Kecerdasan buatan atau artificial intelligence telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari siswa. Dari mesin pencari, rekomendasi video, permainan daring, hingga asisten berbasis bahasa alami, hampir semua layanan digital yang digunakan generasi muda saat ini ditopang oleh algoritma dan model kecerdasan buatan. Namun, kenyataan bahwa siswa menggunakan teknologi berbasis AI tidak otomatis berarti mereka memahami cara kerjanya, dampaknya, serta cara menggunakannya secara etis dan bertanggung jawab.
UNESCO merespons tantangan ini dengan menerbitkan AI Competency Framework for Students, sebuah kerangka kompetensi AI untuk siswa yang dirancang sebagai rujukan global. Kerangka ini membantu negara, lembaga pendidikan, dan sekolah untuk merancang pembelajaran AI yang tidak hanya teknis, melainkan juga menekankan nilai humanis, etika, keadilan sosial, dan keberlanjutan lingkungan. Siswa dipandang bukan sekadar pengguna, tetapi sebagai calon warga digital dan co-creator teknologi yang memiliki kapasitas untuk menilai, mengkritisi, dan membentuk masa depan kecerdasan buatan.
Artikel pertama ini merangkum isi Artikel satu dan Artikel dua dari dokumen tersebut. Fokusnya adalah menjelaskan latar belakang mengapa kerangka kompetensi AI untuk siswa menjadi sangat penting, tujuan dan sasaran yang ingin dicapai, serta prinsip-prinsip dasar yang perlu dipegang ketika memasukkan pembelajaran AI ke dalam kurikulum dan praktik pendidikan di sekolah.
Daftar Isi
- Latar Belakang: Mengapa Siswa Membutuhkan Kerangka Kompetensi AI
- Tujuan dan Sasaran Kerangka Kompetensi AI untuk Siswa
- Prinsip Kunci Pengembangan Kompetensi AI untuk Siswa
- Implikasi Praktis bagi Sekolah, Guru, dan Siswa
- Matriks Perbandingan: Literasi TIK Tradisional dan Kerangka Kompetensi AI
- Langkah Awal Menerapkan Kerangka Ini di Sekolah
- Kesimpulan: Menyiapkan Warga Digital yang Bertanggung Jawab
- Sumber / Referensi
Latar Belakang: Mengapa Siswa Membutuhkan Kerangka Kompetensi AI
Perkembangan kecerdasan buatan dalam satu dekade terakhir mengubah cara manusia bekerja, belajar, berkomunikasi, dan mengambil keputusan. Sistem rekomendasi, pengenalan wajah, analitik data berskala besar, hingga model generatif yang mampu membuat teks, gambar, dan video baru, telah menjadi bagian dari infrastruktur digital global. Anak dan remaja berhadapan dengan sistem ini sejak usia sangat muda, tetapi sering kali tanpa pemahaman mendasar tentang bagaimana sistem bekerja dan apa konsekuensinya.
UNESCO mencatat bahwa sangat sedikit negara yang secara eksplisit memasukkan tujuan pembelajaran AI ke dalam kurikulum sekolah. Di banyak tempat, AI masih diperlakukan sebagai topik tambahan dalam mata pelajaran teknologi atau komputer, atau bahkan sekadar dikenalkan sebatas nama aplikasi. Tidak ada kesepakatan yang cukup jelas mengenai apa yang dimaksud dengan literasi AI, kompetensi AI, dan sejauh mana siswa perlu memahami proses teknis di balik sistem kecerdasan buatan.
Tanpa kerangka yang terstruktur, pengenalan AI di sekolah berisiko:
- Berpusat pada produk dan vendor, bukan pada kompetensi inti yang tahan terhadap perubahan teknologi.
- Mengabaikan dimensi etis, sosial, dan lingkungan, sehingga siswa hanya diajarkan “cara memakai” tanpa diajak merenungkan akibatnya.
- Memposisikan peserta didik sebagai pengguna pasif, bukan subjek yang mampu mempertanyakan keadilan, bias, dan akuntabilitas sistem AI yang mereka hadapi.
Kerangka kompetensi AI untuk siswa dikembangkan untuk menjawab kekosongan ini. Mengacu pada agenda Pendidikan global dan berbagai konsensus internasional tentang kecerdasan buatan, kerangka ini memandang bahwa sistem pendidikan memiliki peran strategis: memastikan bahwa penggunaan AI tidak merusak nilai kemanusiaan, demokrasi, dan keadilan sosial, melainkan diarahkan untuk memperkuatnya. Pendidikan tidak boleh sekadar mengikuti arus industri teknologi, tetapi harus menjadi ruang utama untuk merumuskan masa depan bersama yang lebih adil dan berkelanjutan.
Tujuan dan Sasaran Kerangka Kompetensi AI untuk Siswa
Dokumen AI Competency Framework for Students dirancang sebagai rujukan global yang dapat diterjemahkan ke dalam berbagai konteks nasional dan lokal. Ia tidak dimaksudkan sebagai kurikulum siap pakai, tetapi sebagai peta jalan konseptual yang membantu negara dan lembaga pendidikan merumuskan standar kompetensi AI untuk peserta didik usia sekolah.
Secara garis besar, terdapat beberapa tujuan utama kerangka ini.
- Menetapkan seperangkat kompetensi inti AI untuk semua siswa.
Kerangka ini memetakan kompetensi ke dalam empat dimensi besar: cara pandang berpusat pada manusia, etika AI, teknik dan aplikasi AI, serta desain sistem AI. Masing-masing dimensi kemudian dijabarkan ke dalam kompetensi yang dapat dikembangkan pada berbagai jenjang, dengan tingkatan penguasaan mulai dari memahami, menerapkan, hingga menciptakan. - Memberi panduan untuk perencanaan kurikulum dan pembelajaran.
AI tidak harus diajarkan sebagai mata pelajaran terpisah. Kerangka ini justru mendorong integrasi lintas disiplin: sains, matematika, ilmu sosial, bahasa, seni, dan kewarganegaraan. Dengan demikian, siswa dapat melihat AI bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai fenomena multidimensional yang memengaruhi masyarakat dan kehidupan sehari-hari. - Mendukung pengembangan asesmen kompetensi AI.
Kerangka ini memberi dasar untuk merancang penilaian yang menakar kemampuan nyata siswa, seperti menganalisis bias dalam sistem rekomendasi, merumuskan pertanyaan kritis tentang penggunaan data, atau berpartisipasi dalam proyek desain solusi berbasis AI yang etis dan inklusif. Penilaian tidak lagi berhenti pada hafalan istilah, tetapi pada keterampilan berpikir dan bertindak.
Kerangka ini juga menyasar berbagai pemangku kepentingan:
- Pembuat kebijakan di tingkat nasional maupun daerah, yang merancang strategi AI dalam pendidikan.
- Pengembang kurikulum dan lembaga penjaminan mutu yang menetapkan standar kompetensi lulusan.
- Penyelenggara program pendidikan di sekolah, lembaga pelatihan, dan organisasi masyarakat sipil.
- Pimpinan sekolah dan guru yang menerjemahkan kerangka ke dalam praktik pembelajaran sehari-hari.
Dengan demikian, kerangka kompetensi AI untuk siswa berfungsi sebagai jembatan antara wacana global tentang AI dan kebutuhan praktis di ruang kelas. Ia membantu memastikan bahwa semua siswa, dari berbagai latar belakang, memiliki kesempatan yang adil untuk memahami dan memanfaatkan AI secara aman, kreatif, dan bertanggung jawab.
Prinsip Kunci Pengembangan Kompetensi AI untuk Siswa
Artikel dua dalam dokumen UNESCO menggarisbawahi sejumlah prinsip utama yang harus menjadi fondasi perancangan dan implementasi kompetensi AI. Prinsip-prinsip ini memastikan bahwa pembelajaran AI tidak semata berorientasi pada penguasaan teknologi, tetapi juga menguatkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan keberlanjutan. Berikut ringkasan prinsip tersebut beserta implikasinya bagi pendidikan di tingkat sekolah.
Pendekatan Kritis terhadap AI
Prinsip pertama menegaskan pentingnya mengembangkan kemampuan berpikir kritis terhadap kecerdasan buatan. Siswa tidak cukup hanya mengetahui bahwa suatu aplikasi menggunakan AI, mereka perlu mampu mengajukan pertanyaan kritis seperti:
- Apakah penggunaan AI pada suatu konteks benar-benar diperlukan, atau ada cara lain yang lebih sederhana dan aman?
- Siapa yang diuntungkan dan siapa yang mungkin dirugikan oleh sebuah sistem AI?
- Bagaimana keputusan yang dihasilkan AI dapat berdampak pada keadilan, privasi, dan hak asasi warga?
Pendekatan kritis tidak bertujuan menolak AI, tetapi membantu siswa menimbang proposisi penggunaan AI secara proporsional. Untuk beberapa masalah, AI memang membawa manfaat yang signifikan; untuk masalah lain, pendekatan non digital atau solusi berbasis komunitas justru lebih tepat. Siswa perlu menyadari bahwa AI adalah bagian dari ekosistem solusi, bukan satu-satunya jawaban yang selalu lebih unggul.
Interaksi Berpusat pada Manusia
Prinsip kedua adalah pendekatan human-centred atau berpusat pada manusia. Dalam kerangka ini, AI dipahami sebagai teknologi yang harus:
- Memperkuat kemampuan dan martabat manusia, bukan menggantikannya.
- Menjaga agensi atau kedaulatan pengambilan keputusan pada manusia.
- Memprioritaskan keadilan, inklusi, dan perlindungan hak-hak individu dan kelompok rentan.
Dalam konteks sekolah, prinsip ini berarti bahwa penggunaan AI harus dirancang untuk memperkaya interaksi antara guru dan siswa, bukan menghilangkan peran guru. AI dapat membantu memberikan umpan balik otomatis, menyesuaikan tingkat kesulitan latihan, atau menyediakan sumber belajar tambahan, tetapi keputusan pedagogis inti dan pendampingan emosional tetap menjadi ranah manusia.
Siswa juga perlu memahami bagaimana data mereka digunakan oleh sistem AI. Mereka harus mengetahui apa yang terjadi ketika mereka memberi izin pada sebuah aplikasi, bagaimana data dikumpulkan, disimpan, dan digunakan untuk melatih model maupun menampilkan rekomendasi. Hal ini mendorong literasi data dan kesadaran privasi yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kompetensi AI.
Keberlanjutan Lingkungan dalam Penggunaan AI
Aspek yang sering terabaikan dalam diskusi AI adalah dampak lingkungan dari pengembangan dan penggunaan model kecerdasan buatan berskala besar. Pelatihan model generatif dan operasi data center berkontribusi pada konsumsi energi yang signifikan dan berdampak pada jejak karbon global. Kerangka kompetensi AI untuk siswa menempatkan isu ini sebagai salah satu pertimbangan penting.
Siswa perlu memahami bahwa teknologi digital, termasuk AI, tidak netral secara lingkungan. Mereka didorong untuk:
- Mengenali hubungan antara infrastruktur digital dan penggunaan energi.
- Menganalisis klaim bahwa AI merupakan solusi untuk krisis lingkungan dengan pendekatan yang kritis dan berbasis bukti.
- Mengembangkan proyek pembelajaran yang menimbang manfaat dan biaya lingkungan suatu solusi berbasis AI.
Dengan demikian, literasi AI yang dibangun bukan hanya berbicara tentang kecanggihan algoritme, tetapi juga kesadaran ekologis dan tanggung jawab generasi muda terhadap planet yang mereka tinggali.
Inklusivitas dan Keadilan dalam Kompetensi AI
UNESCO menekankan bahwa akses ke teknologi AI dan kemampuan untuk memanfaatkannya secara bermakna merupakan bagian dari hak dasar warga di era digital. Kerangka kompetensi AI menempatkan inklusivitas dan keadilan sebagai prinsip yang harus menjiwai perancangan dan implementasi kurikulum.
Dari sudut pandang kebijakan pendidikan, hal ini berarti:
- Semua siswa, tanpa memandang latar belakang sosial ekonomi, gender, bahasa, atau disabilitas, berhak mendapatkan pembelajaran tentang AI pada tingkat yang sesuai.
- Materi dan contoh kasus yang digunakan dalam pembelajaran AI mencerminkan keragaman konteks, budaya, dan pengalaman hidup siswa.
- Diskusi tentang AI secara eksplisit menyentuh isu ketimpangan, bias algoritmik, dan risiko eksklusi kelompok tertentu, sehingga siswa belajar melihat AI dari perspektif keadilan sosial.
Inklusivitas juga berarti memberikan ruang bagi siswa untuk berkontribusi dalam desain solusi AI yang relevan bagi komunitas mereka. Proyek atau tugas yang mengundang siswa merancang prototipe solusi, mengidentifikasi masalah lokal, dan mengevaluasi dampaknya, memungkinkan mereka merasakan peran sebagai aktor aktif, bukan hanya pengguna akhir sebuah produk teknologi.
Kompetensi AI untuk Pembelajaran Sepanjang Hayat
Kerangka kompetensi AI untuk siswa disusun dengan visi jangka panjang: mempersiapkan generasi muda untuk pembelajaran sepanjang hayat di tengah dunia yang terus berubah. AI dipandang sebagai teknologi yang akan terus berevolusi, sehingga kompetensi yang dibangun harus cukup mendasar dan fleksibel untuk menghadapi perubahan tersebut.
Dalam perspektif ini, literasi AI tidak berhenti pada penguasaan perangkat dan platform tertentu. Sebaliknya, ia menitikberatkan pada:
- Pemahaman konsep inti tentang data, algoritme, model, dan cara sistem belajar dari contoh.
- Keterampilan menelusuri, mengevaluasi, dan mengkombinasikan informasi yang dihasilkan AI dengan sumber lain.
- Nilai dan sikap yang mendorong penggunaan AI secara etis, inklusif, dan berkelanjutan di berbagai fase kehidupan.
Dengan landasan ini, siswa diharapkan memiliki kapasitas untuk terus belajar dan beradaptasi terhadap bentuk-bentuk baru kecerdasan buatan, sekaligus memperjuangkan agar teknologi tersebut tetap selaras dengan martabat manusia dan kepentingan publik.
Implikasi Praktis bagi Sekolah, Guru, dan Siswa
Prinsip-prinsip di atas memiliki konsekuensi praktis bagi dunia pendidikan. Bagi sekolah, penerapan kerangka kompetensi AI menuntut peninjauan ulang visi, kebijakan, dan rencana pengembangan sekolah. Pimpinan sekolah perlu memastikan bahwa strategi digital sekolah tidak hanya berfokus pada pengadaan perangkat, tetapi juga pembentukan kompetensi dan budaya penggunaan teknologi yang bertanggung jawab.
Bagi guru, kerangka ini menjadi panduan untuk menata ulang peran dalam ekosistem pembelajaran. Guru bukan sekadar pengguna aplikasi AI, tetapi fasilitator diskusi kritis, desainer pengalaman belajar, dan penjaga nilai-nilai etis di kelas. Guru memerlukan dukungan pelatihan dan komunitas praktik agar mampu menerjemahkan kerangka ini ke dalam rencana pembelajaran, penilaian, dan interaksi harian dengan siswa.
Bagi siswa, kerangka kompetensi AI memberikan gambaran bahwa mereka diharapkan melampaui peran pengguna pasif. Mereka didorong untuk menjadi pembelajar mandiri yang mampu mengajukan pertanyaan kritis, bekerja kolaboratif, dan terlibat dalam proyek yang memanfaatkan AI untuk memecahkan masalah nyata di lingkungan mereka sendiri. Dengan demikian, pembelajaran AI tidak terputus dari kehidupan sosial dan aspirasi masa depan mereka.
Matriks Perbandingan: Literasi TIK Tradisional dan Kerangka Kompetensi AI
Untuk membantu sekolah dan guru memahami pergeseran paradigma yang diusulkan oleh kerangka kompetensi AI, berikut matriks perbandingan sederhana antara pendekatan literasi TIK tradisional dan pendekatan yang diusung dalam kerangka kompetensi AI untuk siswa.
| Aspek | Literasi TIK Tradisional | Kerangka Kompetensi AI untuk Siswa |
|---|---|---|
| Fokus utama | Penguasaan perangkat keras dan perangkat lunak, kemampuan mengoperasikan aplikasi perkantoran dan internet. | Pemahaman menyeluruh tentang data, algoritme, sistem AI, serta dampak sosial, etis, dan lingkungan dari penggunaannya. |
| Peran peserta didik | Pengguna teknologi yang relatif pasif, mengikuti panduan penggunaan aplikasi dan prosedur standar. | Warga digital yang kritis dan kreatif, mampu menilai, memanfaatkan, dan ikut merancang solusi berbasis AI. |
| Dimensi nilai | Sering kali tersisip secara implisit, dengan fokus pada penggunaan yang “aman dan bertanggung jawab” secara umum. | Dibahas secara eksplisit: etika, hak asasi, keadilan sosial, inklusivitas, perlindungan data, dan keberlanjutan lingkungan. |
| Integrasi kurikulum | Biasanya ditempatkan dalam mata pelajaran teknologi informasi atau komputer sebagai satu rumpun tersendiri. | Diintegrasikan ke berbagai disiplin ilmu: sains, matematika, studi sosial, bahasa, seni, dan pendidikan kewarganegaraan. |
| Pendekatan pembelajaran | Berbasis latihan prosedural, mengikuti langkah demi langkah penggunaan aplikasi. | Berbasis proyek, pemecahan masalah, diskusi kritis, dan eksplorasi kasus nyata yang melibatkan sistem AI. |
| Asesmen | Menekankan kemampuan menyelesaikan tugas teknis tertentu, seperti membuat dokumen, presentasi, atau mencari informasi. | Menilai kemampuan menganalisis sistem AI, mengidentifikasi risiko dan bias, merancang solusi, serta merefleksikan implikasi etis dan sosial. |
Matriks ini dapat digunakan sekolah sebagai alat komunikasi internal untuk menjelaskan kepada guru, orang tua, dan pemangku kepentingan lain bahwa integrasi AI ke dalam pendidikan bukan sekadar menambah mata pelajaran baru, tetapi mengubah cara memaknai literasi digital dan kompetensi abad ini.
Langkah Awal Menerapkan Kerangka Ini di Sekolah
Menerjemahkan kerangka kompetensi AI untuk siswa ke dalam praktik tidak harus dilakukan sekaligus. Sekolah dapat memulainya dengan serangkaian langkah bertahap, antara lain:
- Melakukan pemetaan awal.
Sekolah meninjau kurikulum yang sudah ada dan mengidentifikasi bagian yang secara implisit telah menyentuh topik data, algoritme, etika digital, atau penggunaan teknologi. Pemetaan ini membantu menentukan titik masuk pembelajaran AI tanpa harus mengubah seluruh kurikulum secara drastis. - Menyusun visi dan kebijakan internal.
Pimpinan sekolah bersama guru merumuskan pernyataan visi tentang bagaimana AI hendak digunakan untuk mendukung pembelajaran, sekaligus prinsip yang membatasi penggunaan yang berisiko. Kebijakan internal ini penting sebagai rujukan ketika sekolah berhadapan dengan tawaran produk atau platform berbasis AI. - Mengembangkan kapasitas guru.
Guru mendapatkan pelatihan dasar tentang konsep AI, etika, dan dampaknya bagi pendidikan. Fokusnya bukan membuat guru menjadi insinyur AI, tetapi memberi mereka kepercayaan diri untuk memfasilitasi diskusi dan proyek di kelas yang berkaitan dengan AI. - Mencoba unit pembelajaran percontohan.
Sekolah dapat memulai dengan satu unit pembelajaran lintas mata pelajaran yang mengintegrasikan prinsip-prinsip kerangka kompetensi AI, misalnya proyek yang mengkaji rekomendasi konten di media sosial atau mengevaluasi klaim aplikasi pembelajaran adaptif. - Melibatkan siswa dan orang tua.
Siswa diajak sebagai mitra dalam perancangan aktivitas pembelajaran AI, sedangkan orang tua dilibatkan dalam diskusi tentang harapan, kekhawatiran, dan nilai yang ingin dijaga dalam penggunaan AI di rumah maupun di sekolah.
Pendekatan bertahap seperti ini membantu sekolah mengurangi resistensi dan kebingungan, sekaligus memastikan bahwa implementasi kerangka kompetensi AI dilakukan secara reflektif dan berkelanjutan.
Kesimpulan: Menyiapkan Warga Digital yang Bertanggung Jawab
Kerangka kompetensi AI untuk siswa yang disusun UNESCO memberikan fondasi konseptual yang kuat bagi sistem pendidikan di berbagai negara untuk menata ulang cara memandang dan mengajarkan kecerdasan buatan. Ia menggeser fokus dari sekadar penguasaan aplikasi menuju pembentukan warga digital yang kritis, etis, kreatif, dan peduli lingkungan.
Dengan menggabungkan visi humanis, prinsip keadilan sosial, dan kesadaran ekologis, kerangka ini mengingatkan bahwa AI bukan hanya soal inovasi teknologi, tetapi juga tentang bentuk masyarakat seperti apa yang ingin kita bangun. Di tengah derasnya arus komersialisasi dan euforia terhadap solusi berbasis AI, pendidikan memiliki tanggung jawab untuk menumbuhkan kemampuan refleksi, empati, dan tanggung jawab kolektif pada generasi muda.
Artikel pertama ini baru mengulas latar belakang, tujuan, dan prinsip dasar dari kerangka kompetensi AI untuk siswa. Pada artikel berikutnya, pembahasan dapat dilanjutkan dengan menjelajahi struktur kompetensi secara lebih rinci, termasuk dimensi kompetensi, level penguasaan, serta contoh penerapannya di kelas. Dengan memahami kerangka ini secara utuh, sekolah dan guru dapat mengambil langkah yang lebih terarah dalam menyiapkan generasi yang siap hidup dan berkarya secara bermakna di era kecerdasan buatan.
Sumber / Referensi
- https://www.unesco.org/en/articles/ai-competency-framework-students
- https://unesdoc.unesco.org/