Dalam praktik, dua model sering bercampur: (1) potongan keterlambatan sebagai
pengurang upah yang dihitung oleh HRD; atau (2) “denda” yang diperlakukan sebagai kas masuk ke Keuangan. Model kedua menggoda (ada uang yang “masuk”), namun secara tata kelola dan pajak bisa menimbulkan masalah: basis PPh 21 kabur, muncul pendapatan lain-lain pada perusahaan, dan risiko kepatuhan meningkat. Model pertama—potongan sebagai pengurang upah—lebih bersih, terukur, dan konsisten dengan prinsip “gaji dibayar untuk jam/kehadiran yang sah”.
Daftar Isi
Dasar Hukum Potongan Keterlambatan
- PP 36/2021 tentang Pengupahan memperbolehkan pemotongan upah untuk denda, ganti rugi, dsb., sepanjang diatur dalam Perjanjian Kerja/Peraturan Perusahaan/PKB; total potongan tidak boleh melebihi 50% dari setiap pembayaran upah. Hal ini menegaskan legalitas potongan karena keterlambatan, asalkan ada dasar tertulis. :contentReference[oaicite:0]{index=0}
- Praktik HR (Hukumonline/penyedia HRIS) juga merujuk bahwa pemotongan keterlambatan boleh dilakukan dengan dasar aturan internal yang jelas dan proporsional. :contentReference[oaicite:1]{index=1}
- PPh 21 (PMK 168/2023): PPh 21 dipotong atas penghasilan berupa gaji/upah/tunjangan yang diterima atau diperoleh pegawai; pendekatan tarif efektif (TER) berlaku sesuai ketentuan. Prinsip “diterima/diperoleh” relevan saat menentukan basis bila upah dikurangi karena keterlambatan. :contentReference[oaicite:2]{index=2}
Mengapa Dikelola HRD, Bukan Keuangan
- Substansi upah — Keterlambatan memengaruhi hak atas upah (jam kerja/kehadiran). Itu ranah HRD (data absensi, kebijakan kehadiran, sanksi disiplin). Keuangan seharusnya mengeksekusi pembayaran sesuai “hak” yang telah dihitung HRD.
- Segregation of duties — HRD sebagai maker (perhitungan/hak), Keuangan sebagai approver & payer. Menghindari konflik kepentingan dan double counting (potongan menjadi “kas denda”).
- Hindari objek pajak baru — Jika potongan diperlakukan sebagai “denda” yang masuk kas perusahaan, ada risiko diakui sebagai pendapatan lain-lain yang kena PPh Badan. Jika diperlakukan sebagai pengurang upah, tidak ada arus kas “tambahan” dan tidak muncul objek baru.
- Kepastian PPh 21 — Dengan potongan sebagai koreksi upah, basis PPh 21 konsisten dengan penghasilan yang benar-benar diterima/terutang pegawai. :contentReference[oaicite:3]{index=3}
Konsekuensi Pajak: PPh 21 & Risiko “Objek Baru”
Dua skenario umum:
- Potongan sebagai pengurang upah (direkomendasikan): upah bruto periode = upah untuk jam/kehadiran yang sah. Potongan keterlambatan mengurangi hak upah, sehingga basis PPh 21 dihitung dari upah yang memang menjadi hak pegawai. Beberapa rujukan HR/payroll juga menempatkan denda keterlambatan sebagai pengurang sebelum PPh 21 karena tidak “diterima” pegawai. Pastikan kebijakan tertulis dan parameternya jelas. :contentReference[oaicite:4]{index=4}
- “Denda” sebagai kas masuk perusahaan (tidak disarankan): jika perusahaan menagih denda terpisah, nominal itu berpotensi dipandang sebagai penghasilan perusahaan (PPh Badan). Di sisi pegawai, PPh 21 bisa berbenturan (apakah denda diumumkan sesudah penentuan penghasilan bruto?). Model ini membuka risiko pajak dan audit trail yang kurang rapi.
Catatan: komponen pengurang standar PPh 21 yang diakui eksplisit (mis. iuran pensiun/BPJS tertentu) diatur khusus; potongan kedisiplinan tidak disebut sebagai pengurang khusus. Oleh karena itu, pastikan penetapan “potongan keterlambatan” dilakukan di level
hak upah (jam/kehadiran) — bukan sebagai “denda pasca upah” — agar tidak menimbulkan basis pajak baru. :contentReference[oaicite:5]{index=5}
Cara Akuntansi yang Benar (Tanpa Objek Pajak Baru)
Prinsip: potongan keterlambatan harus “memotong biaya gaji”, bukan “menciptakan pendapatan denda”. Dengan demikian, tidak ada objek pajak baru di sisi perusahaan.
- Di HRD (perhitungan hak): upah periode dihitung berdasarkan jam/kehadiran sah. Potongan keterlambatan mengurangi upah bruto pada sumbernya.
- Di Keuangan (pembukuan): catat biaya gaji sebesar upah setelah koreksi keterlambatan; PPh 21 normal sesuai basis upah tersebut; bayar gaji bersih. Hindari akun “pendapatan denda”.
- Arus kas: tidak ada pemasukan “denda”; yang ada hanyalah pembayaran gaji yang lebih kecil karena hak upah berkurang.
Perbandingan 3 Model Perlakuan
| Model |
Deskripsi |
Dampak PPh 21 |
Dampak PPh Badan |
Risiko & Catatan |
Rekomendasi |
| A. Pengurang upah (HRD) |
Keterlambatan menurunkan hak upah (jam/kehadiran) |
Basis PPh 21 = upah setelah koreksi hak |
Tidak ada “pendapatan denda” → tidak ada objek baru |
Butuh aturan tertulis, parametrik & jejak absensi |
Direkomendasikan |
| B. Denda kas masuk (Finance) |
Upah tetap, lalu ditagih denda terpisah ke karyawan |
Basis bisa rancu (bruto vs neto setelah denda) |
Berpotensi jadi pendapatan lain-lain (kena PPh Badan) |
Jejak audit & kepatuhan lebih berat |
Tidak disarankan |
| C. Dana clearing internal |
Denda “ditahan” sementara, lalu dikompensasikan |
Tetap berisiko apabila tidak mengoreksi hak upah |
Jika akhirnya diakui pendapatan, timbul objek pajak |
Administratif kompleks; mudah salah klasifikasi |
Hindari |
RACI: Siapa Melakukan Apa
R = Responsible,
A = Accountable,
C = Consulted,
I = Informed.
| Aktivitas |
HRD |
Finance |
TI/HRIS |
Pimpinan |
Audit/Compliance |
| Aturan & parameter potongan keterlambatan |
A/R |
C |
C |
I |
C |
| Perhitungan hak upah (jam/kehadiran) |
A/R |
I |
C |
I |
C |
| Pembayaran gaji & PPh 21 |
I |
A/R |
C |
I |
C |
| Pelaporan pajak masa |
I |
A/R |
I |
I |
C |
| Audit trail & rekonsiliasi |
C |
A |
R |
I |
C |
FAQ Singkat
Apakah boleh memotong karena keterlambatan? Boleh, asalkan diatur dalam PK/PP/PKB dan total potongan ≤ 50% dari pembayaran upah. :contentReference[oaicite:6]{index=6}
Apakah potongan mengurangi basis PPh 21? Jika ditetapkan sebagai
pengurang hak upah (bukan “denda kas”), basis PPh 21 mengikuti upah yang benar-benar diterima/terutang. Pastikan kebijakan & perhitungan terdokumentasi. :contentReference[oaicite:7]{index=7}
Mengapa jangan dicatat sebagai “pendapatan denda”? Karena dapat menciptakan objek pajak badan baru dan memperumit rekonsiliasi penggajian. Perlakukan sebagai koreksi biaya gaji.
Kesimpulan
Untuk menghindari sengkarut pajak dan audit,
kelola potongan keterlambatan di HRD sebagai
pengurang hak upah, bukan “denda” yang masuk kas Keuangan. Finance cukup mengeksekusi pembayaran bersih dan membukukan biaya gaji yang telah dikoreksi. Hasilnya: basis PPh 21 yang konsisten, tidak ada pendapatan baru di perusahaan, dan tata kelola yang bersih serta dapat diaudit. :contentReference[oaicite:8]{index=8}
Sumber/Referensi