Artikel pertama telah membahas latar belakang, tujuan, dan prinsip dasar kerangka kompetensi kecerdasan buatan untuk siswa yang disusun oleh UNESCO. Pertanyaan berikutnya adalah: seperti apa struktur kerangka ini secara lebih rinci, dan bagaimana ia dapat membantu sekolah merancang pembelajaran yang sistematis dari jenjang ke jenjang? Jawabannya terdapat dalam bagian yang dalam dokumen asli disebut sebagai struktur kerangka kompetensi, yang menjadi fokus pembahasan dalam artikel kedua ini.
Pada tingkat praktis, kerangka ini diterjemahkan ke dalam matriks dua dimensi. Dimensi pertama berisi empat aspek kompetensi yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. Dimensi kedua berisi tiga tingkat progresi yang menggambarkan kedalaman penguasaan peserta didik, mulai dari memahami, menerapkan, hingga mencipta. Di titik pertemuan antara aspek dan level inilah muncul dua belas blok kompetensi yang menjadi “tulang punggung” kerangka.
Artikel ini akan menjelaskan bagaimana matriks tersebut disusun, apa makna setiap level progresi, serta bagaimana empat aspek utama kompetensi AI saling menopang. Selain itu, akan disajikan matriks perbandingan singkat untuk menajamkan perbedaan orientasi antara tingkat pemahaman, penerapan, dan penciptaan, sehingga sekolah dapat lebih mudah memetakan target pembelajaran di setiap jenjang.
Daftar Isi
- Ringkasan Struktur Kerangka Kompetensi AI untuk Siswa
- Tiga Level Progresi Kompetensi AI
- Empat Aspek Kompetensi AI dan Blok Kompetensinya
- Matriks Perbandingan Tiga Level Progresi Kompetensi AI
- Implikasi Pembelajaran di Sekolah
- Kesimpulan: Dari Skema di Atas Kertas ke Praktik di Kelas
- Sumber / Referensi
Ringkasan Struktur Kerangka Kompetensi AI untuk Siswa
Struktur kerangka kompetensi kecerdasan buatan untuk siswa disusun sebagai matriks dua dimensi yang sederhana secara visual, tetapi kaya secara konseptual. Dimensi melintang memuat empat aspek kompetensi yang mencerminkan cara pandang, nilai, pengetahuan teknis, dan kemampuan desain sistem. Dimensi tegak memuat tiga tingkat progresi yang menggambarkan pendalaman penguasaan kompetensi seiring perjalanan pendidikan peserta didik.
Di persilangan kedua dimensi tersebut terdapat dua belas blok kompetensi. Tiap blok menggabungkan satu aspek dengan satu level progresi. Misalnya, ketika aspek cara pandang berpusat pada manusia bertemu dengan level memahami, muncul blok yang menekankan kesadaran peserta didik terhadap peran manusia, akuntabilitas, dan kewargaan di era kecerdasan buatan. Ketika aspek teknik dan aplikasi bertemu dengan level mencipta, muncul blok yang menuntut kemampuan merancang dan membangun solusi berbasis AI secara etis.
Penting untuk ditekankan bahwa dua belas blok tersebut bukan daftar topik terpisah yang bisa diajarkan secara terpotong. Dokumen UNESCO justru mendorong agar sekolah memandangnya sebagai satu kesatuan yang saling terhubung. Artinya, ketika guru merancang sebuah unit pembelajaran, ia dapat menggabungkan beberapa blok sekaligus, sehingga siswa belajar konsep, nilai, dan keterampilan teknis dalam konteks masalah yang nyata di kehidupan mereka.
Tiga Level Progresi Kompetensi AI
Kerangka ini menetapkan tiga tingkat progresi penguasaan kompetensi kecerdasan buatan, yaitu memahami, menerapkan, dan mencipta. Ketiganya bukan jenjang yang kaku, melainkan lintasan yang dapat dilalui siswa secara berulang dan bertahap. Peserta didik dapat kembali ke level pemahaman saat menghadapi konteks baru, atau melangkah ke level penerapan dan penciptaan ketika sudah siap secara konseptual dan emosional.
Level progresi ini penting karena membantu sekolah dan pembuat kebijakan menghindari dua ekstrem. Di satu sisi, pembelajaran AI tidak boleh terlalu dangkal sehingga hanya berhenti pada pengenalan istilah. Di sisi lain, ia juga tidak boleh terlalu teknis sampai mengabaikan nilai, emosi, dan kapasitas berbeda setiap peserta didik. Dengan tiga level progresi, kerangka ini menyediakan jalan tengah yang seimbang antara kedalaman pengetahuan dan keluasan partisipasi.
Level Memahami: Fondasi Konseptual dan Kesadaran Etis
Level memahami dapat dilihat sebagai fondasi yang wajib dimiliki setiap peserta didik. Pada tingkat ini, siswa diajak untuk mengenal konsep dasar kecerdasan buatan, data, algoritme, serta contoh penggunaannya dalam berbagai bidang. Namun, pembelajaran tidak berhenti pada penjelasan teknis. Siswa juga diminta untuk menimbang manfaat, risiko, dan dampak sosial dari sistem AI yang mereka temui.
Di wilayah cara pandang berpusat pada manusia, siswa mulai menyadari bahwa kecerdasan buatan tidak netral; ia dirancang oleh manusia dengan tujuan tertentu dan dibangun di atas data yang juga dikumpulkan dari manusia. Peserta didik belajar bahwa manusia tetap memegang tanggung jawab atas keputusan yang memanfaatkan AI, terutama ketika menyangkut keselamatan, keadilan, dan hak asasi.
Dalam aspek etika, level memahami menekankan pengenalan prinsip dasar seperti keadilan, non diskriminasi, transparansi, dan perlindungan data. Siswa mulai belajar mengenali contoh bias, misalnya ketika sistem rekomendasi cenderung menampilkan konten tertentu dan mengabaikan yang lain. Mereka dilatih untuk bertanya mengapa hal itu terjadi dan apa dampaknya bagi kelompok yang berbeda.
Level Menerapkan: Penggunaan Praktis dan Pengambilan Keputusan
Level menerapkan menandai tahap ketika siswa mulai menggunakan kecerdasan buatan secara lebih aktif untuk menyelesaikan tugas dan memecahkan masalah. Pada tahap ini, kompetensi tidak lagi berhenti pada pengenalan konsep, tetapi bergerak ke arah penerapan dalam situasi nyata di sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam aspek teknik dan aplikasi, siswa belajar menggunakan alat berbasis AI untuk tugas tertentu, misalnya menganalisis data sederhana, mengelompokkan informasi, atau membuat prototipe proyek yang memanfaatkan model pembelajaran mesin dasar. Fokusnya bukan menjadikan semua siswa pemrogram, tetapi membekali mereka kemampuan bekerja dengan alat AI dengan pemahaman konteks dan keterbatasannya.
Dari sisi cara pandang berpusat pada manusia dan etika, level menerapkan menuntut siswa untuk mengambil keputusan yang bertanggung jawab ketika menggunakan AI. Mereka perlu menimbang kapan penggunaan AI memperkuat tujuan pembelajaran dan kapan justru mereduksi kemampuan berpikir mandiri. Siswa juga belajar mengelola data secara aman, memberi atribusi yang layak, serta menghindari penggunaan AI untuk tujuan yang berpotensi merugikan orang lain.
Level Mencipta: Co-creation dan Desain Sistem AI
Level mencipta merupakan tahap lanjutan bagi siswa yang memiliki minat dan kesempatan untuk mendalami kecerdasan buatan secara lebih serius. Pada tahap ini, peserta didik tidak hanya menggunakan alat yang sudah ada, tetapi mulai belajar bagaimana sistem AI dirancang, dibangun, diuji, dan disempurnakan. Mereka memasuki ranah co-creation, yaitu ikut ambil bagian dalam proses kreatif pengembangan solusi berbasis AI.
Dari sisi teknik, siswa mempelajari dasar pemrograman yang relevan, pengelolaan data, dan proses pelatihan model pada skala yang sesuai dengan usia dan sumber daya yang tersedia. Mereka diajak untuk merancang arsitektur sederhana, menguji performa sistem, dan menginterpretasikan hasilnya. Semua ini dilakukan dengan tetap memegang prinsip cara pandang berpusat pada manusia dan etika yang telah dibangun pada level sebelumnya.
Secara sosial dan emosional, level mencipta menuntut kemampuan kerja tim, komunikasi kompleks, dan keuletan menghadapi ketidakpastian. Siswa belajar bahwa pengembangan sistem AI merupakan proses iteratif penuh umpan balik, koreksi, dan penyempurnaan. Mereka juga didorong untuk merenungkan dampak solusi yang mereka rancang terhadap masyarakat dan lingkungan, serta mengembangkan identitas sebagai anggota komunitas yang berkontribusi pada pengembangan AI yang bertanggung jawab.
Empat Aspek Kompetensi AI dan Blok Kompetensinya
Selain memuat tiga level progresi, kerangka kompetensi kecerdasan buatan untuk siswa juga dibangun di atas empat aspek utama. Aspek-aspek ini dapat dibayangkan sebagai lensa yang berbeda tetapi saling melengkapi dalam memandang AI. Setiap aspek memuat tiga blok kompetensi yang masing-masing terkait dengan level memahami, menerapkan, dan mencipta.
Keempat aspek tersebut adalah: cara pandang berpusat pada manusia, etika kecerdasan buatan, teknik dan aplikasi kecerdasan buatan, serta desain sistem kecerdasan buatan. Penjelasan ringkas berikut memberikan gambaran bagaimana tiap aspek bekerja dan mengapa semuanya perlu hadir bersama dalam pembelajaran di sekolah.
Aspek Cara Pandang Berpusat pada Manusia
Aspek cara pandang berpusat pada manusia menekankan bahwa tujuan utama kecerdasan buatan adalah memperkuat kapasitas manusia, bukan menggantikannya. Dalam kerangka ini, terdapat tiga blok kompetensi yang berkaitan dengan agensi manusia, akuntabilitas manusia, dan kewargaan di era kecerdasan buatan.
Pada level memahami, siswa menyadari bahwa manusia tetap memegang kendali atas keputusan penting, meskipun AI berperan memberi masukan. Mereka belajar bahwa menyerahkan keputusan bernilai tinggi sepenuhnya pada mesin berpotensi mengabaikan konteks, empati, dan nilai yang tidak mudah direduksi menjadi angka. Pada level menerapkan, siswa dilatih untuk mengambil keputusan dengan mempertimbangkan rekomendasi AI, tetapi tetap memegang tanggung jawab pribadi. Pada level mencipta, mereka mulai merancang solusi yang secara sadar menempatkan manusia di pusat desain, misalnya dengan memperhatikan aksesibilitas, kebutuhan pengguna rentan, dan kemudahan penjelasan hasil sistem.
Aspek Etika Kecerdasan Buatan
Aspek etika kecerdasan buatan memayungi nilai, prinsip, dan keterampilan sosial emosional yang diperlukan siswa untuk menavigasi lanskap regulasi dan norma yang terus berkembang. Di dalamnya terdapat blok kompetensi yang berkaitan dengan refleksi nilai, penggunaan yang aman dan bertanggung jawab, serta desain sistem yang mempertimbangkan etika sejak awal.
Pada level memahami, siswa mengenali konsep seperti keadilan, non diskriminasi, transparansi, dan akuntabilitas, serta dapat menemukan contoh pelanggaran dalam kehidupan nyata. Pada level menerapkan, mereka belajar menggunakan AI dengan cara yang sejalan dengan regulasi dan prinsip etis, misalnya menghindari penyebaran informasi menyesatkan, menjaga privasi teman, dan menghormati hak cipta. Pada level mencipta, mereka mulai memasukkan pertimbangan etis ke dalam rancangan solusi, seperti cara mengurangi bias dalam data, menjelaskan cara kerja model kepada pengguna, serta memastikan ada mekanisme koreksi ketika sistem berpotensi menimbulkan dampak negatif.
Aspek Teknik dan Aplikasi Kecerdasan Buatan
Aspek teknik dan aplikasi mencakup pengetahuan konseptual serta keterampilan praktis yang diperlukan untuk memahami cara kerja kecerdasan buatan dan menggunakannya dalam tugas nyata. Di sini, blok kompetensi mencakup fondasi pengetahuan, keterampilan penggunaan, dan kemampuan merancang alat berbasis AI.
Pada level memahami, siswa mengenal konsep dasar seperti data, model, algoritme, dan proses pembelajaran dari contoh. Mereka juga mengamati bagaimana berbagai aplikasi di sekitar mereka memanfaatkan konsep tersebut. Pada level menerapkan, peserta didik mulai menggunakan alat berbasis AI untuk menyelesaikan tugas yang relevan dengan disiplin ilmu lain, misalnya mengelompokkan data sains, menganalisis pola sederhana, atau membuat prototipe karya kreatif. Pada level mencipta, mereka beranjak ke kemampuan lebih lanjut, seperti menulis program sederhana, mengutak-atik parameter model, dan merancang skenario penggunaan yang baru.
Aspek Desain Sistem Kecerdasan Buatan
Aspek desain sistem berfokus pada proses end to end dalam pengembangan solusi kecerdasan buatan. Ia mencakup kompetensi dalam merumuskan masalah, merancang arsitektur sistem, serta menjalankan siklus iteratif pengujian dan perbaikan. Tiga blok kompetensi di sini berkaitan dengan perumusan masalah, desain arsitektur, dan pengelolaan umpan balik.
Pada level memahami, siswa belajar bahwa keberhasilan solusi berbasis AI sangat bergantung pada penetapan masalah yang tepat. Mereka dilatih untuk menilai apakah suatu persoalan memang layak diselesaikan dengan AI, atau apakah ada pendekatan lain yang lebih efektif dan etis. Pada level menerapkan, mereka belajar menyusun komponen sederhana dari suatu sistem, seperti aliran data, pemrosesan, dan keluaran. Pada level mencipta, siswa memasuki tahap yang lebih kompleks, termasuk merancang eksperimen, menguji performa sistem, menginterpretasi hasil pengujian, dan memutuskan perubahan yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas serta mengurangi dampak negatif.
Matriks Perbandingan Tiga Level Progresi Kompetensi AI
Untuk menajamkan pemahaman tentang perbedaan orientasi antara level memahami, menerapkan, dan mencipta, berikut matriks perbandingan yang dapat digunakan sekolah sebagai acuan perencanaan pembelajaran. Matriks ini tidak menggantikan spesifikasi resmi UNESCO, tetapi berfungsi sebagai ringkasan praktis yang mudah dikomunikasikan kepada guru dan pemangku kepentingan.
| Dimensi | Level Memahami | Level Menerapkan | Level Mencipta |
|---|---|---|---|
| Tujuan utama | Membangun kesadaran dan pemahaman dasar tentang kecerdasan buatan, nilai, dan dampaknya. | Menggunakan kecerdasan buatan secara tepat dan bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugas nyata. | Merancang, membangun, dan menyempurnakan solusi berbasis kecerdasan buatan secara etis dan kreatif. |
| Peran siswa | Pembelajar yang mengeksplorasi konsep dan menilai dampak awal terhadap diri dan lingkungan. | Pengguna aktif yang menimbang kapan dan bagaimana menggunakan kecerdasan buatan dalam berbagai konteks. | Co-creator yang terlibat dalam desain dan pengembangan sistem, serta refleksi atas dampak sosial dan lingkungan. |
| Fokus pembelajaran | Istilah dasar, contoh kasus, dan diskusi nilai yang terkait dengan penggunaan kecerdasan buatan. | Proyek kecil, latihan praktis, dan pengambilan keputusan yang melibatkan alat berbasis kecerdasan buatan. | Proyek desain sistem, eksperimen, pengujian, serta integrasi pertimbangan etis dan humanis dalam rancangan. |
| Kebutuhan prasyarat | Literasi digital dasar dan kemampuan refleksi nilai pada tingkat usia yang sesuai. | Pemahaman konsep dasar dan kesiapan untuk mengikuti prosedur teknis serta aturan etis. | Minat dan waktu untuk pendalaman, serta dukungan sumber daya, bimbingan, dan ekosistem belajar yang memadai. |
Matriks ini dapat dijadikan alat diskusi antara pimpinan sekolah dan guru untuk menentukan titik keluar minimal yang diinginkan. Misalnya, sekolah dapat menargetkan bahwa semua siswa setidaknya mencapai penguasaan pada level menerapkan, sementara level mencipta difokuskan pada program peminatan atau klub tertentu.
Implikasi Pembelajaran di Sekolah
Struktur kerangka kompetensi kecerdasan buatan untuk siswa membawa beberapa implikasi penting bagi perencanaan pembelajaran. Pertama, pembelajaran AI tidak sebaiknya dipisahkan sepenuhnya dari mata pelajaran lain. Sebaliknya, kerangka ini mendukung pendekatan lintas disiplin, di mana nilai, konsep teknis, dan kompetensi desain sistem diintegrasikan ke dalam sains, matematika, studi sosial, bahasa, dan kewarganegaraan.
Kedua, tiga level progresi menuntut perencanaan yang berjangka. Sekolah perlu memikirkan bagaimana siswa akan bergerak dari satu level ke level berikutnya seiring kenaikan jenjang. Hal ini mencakup penetapan sasaran pembelajaran per jenjang, penentuan unit pembelajaran programatik, serta pengembangan asesmen yang mampu menangkap perkembangan kompetensi secara bertahap.
Ketiga, empat aspek kompetensi mengisyaratkan bahwa pembelajaran AI tidak boleh terjebak hanya pada wilayah teknis. Guru perlu merancang aktivitas yang memancing refleksi nilai, diskusi etika, dan pengalaman langsung dengan proses pengambilan keputusan. Proyek berbasis masalah, debat kelas tentang kasus nyata, serta kerja kelompok lintas disiplin merupakan contoh strategi yang sejalan dengan semangat kerangka ini.
Keempat, implementasi kerangka membutuhkan dukungan kebijakan dan pengembangan profesional guru. Tanpa pemahaman yang cukup tentang maksud dan struktur kerangka, guru berisiko hanya menambahkan topik baru tanpa mengubah pendekatan pembelajaran. Pelatihan yang berfokus pada penggunaan kerangka sebagai alat perencanaan, bukan sekadar sebagai dokumen normatif, sangat membantu mempercepat adopsi di lapangan.
Kesimpulan: Dari Skema di Atas Kertas ke Praktik di Kelas
Struktur kerangka kompetensi kecerdasan buatan untuk siswa yang dikembangkan UNESCO menawarkan skema konseptual yang kuat dan terstruktur. Dengan matriks yang menggabungkan empat aspek kompetensi dan tiga level progresi, kerangka ini membantu sekolah memetakan secara jelas apa yang perlu dipelajari siswa tentang kecerdasan buatan, bagaimana kedalamannya diatur, dan bagaimana keterkaitan antara pengetahuan, nilai, dan keterampilan teknis dijaga.
Tantangan sesungguhnya adalah menerjemahkan skema yang tampak rapi di atas kertas menjadi praktik pembelajaran yang hidup di ruang kelas. Hal ini membutuhkan kolaborasi antara pembuat kebijakan, pengembang kurikulum, pimpinan sekolah, guru, dan tentu saja siswa itu sendiri. Dengan memahami struktur kerangka ini secara utuh, sekolah dapat mulai merancang langkah kecil namun terarah, misalnya melalui unit pembelajaran percontohan, pengembangan proyek lintas disiplin, dan penguatan asesmen yang lebih autentik.
Artikel kedua ini menutup pembahasan tentang struktur kerangka kompetensi AI untuk siswa dan membuka jalan untuk ulasan yang lebih rinci mengenai spesifikasi kompetensi pada masing-masing level dan aspek. Pada artikel berikutnya, fokus akan beralih kepada bagaimana dua belas blok kompetensi tersebut dijabarkan menjadi pernyataan kompetensi yang dapat langsung digunakan sebagai acuan kurikulum, rencana pelajaran, dan kegiatan pembelajaran di kelas.
Sumber / Referensi
- https://www.unesco.org/en/articles/ai-competency-framework-students
- https://unesdoc.unesco.org/