada manusia di tingkat awal; atau pedagogi kecerdasan artifisial pada tingkat penciptaan. Blok-blok inilah yang kemudian dijabarkan secara rinci dalam bagian berikutnya dari dokumen asli melalui tujuan kurikuler, sasaran belajar, dan contoh aktivitas pembelajaran bagi guru.
Pendekatan matriks memungkinkan beberapa hal penting:
- Komprehensif namun terstruktur – semua aspek penting tercakup, tetapi tetap dapat diurutkan dan dikelola.
- Fleksibel terhadap konteks – lembaga pelatihan dapat memilih prioritas blok sesuai kebutuhan nasional atau lokal.
- Mendukung pemetaan kompetensi – guru dapat menilai dirinya berada di blok mana dan ke mana ingin bergerak.
Dengan demikian, struktur kerangka ini bukan sekadar tata letak konseptual, melainkan alat kerja yang dapat dioperasionalkan dalam desain kebijakan dan program pengembangan profesional guru.
Dua Dimensi Kerangka: Aspek Kompetensi dan Tingkat Perkembangan
Dimensi pertama adalah lima aspek kompetensi kecerdasan artifisial. Setiap aspek mencakup kombinasi pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang dibutuhkan guru untuk memanfaatkan kecerdasan artifisial secara etis dan efektif. Kelima aspek tersebut meliputi:
- mindset berpusat pada manusia,
- etika kecerdasan artifisial,
- fondasi dan aplikasi kecerdasan artifisial,
- pedagogi kecerdasan artifisial,
- pengembangan profesional dengan bantuan kecerdasan artifisial.
Dimensi kedua adalah tiga tingkat perkembangan yang menggambarkan kemajuan guru dalam setiap aspek. Tingkat ini disebut Acquire, Deepen, dan Create. Kerangka menegaskan bahwa proses perkembangan ini bersifat kompleks dan sangat bergantung konteks, sehingga tidak selalu linier. Namun, pengelompokan tingkat tetap berguna sebagai jalur acuan untuk:
- merancang tahapan pelatihan,
- menetapkan hasil belajar yang diharapkan,
- menilai sejauh mana guru telah siap menggunakan kecerdasan artifisial.
Dengan menggabungkan kedua dimensi, kerangka dapat menjawab pertanyaan praktis seperti: “Apa yang perlu dikuasai guru agar mampu menggunakan kecerdasan artifisial secara etis dalam pembelajaran?” atau “Apa yang membedakan guru yang baru mengenal kecerdasan artifisial dengan guru yang sudah mampu berinovasi dan mengonfigurasi solusi kecerdasan artifisial secara mandiri?”
Lima Aspek Kompetensi AI untuk Guru
Bagian ini merangkum isi dokumen asli mengenai lima aspek kompetensi. Intinya, kelima aspek ini menangkap domain kemampuan yang saling melengkapi dan perlu dikembangkan secara terpadu, bukan terpisah.
Aspek Mindset Berpusat pada Manusia
Aspek ini berkaitan dengan nilai dan sikap guru terhadap relasi antara manusia dan kecerdasan artifisial. Fokusnya bukan pada alat, tetapi pada cara guru memandang dirinya, murid, dan teknologi di dalam proses belajar.
Mindset berpusat pada manusia menuntut guru untuk:
- mengakui bahwa kecerdasan artifisial hanya boleh menjadi pendukung, bukan pengganti keputusan pedagogis,
- menghargai martabat dan agensi murid, memastikan murid bukan sekadar “objek data”,
- mempertanyakan dampak sosial dan emosional penggunaan kecerdasan artifisial di kelas,
- menempatkan tujuan pendidikan manusiawi di atas kepentingan efisiensi teknologi semata.
Dalam praktik, guru dengan mindset berpusat pada manusia akan:
- menggunakan kecerdasan artifisial untuk memperkuat empati, kolaborasi, dan dialog, bukan menghilangkannya,
- melibatkan murid dalam diskusi kritis mengenai bagaimana kecerdasan artifisial memengaruhi kehidupan mereka,
- mengambil keputusan untuk menolak atau membatasi penggunaan kecerdasan artifisial tertentu jika bertentangan dengan kesejahteraan murid.
Aspek Etika Kecerdasan Artifisial
Aspek etika mencakup prinsip, regulasi, dan aturan praktis yang harus dipahami dan dihidupi guru saat menggunakan kecerdasan artifisial. Dokumen UNESCO menekankan perlunya pemahaman yang memadai tentang:
- prinsip keadilan, non-diskriminasi, dan kesetaraan,
- perlindungan data dan privasi murid, termasuk risiko pelacakan dan profilasi berlebihan,
- akuntabilitas: siapa yang bertanggung jawab atas keputusan yang diperantarai sistem kecerdasan artifisial,
- aturan kelembagaan dan peraturan nasional yang mengatur penggunaan data dan teknologi di sekolah.
Guru diharapkan tidak sekadar patuh secara administratif, tetapi juga mampu:
- menerjemahkan prinsip etis ke dalam kebijakan kelas (misalnya, cara menggunakan alat generatif secara bertanggung jawab),
- mengidentifikasi situasi ketika penggunaan kecerdasan artifisial berpotensi melanggar hak murid,
- berpartisipasi dalam adaptasi dan perumusan aturan etis di tingkat sekolah atau yayasan.
Aspek Fondasi dan Aplikasi Kecerdasan Artifisial
Aspek ini menyangkut pengetahuan konseptual dan keterampilan operasional yang diperlukan guru untuk memahami dan menggunakan kecerdasan artifisial dalam berbagai konteks pembelajaran.
Beberapa elemen kunci yang ditekankan kerangka:
- pemahaman definisi dan konsep dasar kecerdasan artifisial,
- pengetahuan mengenai kategori utama teknologi kecerdasan artifisial (misalnya pembelajaran mesin, pemrosesan bahasa alami, visi komputer),
- keterampilan mengevaluasi kesesuaian dan keterbatasan alat kecerdasan artifisial untuk kebutuhan tertentu,
- kemampuan mengoperasikan alat yang sudah divalidasi untuk tugas nyata, seperti asesmen formatif, analitik pembelajaran, atau dukungan diferensiasi.
Pada tingkat lanjut, aspek ini juga mencakup:
- kemampuan menyesuaikan atau mengombinasikan alat kecerdasan artifisial untuk kebutuhan lokal,
- kemampuan membaca dokumentasi teknis secara fungsional (tanpa harus menjadi pengembang),
- kesadaran terhadap keterbatasan teknis dan risiko kesalahan seperti halusinasi atau bias algoritmik.
Aspek Pedagogi Kecerdasan Artifisial
Aspek pedagogi berfokus pada integrasi kecerdasan artifisial ke dalam strategi mengajar dan belajar. Bukan hanya “menggunakan alat”, tetapi bagaimana alat itu menyatu dengan tujuan belajar, metode, dan asesmen.
Kompetensi yang termasuk dalam aspek ini antara lain:
- memvalidasi dan memilih alat kecerdasan artifisial yang selaras dengan tujuan pembelajaran,
- mengombinasikan alat kecerdasan artifisial dengan metode pedagogis seperti pembelajaran berbasis proyek, inkuiri, atau kolaboratif,
- menggunakan kecerdasan artifisial untuk mendukung persiapan materi, pelaksanaan pembelajaran, bimbingan individual, dan asesmen formatif,
- mengelola dinamika sosial di kelas ketika kecerdasan artifisial hadir sebagai “aktor baru” dalam interaksi guru–murid.
Pada tingkat yang lebih maju, aspek ini juga mencakup kemampuan:
- merancang ulang praktik pembelajaran sehingga kecerdasan artifisial memungkinkan bentuk keterlibatan murid yang sebelumnya sulit dilakukan,
- mencoba pendekatan pedagogis baru yang dibuka oleh hadirnya kecerdasan artifisial (misalnya simulasi adaptif, tutor virtual yang diawasi guru),
- menggunakan data yang dihasilkan kecerdasan artifisial secara kritis untuk memperbaiki desain pembelajaran.
Aspek Pengembangan Profesional dengan Bantuan Kecerdasan Artifisial
Aspek ini memandang guru bukan hanya sebagai pengguna kecerdasan artifisial di kelas, tetapi juga sebagai pembelajar sepanjang hayat yang memanfaatkan kecerdasan artifisial untuk pengembangan profesional.
Beberapa contoh kompetensi di aspek ini:
- menggunakan kecerdasan artifisial untuk memetakan kebutuhan belajar pribadi dan menyusun rencana pengembangan profesional,
- memanfaatkan platform pembelajaran daring dan rekomendasi konten berbasis kecerdasan artifisial secara kritis,
- berjejaring dengan rekan sejawat melalui ruang digital yang didukung kecerdasan artifisial (misalnya pencocokan mentor, forum profesional cerdas),
- menggunakan kecerdasan artifisial untuk mendukung refleksi, dokumentasi praktik baik, dan eksplorasi transformasi peran profesional.
Aspek ini menegaskan bahwa kecerdasan artifisial bukan hanya untuk murid, tetapi juga untuk guru sebagai insan pembelajar. Namun, penggunaannya tetap harus dilandasi etika, penguasaan konsep, dan mindset berpusat pada manusia yang telah dibahas sebelumnya.
Tiga Tingkat Perkembangan Kompetensi
Dimensi kedua dari kerangka adalah tiga tingkat perkembangan kompetensi: Acquire, Deepen, dan Create. Ketiganya menggambarkan pergeseran dari literasi dasar menuju kemampuan berinovasi dan mengonfigurasi solusi kecerdasan artifisial secara lebih mandiri dan kritis.
Tingkat Acquire: Membangun Literasi Dasar
Tingkat pertama berfokus pada penguasaan dasar yang harus dimiliki semua guru, terlepas dari mata pelajaran, jenjang, atau konteks sekolah. Dalam dokumen UNESCO, tingkat ini dikaitkan dengan:
- kemampuan mengevaluasi, memilih, dan menggunakan alat kecerdasan artifisial dengan benar dan aman dalam pendidikan,
- pemahaman dasar tentang konsep dan cara kerja kecerdasan artifisial,
- kesiapan untuk mengenali risiko etis dan pedagogis yang paling mendasar.
Program pelatihan pada tingkat ini biasanya menargetkan guru yang baru mulai mengenal kecerdasan artifisial atau yang selama ini hanya bersentuhan dengan teknologi digital tingkat dasar. Tujuannya adalah memastikan tidak ada guru yang tertinggal di bawah ambang literasi kecerdasan artifisial yang wajar bagi profesi pendidik modern.
Tingkat Deepen: Memperdalam dan Mengintegrasikan
Tingkat kedua fokus pada pendalaman pemahaman dan integrasi pedagogis. Guru diharapkan tidak hanya menggunakan alat yang tersedia, tetapi mampu:
- merancang strategi pembelajaran yang secara sengaja mengintegrasikan kecerdasan artifisial,
- menyelaraskan penggunaan kecerdasan artifisial dengan tujuan kurikulum dan karakteristik murid,
- memahami lebih dalam implikasi etis, sosial, dan profesional dari keputusan yang diambil dengan bantuan kecerdasan artifisial.
Pada tingkat ini, pelatihan lebih menekankan desain skenario pembelajaran, studi kasus, eksperimen terbimbing, dan refleksi praktik. Guru yang telah mencapai tingkat ini mulai berperan sebagai penggerak perubahan di sekolah, meskipun belum sampai pada tahap mengkonfigurasi sistem kecerdasan artifisial secara teknis.
Tingkat Create: Mencipta dan Mengonfigurasi
Tingkat ketiga menggambarkan kemampuan lanjutan di mana guru:
- terlibat dalam konfigurasi kreatif sistem kecerdasan artifisial dan solusi pembelajaran berbasis kecerdasan artifisial,
- berkontribusi pada perumusan kebijakan dan standar etis penggunaan kecerdasan artifisial di institusi,
- menggunakan kecerdasan artifisial untuk membuka opsi pembelajaran baru, termasuk pembelajaran terbuka dan fleksibel bagi murid,
- memanfaatkan kecerdasan artifisial untuk mendorong transformasi organisasi, bukan hanya perbaikan kelas secara lokal.
Guru pada tingkat ini tidak harus menjadi pengembang perangkat lunak, tetapi mampu bekerja sama dengan pengembang, peneliti, dan pemangku kepentingan lain untuk:
- memilih, mengadaptasi, atau menggabungkan alat kecerdasan artifisial sumber terbuka atau yang dapat dikustomisasi,
- mengidentifikasi kebutuhan lokal dan menerjemahkannya menjadi solusi kecerdasan artifisial yang relevan dan bermakna,
- menguji, mengevaluasi, dan menyempurnakan inovasi kecerdasan artifisial dalam konteks nyata sekolah.
Matriks Perbandingan Aspek dan Tingkat Perkembangan
Untuk memudahkan pemahaman, tabel berikut merangkum hubungan antara lima aspek kompetensi dan tiga tingkat perkembangan. Tabel ini diadaptasi dari struktur tingkat tinggi kerangka UNESCO dengan penyesuaian istilah ke dalam bahasa Indonesia.
| Aspek Kompetensi | Acquire (Dasar) | Deepen (Pendalaman) | Create (Penciptaan) |
|---|---|---|---|
| Mindset berpusat pada manusia | Memahami agensi manusia dan peran guru dalam relasi manusia–kecerdasan artifisial. | Mengembangkan akuntabilitas manusia: menyadari tanggung jawab guru dalam keputusan yang dibantu kecerdasan artifisial. | Mempraktikkan tanggung jawab sosial melalui penggunaan kecerdasan artifisial yang berpihak pada keadilan dan inklusi. |
| Etika kecerdasan artifisial | Mengenali dan menjelaskan prinsip etis dasar serta aturan lembaga yang relevan. | Menggunakan kecerdasan artifisial secara aman dan bertanggung jawab dalam praktik pembelajaran. | Berpartisipasi dalam penyusunan atau penyempurnaan aturan etis dan pedoman kelembagaan terkait kecerdasan artifisial. |
| Fondasi dan aplikasi kecerdasan artifisial | Mengenal teknik dan aplikasi kecerdasan artifisial dasar yang relevan dengan pendidikan. | Menguasai keterampilan menerapkan alat kecerdasan artifisial dalam konteks kelas dan sekolah secara bermakna. | Mencipta dengan kecerdasan artifisial, misalnya dengan mengonfigurasi solusi atau mengkombinasikan alat untuk menjawab tantangan lokal. |
| Pedagogi kecerdasan artifisial | Menerapkan pengajaran berbantuan kecerdasan artifisial secara terbatas dan terarah. | Mengintegrasikan kecerdasan artifisial dengan strategi pedagogis sehingga saling menguatkan. | Mendorong transformasi pedagogi melalui pendekatan pembelajaran baru yang dimungkinkan oleh kecerdasan artifisial. |
| Pengembangan profesional dengan bantuan kecerdasan artifisial | Memanfaatkan kecerdasan artifisial untuk mendukung pembelajaran profesional sepanjang hayat. | Menggunakan kecerdasan artifisial untuk mengelola dan memperkaya pengembangan profesional secara sistematis. | Menggunakan kecerdasan artifisial untuk memperkuat pembelajaran organisasi dan menginisiasi transformasi profesional di tingkat sekolah atau yayasan. |
Matriks ini tidak dimaksudkan sebagai “tangga karier” yang kaku, melainkan sebagai panduan. Seorang guru bisa berada di tingkat yang berbeda untuk aspek yang berbeda. Misalnya, cukup maju dalam pengembangan profesional berbantuan kecerdasan artifisial, tetapi masih pada tingkat dasar dalam aspek etika.
Implikasi Praktis Struktur Kerangka bagi Sekolah dan Guru
Struktur matriks dua dimensi membawa sejumlah implikasi praktis yang sangat relevan bagi pengelola sekolah, perancang program pelatihan, dan guru.
Bagi kepala sekolah dan yayasan, struktur ini memungkinkan:
- memetakan kebutuhan pelatihan guru berdasarkan aspek dan tingkat perkembangan,
- menentukan prioritas investasi: apakah perlu memperkuat fondasi konsep kecerdasan artifisial, etika, atau integrasi pedagogis terlebih dahulu,
- merancang indikator kinerja yang realistis dan bertahap terkait pemanfaatan kecerdasan artifisial di sekolah.
Bagi perancang pelatihan guru, struktur ini membantu untuk:
- menyusun modul pelatihan yang selaras dengan blok kompetensi tertentu,
- menghindari program yang terlalu fokus pada alat, tetapi mengabaikan mindset, etika, dan pengembangan profesional,
- mengembangkan asesmen autentik yang menilai kemampuan guru pada tiap blok, bukan hanya pengetahuan teoretis.
Bagi guru sendiri, kerangka ini dapat menjadi:
- cermin untuk menilai diri: aspek mana yang sudah kuat dan mana yang perlu diperkuat,
- peta jalan untuk merencanakan pengembangan kompetensi pribadi,
- bahasa bersama untuk berdiskusi dengan pimpinan, kolega, dan pembuat kebijakan tentang kebutuhan dan tantangan nyata penggunaan kecerdasan artifisial di kelas.
Ringkasan Artikel Ketiga
- Kerangka kompetensi kecerdasan artifisial untuk guru disusun dalam bentuk matriks dua dimensi: lima aspek kompetensi dan tiga tingkat perkembangan.
- Lima aspek tersebut meliputi mindset berpusat pada manusia, etika kecerdasan artifisial, fondasi dan aplikasi kecerdasan artifisial, pedagogi kecerdasan artifisial, serta pengembangan profesional dengan bantuan kecerdasan artifisial.
- Tiga tingkat perkembangan menggambarkan pergeseran dari literasi dasar (Acquire), ke integrasi yang lebih mendalam (Deepen), hingga kemampuan mencipta dan mengonfigurasi solusi kecerdasan artifisial (Create).
- Persilangan antara aspek dan tingkat perkembangan menghasilkan lima belas blok kompetensi yang dapat dijadikan dasar perancangan pelatihan, asesmen, dan kebijakan.
- Struktur ini memberi landasan praktis agar penerapan kecerdasan artifisial di pendidikan tidak terjebak dalam euforia alat, tetapi berorientasi pada penguatan kompetensi guru secara menyeluruh.
Kesimpulan
Artikel ketiga ini menunjukkan bahwa kerangka kompetensi kecerdasan artifisial untuk guru tidak hanya berbicara tentang “apa itu kecerdasan artifisial” atau “alat apa yang tersedia”, tetapi merumuskan struktur kemampuan yang komprehensif dan bertahap. Matriks dua dimensi dengan lima aspek dan tiga tingkat perkembangan membantu dunia pendidikan bergerak dari wacana ke perencanaan yang lebih konkret.
Bagi lembaga pendidikan, memahami struktur ini adalah langkah penting sebelum menyusun program pelatihan, menulis kebijakan, atau memilih platform kecerdasan artifisial. Bagi guru, struktur ini mengundang refleksi: di aspek mana saya sudah cukup kuat, dan di mana saya membutuhkan dukungan lebih? Di tingkat perkembangan mana saya berada, dan ke arah mana saya ingin tumbuh?
Artikel ini melengkapi dua artikel sebelumnya dengan menempatkan kerangka UNESCO sebagai alat desain, bukan hanya dokumen kebijakan. Artikel berikutnya dapat melompat masuk ke blok-blok kompetensi secara lebih rinci, termasuk contoh tujuan kurikuler, sasaran belajar, dan aktivitas yang diusulkan untuk setiap tingkat perkembangan. Dengan demikian, kerangka kompetensi kecerdasan artifisial benar-benar dapat menjadi panduan praktis bagi sekolah yang ingin bertransformasi secara bertanggung jawab di era kecerdasan artifisial.
Sumber / Referensi
- https://doi.org/10.54675/ZJTE2084
- https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000391104
- https://www.unesco.org/en/digital-education/ai
- https://www.unesco.org/en/artificial-intelligence/recommendation-ethics