Penggunaan AI dalam Proses Belajar Mengajar: Antara Peluang dan Tantangan bagi Guru dan Murid

AI mulai hadir di ruang kelas sebagai “asisten digital” bagi guru dan murid. Di satu sisi, AI menjanjikan personalisasi belajar, efisiensi penilaian, dan dukungan aksesibilitas. Di sisi lain, muncul kekhawatiran tentang plagiarisme, ketergantungan, bias, sampai hilangnya esensi proses belajar. Artikel ini mengulas secara kritis dan apresiatif bagaimana AI sebaiknya digunakan dalam proses belajar mengajar.
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah Artificial Intelligence (AI) dan generative AI (seperti ChatGPT dan sejenisnya) menjadi sangat akrab di telinga guru dan murid. Bukan hanya di perguruan tinggi, tetapi juga di sekolah menengah bahkan dasar. Di banyak negara, riset menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga sampai hampir separuh mahasiswa sudah menggunakan alat AI untuk mendukung tugas kuliah, sementara banyak dosen dan guru mulai memanfaatkan AI untuk menyiapkan materi, soal, dan rubrik penilaian.

Badan seperti UNESCO menegaskan bahwa penggunaan AI di pendidikan harus tetap berpusat pada manusia: AI boleh membantu, tetapi guru dan murid tetap menjadi aktor utama yang mengendalikan proses belajar mengajar. AI bukan guru baru, melainkan asisten yang perlu dijinakkan dengan kebijakan, etika, dan literasi yang tepat.

Artikel ini akan membahas penggunaan AI dalam proses belajar mengajar dari perspektif dua entitas utama: Guru dan Murid. Kita akan melihat:

  • Bagaimana AI dapat membantu guru dan murid secara konkret.
  • Bagaimana AI mempengaruhi isu plagiarisme dan integritas akademik.
  • Risiko yang perlu diwaspadai: ketergantungan, bias, privasi data, dan misinformasi.
  • Prinsip dan rekomendasi praktis agar penggunaan AI tetap sehat, kritis, dan bermanfaat.

Tujuannya bukan untuk menakut-nakuti atau mengidolakan AI, tetapi membantu sekolah, guru, dan murid mengambil posisi yang
seimbang: kritis sekaligus apresiatif.

Landscape AI dalam Pendidikan Saat Ini

Riset-riset terkini tentang Artificial Intelligence in Education (AIED) menunjukkan lonjakan sangat signifikan sejak hadirnya generative AI. Review sistematis terhadap ratusan publikasi ilmiah mencatat beberapa tren utama:

  • Peningkatan tajam penggunaan AI untuk personalisasi konten belajar dan umpan balik otomatis.
  • Pemanfaatan AI untuk menganalisis interaksi guru–murid di kelas dan platform daring, termasuk emosi dan partisipasi.
  • Perluasan penggunaan AI dari level perguruan tinggi ke K–12 (SD–SMA), meskipun kesiapan dan kebijakan institusi sangat bervariasi.
  • Perdebatan intens tentang integritas akademik, kreativitas, dan masa depan asesmen tradisional akibat generative AI.

Beberapa studi di tingkat perguruan tinggi menunjukkan bahwa proporsi mahasiswa yang menggunakan AI (misalnya untuk mencari ide, membuat rangkuman, atau menyusun draf awal tulisan) sudah sangat besar, sementara hampir separuh pengajar juga mulai
menggunakannya untuk merancang pembelajaran dan asesmen. Dengan kata lain, AI sudah berada di kelas—apakah institusi siap atau tidak.

Di sisi kebijakan, UNESCO merilis panduan khusus tentang penggunaan generative AI di pendidikan dan riset, yang menekankan:
perlindungan data pribadi, keadilan dan inklusi, transparansi algoritma, dan perlunya literasi AI bagi guru maupun murid.
Rekomendasi ini mendorong negara dan institusi pendidikan untuk tidak sekadar melarang atau membebaskan penggunaan AI,
tetapi merumuskannya dalam kebijakan yang jelas dan manusiawi.

Peran AI untuk Guru: Dari Perencanaan hingga Penilaian

Bagi guru, AI sering kali muncul sebagai “rekan kerja digital” yang tidak pernah capek—meski kadang suka mengarang fakta. Berikut beberapa peran utama AI dalam membantu guru.

1. Asisten Perencanaan Pembelajaran

Banyak guru menghabiskan waktu berjam-jam untuk merancang RPP, bahan ajar, LKS, dan aktivitas kelas. AI dapat membantu pada tahap-tahap berikut:

  • Menghasilkan ide kegiatan pembuka, inti, dan penutup berdasarkan capaian pembelajaran.
  • Menyusun variasi soal (pilihan ganda, uraian, studi kasus) dengan tingkat kesulitan berbeda.
  • Menyesuaikan materi untuk berbagai level kemampuan murid dalam satu kelas.
  • Menerjemahkan atau menyederhanakan teks ilmiah ke bahasa yang lebih mudah dipahami murid.

Contoh cara guru menggunakan AI untuk merancang skenario pembelajaran:

Prompt untuk guru:
"Buatkan rancangan aktivitas pembelajaran 2 x 40 menit untuk kelas 9
tentang topik "Sistem Pernapasan Manusia" dengan model problem-based learning.
Sertakan:
- Tujuan pembelajaran spesifik
- Aktivitas pembuka, inti, penutup
- Contoh pertanyaan pemantik diskusi
- Tugas refleksi di akhir pelajaran."

Hasil dari AI tidak perlu diterima mentah-mentah. Guru tetap perlu mengedit, menyesuaikan dengan konteks kelas, dan memastikan keselarasan dengan kurikulum nasional dan karakter sekolah.

2. Otomasi Penilaian dan Umpan Balik

AI juga dapat membantu guru dalam:

  • Memberi umpan balik awal pada tulisan murid (struktur paragraf, tata bahasa, koherensi).
  • Membuat rubrik penilaian yang lebih terstruktur untuk tugas proyek dan presentasi.
  • Menganalisis pola kesalahan murid dalam ujian pilihan ganda atau kuis daring.

Berbagai platform pembelajaran dan learning management system (LMS) kini menambahkan fitur AI untuk membuat soal otomatis, memberikan penjelasan ketika murid salah, dan merekomendasikan materi pengayaan. Google, misalnya, mengintegrasikan model AI ke dalam ekosistem Workspace for Education untuk membantu guru menyusun materi dan kuis secara lebih cepat di lingkungan yang sudah familiar. Namun, penilaian formatif dan sumatif tetap membutuhkan sentuhan manusia. AI bisa membantu memberi draft komentar, tetapi keputusan akhir dan relasi pedagogis tetap berada di tangan guru.

3. Diferensiasi dan Remedial

Salah satu janji terbesar AI adalah kemampuan untuk mendukung personalized learning: menyesuaikan konten, kecepatan, dan tingkat kesulitan berdasarkan kebutuhan tiap murid. Bagi guru yang mengajar kelas besar, ini merupakan bantuan signifikan untuk:

  • Menyusun paket remedial dan pengayaan yang berbeda bagi murid yang tertinggal atau yang sudah maju.
  • Membuat variasi penjelasan: teks singkat, analogi, gambar, hingga simulasi interaktif.
  • Mengidentifikasi murid yang berisiko tertinggal berdasarkan pola respons di kuis dan tugas.

Di sini, AI tidak menggantikan empati guru, melainkan membantu guru membaca “sinyal” yang sebelumnya sulit ditangkap secara manual dari data yang tersebar.

4. Pengembangan Profesional Guru

AI juga dapat menjadi mitra guru dalam pengembangan profesional:

  • Meringkas artikel penelitian pendidikan menjadi poin-poin kunci.
  • Membantu guru menulis laporan PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dengan struktur yang lebih rapi.
  • Menerjemahkan sumber internasional tentang pedagogi dan teknologi pendidikan.

Tantangannya adalah memastikan bahwa AI mendorong guru untuk belajar lebih dalam, bukan sekadar mempercepat pembuatan dokumen tanpa peningkatan pemahaman.

Peran AI untuk Murid: Personalisasi dan Kemandirian Belajar

Dari sisi murid, AI paling banyak dirasakan sebagai “teman bertanya 24 jam” dan “editor tulisan”.  Jika digunakan dengan benar, AI dapat memperkuat kemandirian belajar, bukan menggantikannya.

1. Tutor Virtual dan Bantuan Belajar Mandiri

Berbagai platform tutoring berbasis AI memungkinkan murid:

  • Mengajukan pertanyaan spontan tentang konsep yang sulit dipahami di kelas.
  • Mendapatkan penjelasan ulang dengan gaya berbeda (lebih visual, lebih sederhana, atau lebih teknis).
  • Berlatih soal dengan tingkat kesulitan yang menyesuaikan kemampuan.

Ketika digunakan dengan panduan yang jelas, tutor virtual dapat membantu murid yang pemalu bertanya di kelas, atau yang membutuhkan pengulangan berkali-kali. Namun, guru perlu mengingatkan bahwa jawaban AI harus dikritisi dan diverifikasi, bukan diterima sebagai “kebenaran absolut”.

2. Dukungan Penulisan dan Literasi

AI dapat membantu murid dalam:

  • Memeriksa tata bahasa, ejaan, dan struktur paragraf.
  • Mengusulkan perbaikan kalimat agar lebih jelas dan efektif.
  • Membantu mencari ide awal untuk esai, tetapi bukan menulis seluruh esai.

Di titik ini, garis batas antara “bantuan sah” dan “plagiarisme terselubung” menjadi tipis. Jika murid hanya menyalin tempel teks yang disusun AI tanpa pemahaman, maka secara substansi ia tidak belajar menulis, bahkan berpotensi melanggar integritas akademik.

3. Aksesibilitas dan Inklusi

AI juga menawarkan peluang besar untuk mendukung murid dengan kebutuhan khusus:

  • Speech-to-text untuk murid yang kesulitan menulis.
  • Text-to-speech dan ringkasan otomatis untuk murid dengan kesulitan membaca.
  • Penerjemahan cepat untuk murid yang bahasa ibunya berbeda dengan bahasa pengantar di sekolah.

Dari sisi keadilan, ini adalah aspek AI yang patut diapresiasi. Dengan catatan, sekolah tetap menjaga keamanan data murid dan memastikan alat yang digunakan sesuai regulasi.

AI dan Plagiarisme: Ancaman atau Peluang Edukasi?

Salah satu kekhawatiran terbesar guru terhadap AI adalah isu plagiarisme dan kecurangan akademik. Generative AI membuat siapa pun dapat menghasilkan esai yang tampak meyakinkan dalam hitungan detik. Di banyak negara, laporan kasus kecurangan yang melibatkan AI meningkat tajam dalam dua tahun terakhir.

1. Bentuk-Bentuk Plagiarisme Baru Berbasis AI

Beberapa pola yang muncul:

  • AI-ghostwriting – murid meminta AI menulis seluruh tugas atau esai, lalu mengumpulkannya seolah karya sendiri.
  • Parafrase otomatis – murid menggunakan AI untuk mengubah teks sumber agar lolos deteksi plagiarisme tradisional,
    tetapi tetap tanpa pemahaman dan tanpa sitasi yang benar.
  • Jawaban ujian berbasis AI – dalam asesmen daring, murid membuka jendela lain untuk mengajukan soal ujian ke AI.

Menariknya, riset menunjukkan bahwa banyak murid yang menggunakan AI sebenarnya bukan untuk “curang”, tetapi untuk mengatasi kecemasan tugas, kebingungan topik, atau keterbatasan bahasa. Tantangan bagi guru adalah membedakan penggunaan yang sah dan yang melanggar.

2. AI sebagai Detektor: Turnitin, GPTZero, dan Lainnya

Untuk merespons fenomena ini, berbagai alat deteksi AI bermunculan, misalnya:

  • Turnitin AI Writing Detection – menandai bagian tulisan yang diduga dihasilkan oleh AI.
  • GPTZero – menganalisis teks dan memperkirakan sejauh mana konten ditulis AI.
  • Alat lain yang tertanam di LMS atau platform penulisan akademik.

Namun, penelitian independen menunjukkan bahwa akurasi alat-alat ini masih jauh dari sempurna. Mereka dapat menghasilkan false positive (menuduh teks manusia sebagai AI) maupun false negative (meloloskan teks AI sebagai tulisan manusia). Artinya, deteksi berbasis AI tidak boleh dijadikan satu-satunya dasar sanksi disiplin.

3. Mengubah Asesmen: Dari Berburu Pelaku ke Mendidik Integritas

Banyak penelitian tentang generative AI menyarankan pergeseran strategi:

  • Mendesain asesmen yang menekankan proses, bukan hanya produk akhir (draft, revisi, refleksi).
  • Memperbanyak tugas berbasis proyek, diskusi lisan, dan in-class writing.
  • Meminta murid menjelaskan secara lisan bagaimana mereka menggunakan AI dalam mengerjakan tugas.
  • Menetapkan kebijakan jelas: kapan penggunaan AI diperbolehkan (misalnya untuk brainstorming) dan kapan dilarang.

Dengan pendekatan ini, AI bukan hanya dilihat sebagai ancaman plagiarisme, tetapi juga sebagai momentum untuk menguatkan pendidikan karakter dan literasi digital murid.

Risiko Etis dan Tantangan Penggunaan AI bagi Guru dan Murid

Di balik potensinya, penelitian dan laporan internasional juga mengingatkan beberapa risiko besar penggunaan AI di pendidikan.

1. Ketergantungan dan Menurunnya Kemampuan Berpikir

Beberapa kajian literatur mencatat kekhawatiran bahwa murid yang terlalu mengandalkan AI:

  • Lebih jarang berlatih menulis dari nol.
  • Cenderung menerima jawaban tanpa mengkritisi sumber dan logika.
  • Mengalami penurunan kemampuan pemecahan masalah dan berpikir kritis jika sebagian besar tugas “diserahkan” ke AI.

Tantangan bagi guru adalah merancang penggunaan AI yang tetap mendorong murid untuk berpikir, bertanya, dan berdiskusi—
bukan hanya menyalin dan menempel.

2. Bias dan Ketidakadilan

AI dilatih dari data besar yang menyimpan jejak bias sosial, budaya, dan bahasa. UNESCO memperingatkan bahwa tanpa regulasi dan desain yang tepat, AI dapat:

  • Mereproduksi stereotip gender, etnis, atau budaya dalam contoh dan narasi.
  • Kurang akurat atau kurang adil bagi bahasa dan dialek yang kurang terwakili di data pelatihan.
  • Memperkuat kesenjangan bagi sekolah yang tidak memiliki infrastruktur digital memadai.

Oleh karena itu, guru perlu mengajak murid untuk berdialog tentang dari mana data AI berasal, siapa yang mendesainnya, dan nilai apa yang mungkin tertanam di dalamnya.

3. Privasi dan Keamanan Data

Banyak alat AI komersial mengumpulkan data interaksi pengguna untuk meningkatkan model. Jika digunakan tanpa kebijakan yang jelas di sekolah:

  • Data murid (termasuk nama, tulisan, bahkan informasi sensitif) berisiko disimpan di server luar negeri.
  • Institusi tidak memiliki kendali penuh atas bagaimana data digunakan kembali.
  • Potensi pelanggaran regulasi perlindungan data pribadi meningkat.

Panduan internasional mendorong pemerintah dan sekolah untuk:

  • Memilih alat AI yang memenuhi standar privasi dan keamanan yang ketat.
  • Menetapkan batasan jenis data yang boleh dimasukkan ke dalam layanan AI.
  • Memberi tahu orang tua dan murid tentang kebijakan penggunaan AI dan pengelolaan data.

4. Misinformasi dan “Hallucination” AI

AI generatif dapat menyusun penjelasan yang terdengar meyakinkan tetapi tidak akurat, atau bahkan menghasilkan rujukan dan kutipan yang tidak pernah ada. Beberapa laporan internasional juga memperingatkan risiko AI dalam menyebarkan narasi sejarah yang menyesatkan dan teori konspirasi, jika tidak diawasi dan dikurasi dengan benar.

Bagi murid, ini berarti:

  • Mereka harus diajarkan untuk selalu memeriksa ulang informasi dari AI ke sumber primer yang kredibel.
  • Sikap skeptis sehat perlu dibangun: “AI bisa salah dan saya berhak mempertanyakannya.”

Bagi guru, ini menggeser peran dari sekadar “penyampai informasi” menjadi “pelatih literasi informasi” yang membantu murid memilah informasi benar dan salah, termasuk yang dihasilkan AI.

Matriks Perbandingan: Sisi Positif dan Negatif Penggunaan AI dalam Belajar Mengajar

Untuk merangkum sekaligus membandingkan dampak AI bagi proses belajar mengajar, tabel berikut menggarisbawahi beberapa aspek kunci dari perspektif guru dan murid.

Matriks Perbandingan Sisi Positif dan Negatif Penggunaan AI dalam Pendidikan
Aspek Potensi Manfaat AI Potensi Risiko AI
Perencanaan pembelajaran Mempercepat pembuatan RPP, soal, dan materi berbeda level; memberi ide variasi aktivitas. Guru menjadi terlalu bergantung, kreativitas desain pembelajaran menurun.
Personalisasi belajar Konten dan latihan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kecepatan belajar tiap murid. Ketimpangan akses bagi sekolah/keluarga dengan infrastruktur digital terbatas.
Penilaian dan umpan balik Umpan balik awal lebih cepat, analisis pola kesalahan lebih mudah, guru bisa fokus pada aspek kualitatif. Risiko penilaian otomatis yang tidak sensitif terhadap konteks dan nuansa jawaban murid.
Keterampilan menulis murid AI membantu murid memperbaiki tata bahasa, struktur, dan gaya bahasa. Murid dapat kehilangan latihan menulis dari nol dan bergantung pada AI sebagai “penulis utama”.
Integritas akademik AI dapat membantu deteksi pola plagiarisme dan memfasilitasi diskusi tentang etika. AI mempermudah kecurangan (ghostwriting, parafrase otomatis), sementara deteksi tidak selalu akurat.
Literasi digital & berpikir kritis Kesempatan melatih murid untuk mengkritisi sumber, data, dan jawaban dari AI. Jika tidak diarahkan, murid cenderung menerima jawaban AI tanpa verifikasi.
Peran dan identitas guru Guru terbantu secara administratif dan dapat fokus pada interaksi, bimbingan, dan pembentukan karakter. Guru yang tidak dibekali pelatihan dapat merasa terancam atau kewalahan oleh teknologi baru.

Rekomendasi Praktis untuk Sekolah, Guru, dan Murid

Agar penggunaan AI dalam proses belajar mengajar tetap sehat, seimbang, dan sesuai nilai pendidikan, berikut beberapa rekomendasi praktis.

1. Untuk Sekolah dan Pengambil Kebijakan

  • Menyusun kebijakan AI di sekolah yang jelas: apa yang diperbolehkan, dilarang, dan direkomendasikan.
  • Memilih alat AI yang sesuai regulasi privasi data dan dapat diaudit.
  • Menyediakan pelatihan literasi AI bagi guru dan tenaga kependidikan.
  • Memastikan akses yang relatif merata ke perangkat dan koneksi internet untuk meminimalkan kesenjangan.

2. Untuk Guru

  • Memanfaatkan AI untuk memperkaya ide, bukan menggantikan refleksi pedagogis pribadi.
  • Menjelaskan kepada murid cara menggunakan AI secara etis, termasuk kewajiban sitasi ketika ide berasal dari AI.
  • Mendesain tugas yang menuntut proses: draf, revisi, jurnal refleksi, dan presentasi lisan.
  • Mengintegrasikan diskusi tentang bias, privasi, dan keandalan AI ke dalam materi pelajaran.

3. Untuk Murid

  • Menggunakan AI sebagai alat bantu belajar, bukan mesin pembuat tugas.
  • Selalu memeriksa ulang informasi yang dihasilkan AI ke sumber lain yang kredibel.
  • Mencatat secara jujur bagaimana AI digunakan dalam mengerjakan tugas ketika diminta guru.
  • Menyadari bahwa kemampuan berpikir, menulis, dan berdiskusi tidak bisa “di-outsource” ke mesin.

4. Contoh Butir Kontrak Kelas Terkait AI

Guru dapat menyusun “kontrak kelas AI” singkat, misalnya:

Contoh kontrak kelas:
1. Saya boleh menggunakan AI untuk:
   - Brainstorming ide
   - Menjelaskan konsep sulit
   - Memeriksa tata bahasa

2. Saya tidak boleh menggunakan AI untuk:
   - Menulis seluruh tugas dan mengakuinya sebagai karya sendiri
   - Mengerjakan ujian atau kuis yang dilarang menggunakan AI

3. Jika saya menggunakan AI, saya akan:
   - Mencatat cara penggunaan AI di bagian akhir tugas
   - Tetap membaca, mengedit, dan memahami isi tugas saya sendiri

Pilihan menggunakan kontrak yang jelas, AI tidak lagi menjadi “musuh” yang harus diburu, tetapi alat yang dikelola bersama secara dewasa.

Kesimpulan

Penggunaan AI dalam proses belajar mengajar membawa dua wajah yang sama kuat: satu wajah penuh peluang, satu wajah penuh pertanyaan. Dari sisi peluang, AI dapat membantu guru menyederhanakan tugas administratif, memperkaya variasi pembelajaran, dan memberikan umpan balik lebih cepat. Bagi murid, AI dapat menjadi teman belajar yang sabar, membantu mengatasi hambatan bahasa, dan menyesuaikan materi dengan kebutuhan individu.

Dari sisi tantangan, AI memaksa kita untuk memikirkan ulang konsep integritas akademik, desain asesmen, keadilan akses, privasi data, hingga peran guru di kelas. Riset menunjukkan bahwa manfaat AI baru benar-benar terasa ketika institusi memiliki kebijakan yang matang, guru memiliki literasi AI yang memadai, dan murid diajak terlibat sebagai subjek yang kritis, bukan sekadar konsumen teknologi.

Posisi yang paling sehat mungkin adalah ini: AI adalah asisten cerdas, bukan guru pengganti. Guru tetap memegang kendali nilai, tujuan, dan strategi pembelajaran. Murid tetap bertanggung jawab atas proses belajarnya sendiri. AI, di tengah-tengah mereka, menjadi alat yang terus-menerus dinegosiasikan: kapan ia membantu, kapan ia harus ditantang, dan kapan ia sebaiknya dimatikan agar manusia bisa berpikir tanpa “bisikan mesin”.

Baca juga & langkah lanjutan

Langkah Berikutnya untuk Sekolah Anda

Jika sekolah Anda belum memiliki panduan resmi tentang penggunaan AI, inilah saat yang tepat untuk memulainya. Libatkan guru, murid, dan orang tua dalam diskusi. Petakan alat AI apa saja yang sudah digunakan, risiko yang perlu diantisipasi, serta peluang yang dapat dimanfaatkan. Dengan pendekatan yang terencana, AI dapat menjadi bagian dari strategi peningkatan kualitas
pembelajaran, bukan sekadar tren teknologi sesaat.

Sumber / Referensi

  • https://www.unesco.org/en/articles/guidance-generative-ai-education-and-research
  • https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0957417424010339
  • https://www.researchgate.net/publication/394827473_Systematic_Review_of_Artificial_Intelligence_in_Education_Trends_Benefits_and_Challenges
  • https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2666920X24000225
  • https://www.turnitin.com/solutions/ai-writing
  • https://gptzero.me/news/best-ai-tools-teachers
  • https://www.theguardian.com/education/2025/jun/15/thousands-of-uk-university-students-caught-cheating-using-ai-artificial-intelligence-survey


Share the Post:

Related Posts