Kecerdasan artifisial (AI) telah mengubah wajah pendidikan. Relasi yang dulu sederhana antara guru dan murid kini berkembang menjadi segitiga baru: guru – AI – murid. Di satu sisi, AI mampu mengolah informasi dalam skala sangat besar, mengenali pola, dan menghasilkan konten baru yang dapat membantu pembelajaran dan pengelolaan kelas. Di sisi lain, AI juga membawa risiko terhadap agensi guru, privasi data, kesetaraan, serta kualitas proses belajar itu sendiri.
UNESCO merespons dinamika ini dengan menyusun AI competency framework for teachers, sebuah kerangka kompetensi global yang memetakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai yang perlu dimiliki guru untuk dapat menggunakan AI secara aman, etis, dan efektif. Kerangka tersebut menjadi landasan penting karena menjelaskan empat pertanyaan kunci: mengapa kerangka ini diperlukan, apa tujuan dan sasaran penggunanya, bagaimana hubungan dengan kerangka TIK sebelumnya, dan apa implikasi kemajuan teknologi AI terhadap kompetensi guru.
Artikel ini menyajikan ulasan komprehensif dengan fokus pada konteks praktik pendidikan di sekolah: bagaimana guru, kepala sekolah, maupun pengelola yayasan dapat membaca Artikel ini ini sebagai sinyal awal untuk menata strategi literasi AI dan pengembangan profesional guru.
Gambaran Umum Kerangka Kompetensi AI untuk Guru
Kerangka kompetensi AI untuk guru dirancang sebagai referensi global yang dapat diterjemahkan menjadi kebijakan nasional, program pelatihan guru, maupun standar kompetensi di tingkat institusi pendidikan. Kerangka ini berangkat dari visi pendidikan sebagai hak asasi manusia dan barang publik, sejalan dengan Agenda Pendidikan global yang menekankan pendidikan inklusif, adil, dan berkualitas sepanjang hayat. Secara konseptual, kerangka ini memandang guru sebagai:- perancang dan fasilitator pembelajaran yang memanfaatkan AI dengan cara yang memuliakan martabat manusia;
- penjaga praktik aman dan etis dalam lingkungan pembelajaran yang kaya teknologi;
- teladan pembelajar sepanjang hayat dalam memahami, menggunakan, dan mengkritisi AI;
- aktor kunci yang memastikan bahwa teknologi tidak menggantikan esensi hubungan manusiawi dalam pendidikan.
Mengapa Kerangka Kompetensi AI Diperlukan
Perubahan relasi guru, murid, dan AI
AI membawa kemampuan yang sebelumnya mustahil dilakukan secara manual: mengolah teks dalam jumlah sangat besar, mengenali pola dalam data, menghasilkan gambar, suara, dan tulisan, serta memberikan rekomendasi berbasis prediksi. Dalam konteks pendidikan, kemampuan ini mengubah cara guru merancang pembelajaran, memberi umpan balik, bahkan mengelola kelas. Relasi yang semula linier antara guru dan murid kini menjadi ekosistem baru: murid dapat berinteraksi langsung dengan AI di luar pengawasan guru, guru dapat mengandalkan AI dalam menyiapkan materi, dan sekolah mulai mengintegrasikan AI ke dalam sistem manajemen pembelajaran. Kerangka kompetensi AI hadir agar pergeseran ini tidak terjadi secara liar, tetapi terarah oleh nilai-nilai kemanusiaan dan pedagogi yang sehat.Potensi positif AI bagi pembelajaran
Bab pengantar menegaskan bahwa AI berpotensi besar memperkaya pengalaman belajar dan mendukung tugas guru. AI dapat membantu:- mempersonalisasi pembelajaran dengan menyesuaikan konten dan tempo belajar;
- membantu analisis kebutuhan belajar murid melalui data asesmen;
- mengotomasi tugas administratif sehingga waktu guru lebih banyak untuk interaksi bermakna;
- menyediakan sumber belajar baru, misalnya simulasi, latihan adaptif, atau materi multimodal.
Risiko AI bagi pendidikan dan profesi guru
Di balik potensi juga menyoroti risiko serius:- Ancaman terhadap agensi manusia: keputusan penting dalam pembelajaran bisa tergoda untuk diserahkan sepenuhnya kepada algoritma, sehingga menggerus kemandirian berpikir guru dan murid.
- Reduksi pembelajaran menjadi sekadar kalkulasi:</strong proses belajar yang kaya nilai, dialog, dan pengalaman sosial bisa tereduksi menjadi serangkaian tugas otomatis yang dapat “diselesaikan” mesin.
- Ketimpangan dan diskriminasi:</strong data yang bias dapat menghasilkan rekomendasi yang memperkuat stereotip dan ketidakadilan, khususnya terhadap kelompok rentan.
- Pengalihan anggaran ke teknologi semata:</strong investasi berlebihan pada perangkat dan platform bisa mengorbankan investasi pada pengembangan kapasitas guru.
Kebutuhan dukungan kebijakan dan pelatihan
Hal ini menekankan bahwa guru tidak bisa dibiarkan berjuang sendiri menghadapi AI. Otoritas pendidikan berkewajiban:- meninjau ulang dan mendefinisikan peran serta kompetensi guru di era AI;
- memperkuat lembaga pendidikan guru agar mampu memasukkan AI dalam kurikulum dan praktik;
- menyiapkan program peningkatan kapasitas yang sistematis, bukan pelatihan sesaat.
Tujuan dan Sasaran Pengguna Kerangka
Fokus pada guru semua mata pelajaran
Kerangka kompetensi AI ini tidak ditujukan terutama bagi guru yang mengajar mata pelajaran AI tingkat lanjut, melainkan bagi semua guru yang menggunakan AI untuk mendukung pembelajaran di mata pelajaran inti. Dengan kata lain, fokusnya bukan mencetak “programmer AI”, melainkan pendidik yang melek AI, mampu memanfaatkan dan mengkritisi teknologi ini dalam konteks pembelajaran sehari-hari. Guru yang secara khusus mengajar AI tentu dapat menjadikan kerangka ini sebagai dasar, tetapi kedalaman dan detail kompetensinya perlu dikembangkan lebih lanjut di tingkat kurikulum nasional atau institusional.Tiga fungsi utama kerangka
Artikel ini menjelaskan bahwa kerangka ini memiliki beberapa fungsi kunci:- Referensi untuk kerangka nasional atau lokal:</strong membantu pemerintah, dinas pendidikan, dan yayasan menyusun standar kompetensi AI bagi guru yang selaras dengan prinsip hak asasi manusia dan pendidik sebagai profesi.
- Landasan desain program pelatihan:</strong memberikan struktur yang jelas bagi lembaga pendidikan guru dan penyelenggara pelatihan dalam merancang kurikulum, modul, dan pengalaman belajar terkait AI.
- Matriks benchmarking dan asesmen:</strong menyediakan bahasa bersama untuk menilai sejauh mana kompetensi AI guru telah berkembang, baik di tingkat individu maupun sistem.
Para pemangku kepentingan yang disasar
Target pengguna kerangka ini cukup luas:- pembuat kebijakan di tingkat nasional, daerah, maupun lembaga;
- lembaga pendidikan guru dan penyedia pelatihan profesional;
- serikat atau asosiasi guru;
- kepala sekolah dan pengelola lembaga pendidikan;
- guru dan praktisi pendidikan itu sendiri.
Keterkaitan dengan Kerangka Kompetensi TIK untuk Guru
Dari TIK ke AI: kesinambungan, bukan penggantian
UNESCO sebelumnya telah menerbitkan ICT Competency Framework for Teachers, yang memberi panduan bagaimana guru memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran dan pengembangan profesional. Artikel ini menegaskan bahwa kerangka AI bukan pengganti, melainkan pelengkap kerangka TIK tersebut. Guru tetap memerlukan kompetensi TIK dasar dan lanjutan; AI datang sebagai lapisan baru yang membawa tantangan dan peluang yang berbeda. Dengan kata lain, literasi TIK adalah fondasi, sedangkan literasi AI adalah perluasan yang menangani kemampuan sistem yang kini dapat meniru perilaku manusia, belajar dari data, dan menghasilkan konten secara otonom.Arsitektur pengembangan profesional yang sejalan
Kerangka AI dan kerangka TIK berbagi arsitektur yang mirip:- mengatur kompetensi dalam beberapa dimensi tematik;
- memperhitungkan tahapan pengembangan guru (pra-jabatan, dalam jabatan, dan dukungan berkelanjutan);
- menekankan pentingnya kemajuan bertahap dari pemahaman dasar ke penerapan mendalam, hingga inovasi.
Lingkungan pendukung yang diperlukan
Kerangka ini mengingatkan bahwa kompetensi guru tidak tumbuh di ruang hampa. Diperlukan lingkungan pendukung yang meliputi:- akses yang inklusif terhadap konektivitas dan perangkat;
- kebijakan yang berorientasi pada manusia dan keadilan sosial;
- kurikulum dan sistem asesmen yang memberi ruang bagi inovasi pedagogis dengan AI;
- dukungan lintas sektor dan keterlibatan komunitas praktik guru.
Lompatan Teknologi AI dan Implikasinya bagi Kompetensi Guru
AI yang meniru perilaku manusia dan tantangan terhadap agensi
Salah satu perbedaan utama AI dibanding generasi TIK sebelumnya adalah kemampuannya meniru perilaku dan proses berpikir manusia. Sistem AI kini dapat membuat keputusan, memberikan rekomendasi, bahkan menghasilkan teks seolah-olah ditulis manusia. Hal ini menimbulkan pertanyaan serius: sejauh mana keputusan pedagogis masih dipegang guru? Bab ini menekankan perlunya penekanan baru pada agensi guru. Guru perlu kompetensi untuk:- memahami bagaimana sistem AI mengambil keputusan;
- menentukan kapan AI boleh membantu, dan kapan harus disisihkan;
- menolak menyerahkan penilaian etis dan pedagogis sepenuhnya kepada algoritma.
Penambangan data dan privasi
Jika TIK sebelumnya lebih banyak berfungsi sebagai alat komunikasi dan penyimpanan informasi, AI modern bergantung pada penambangan data masif. Data murid, guru, dan sekolah dapat dikumpulkan, dianalisis, dan digunakan untuk melatih model tanpa selalu dipahami sepenuhnya oleh para pemilik data. Artikel ini menegaskan bahwa guru perlu memahami bahwa:- data pribadi adalah aset yang harus dilindungi, bukan “harga yang wajar” untuk mendapat layanan gratis;
- AI dapat mengancam kerahasiaan dan hak atas privasi jika tidak diatur dengan baik;
- guru perlu literasi regulasi, bukan hanya literasi teknis, agar dapat mengambil keputusan yang melindungi murid.
Output stokastik dan masalah keandalan
Berbeda dengan banyak aplikasi TIK tradisional yang deterministik (input yang sama, hasil yang sama), banyak sistem AI modern bersifat stokastik: input yang sama dapat menghasilkan keluaran yang berbeda dari waktu ke waktu. Selain itu, AI dapat memberikan jawaban yang tampak meyakinkan tetapi keliru atau bahkan fiktif. Implikasinya bagi guru:- AI tidak boleh dijadikan sumber kebenaran tunggal untuk konsep dan fakta ilmiah;
- kompetensi berpikir kritis guru harus diperkuat, bukan digantikan;
- guru perlu mengajarkan murid untuk memeriksa, menguji, dan memverifikasi keluaran AI.
Model fondasi dan dampak sosial luas
Hal ini juga menyinggung kemunculan model fondasi (foundation models) dan AI generatif yang dapat diadaptasi untuk berbagai sektor, termasuk pendidikan. Fleksibilitas ini membuka peluang integrasi AI dalam banyak aspek kehidupan, namun juga mempercepat perubahan sosial dan ekonomi. Guru, sebagai pendidik warga negara, perlu memahami:- dampak AI terhadap dunia kerja murid di masa depan;
- konsekuensi sosial dari otomasi dan algoritmisasi pengambilan keputusan;
- peran pendidikan dalam mempersiapkan murid untuk menjadi warga yang kritis dan bertanggung jawab dalam masyarakat yang dipengaruhi AI.
Tuntutan baru bagi pengembangan profesional guru
Semua dinamika ini berujung pada satu pesan kuat: pengembangan profesional guru tidak lagi bisa memandang AI sebagai tambahan opsional. Kompetensi AI menjadi bagian dari kompetensi dasar profesi guru modern. Menekankan perlunya:- program pengembangan profesional berkelanjutan, bukan pelatihan satu kali;
- dukungan struktural agar guru memiliki waktu dan sumber daya untuk belajar;
- komunitas praktik yang memungkinkan guru berbagi pengalaman dan refleksi terkait penggunaan AI.
Implikasi Praktis Artikel ini bagi Sekolah dan Guru
Bagi kepala sekolah dan yayasan
Artikel ini dapat dibaca sebagai “alarm dini” bagi pimpinan lembaga pendidikan. Beberapa langkah praktis:- menyusun visi penggunaan AI yang menempatkan kemanusiaan dan keadilan sosial sebagai pusat;
- mengidentifikasi area prioritas di mana AI dapat membantu, misalnya asesmen formatif, diferensiasi pembelajaran, atau administrasi;
- merancang rencana jangka menengah untuk pengembangan kompetensi AI guru, bukan sekadar membeli perangkat lunak baru.
Bagi guru individu
Guru dapat menggunakan Artikel ini sebagai cermin untuk menilai kesiapan diri:- sejauh mana saya memahami cara kerja AI yang saya gunakan?
- apakah saya masih memegang kontrol penuh atas keputusan pedagogis?
- bagaimana saya melindungi data dan martabat murid saat menggunakan AI?
Bagi pengambil kebijakan
Bagi kementerian, dinas, atau yayasan besar, Artikel ini memberi dasar argumentatif untuk:- menjadikan kompetensi AI bagian resmi dari standar kompetensi guru;
- merasionalisasi investasi pada pengembangan kapasitas, bukan hanya infrastruktur;
- menghubungkan kerangka AI dengan kerangka TIK dan kebijakan kurikulum yang sudah ada.
Ringkasan Poin Penting
- AI mengubah relasi guru dan murid, sehingga perlu kerangka kompetensi baru yang menempatkan guru sebagai aktor utama, bukan korban teknologi.
- Kerangka ini ditujukan bagi semua guru yang memanfaatkan AI dalam pembelajaran, dan berfungsi sebagai referensi kebijakan, desain pelatihan, serta asesmen kompetensi.
- Kerangka AI melengkapi, bukan menggantikan, kerangka TIK untuk guru; keduanya bersama-sama membentuk arsitektur pengembangan profesional yang terpadu.
- Lompatan teknologi AI membawa tantangan khusus: peniruan perilaku manusia, penambangan data masif, output stokastik, dan dampak sosial yang luas.
- Guru membutuhkan dukungan sistemik dan program pengembangan profesional berkelanjutan agar mampu menggunakan AI secara aman, etis, dan efektif.
Kesimpulan
Kerangka kompetensi AI untuk guru dari UNESCO dapat dipahami sebagai “pintu gerbang” menuju tatanan baru pendidikan di era kecerdasan artifisial. Di dalamnya terkandung pengakuan jujur bahwa AI membawa potensi besar sekaligus risiko serius, dan bahwa guru berada di pusat ketegangan ini. Alih-alih menempatkan teknologi sebagai pusat, kerangka ini secara tegas mengembalikan manusia ke posisi utama: martabat guru, hak murid, keberagaman budaya dan bahasa, serta keadilan sosial. AI diposisikan sebagai alat yang harus diuji, dipilih, dan digunakan secara kritis, bukan sebagai otoritas pengganti. Bagi sekolah dan guru di mana pun, termasuk di konteks lokal, Artikel ini ini adalah undangan untuk mulai merumuskan pertanyaan-pertanyaan penting: visi apa yang ingin kita capai dengan bantuan AI? Kompetensi apa yang perlu dimiliki guru? Dukungan apa yang harus disediakan institusi? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak bisa dibiarkan dijawab oleh vendor teknologi semata; jawabannya harus lahir dari komunitas pendidikan sendiri. Kerangka kompetensi AI bukanlah akhir dari percakapan, melainkan awal dari dialog panjang tentang bagaimana memanfaatkan kecerdasan artifisial untuk memperkuat, bukan melemahkan, misi pendidikan. Artikel ini memberi landasan konseptual agar langkah berikutnya—merinci prinsip, struktur, dan spesifikasi kerangka—berjalan dalam koridor nilai yang tepat.Sumber / Referensi
- https://doi.org/10.54675/ZJTE2084
- https://www.unesco.org/en/open-access/cc-sa
- https://ictcft.unesco.org/
- https://www.unesco.org/en/digital-education/ai