Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bukan lagi konsep masa depan. Guru memanfaatkannya untuk menyusun soal atau materi ajar, murid menggunakannya untuk mencari ringkasan materi, dan platform pembelajaran menyisipkan algoritma rekomendasi serta analitik yang bekerja di belakang layar. Di tengah perkembangan ini, istilah literasi AI mulai mengemuka sebagai kemampuan kunci abad ke-21.
UNESCO menekankan pentingnya kerangka kompetensi AI bagi guru dan murid agar mereka tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga warga digital yang mampu menilai, menggunakan, dan mengkritisi AI secara bertanggung jawab.
OECD dan Komisi Eropa bersama mitra seperti Code.org tengah mengembangkan kerangka literasi AI (AILit) untuk membekali
peserta didik dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan di era AI. : UNICEF, di sisi lain, memberikan panduan agar sistem AI yang digunakan anak-anak menghormati hak mereka dan tidak menimbulkan dampak negatif yang tidak proporsional.
Tidak cukup hanya “mengizinkan” atau “melarang” penggunaan AI di sekolah. Guru, murid, dan orang tua perlu memahami bagaimana AI bekerja secara garis besar, apa keterbatasannya, di mana potensi biasnya, dan bagaimana menggunakan AI sebagai mitra belajar, bukan sebagai pengganti proses belajar. Di sinilah literasi AI menjadi jembatan antara teknologi dan pendidikan yang berpusat pada manusia.
Apa Itu Literasi AI?
Secara sederhana, literasi AI adalah kemampuan untuk memahami secara dasar bagaimana AI bekerja, mengenali kapan dan di mana AI digunakan, menilai kekuatan dan keterbatasannya, serta menggunakan sistem AI secara kritis, etis, dan bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam proses belajar mengajar.
Kerangka literasi AI yang dikembangkan OECD dan Komisi Eropa menekankan tiga aspek utama: pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memungkinkan peserta didik berinteraksi dengan AI secara percaya diri dan kritis, sekaligus memahami implikasi etis dan sosialnya.
Literasi AI berbeda, tetapi terkait erat dengan literasi digital dan literasi data. Seseorang bisa mahir menggunakan perangkat digital, namun belum tentu memahami bagaimana rekomendasi video, filter gambar, atau chatbot bekerja dan bagaimana algoritma di baliknya mempengaruhi apa yang mereka lihat dan lakukan.
Dalam konteks pendidikan, literasi AI mencakup:
- Memahami bahwa banyak layanan digital menggunakan AI di latar belakang (misalnya rekomendasi materi, deteksi kecurangan, atau analitik pembelajaran).
- Memahami bahwa AI bukan “makhluk hidup” tetapi sistem yang dibuat manusia berdasarkan data dan algoritma tertentu.
- Menyadari potensi bias, kesalahan, dan keterbatasan AI, serta tidak menerima semua output AI sebagai kebenaran.
- Mampu mengevaluasi apakah penggunaan AI di suatu konteks mendukung atau justru menghambat tujuan pembelajaran.
Mengapa Literasi AI Penting bagi Guru dan Murid?
Ada beberapa alasan mengapa literasi AI perlu menjadi perhatian serius sekolah dan yayasan pendidikan:
1. AI sudah menjadi bagian ekosistem belajar
Platform pembelajaran, mesin pencari, aplikasi penulisan, hingga permainan edukatif semakin banyak menggunakan AI untuk personalisasi, rekomendasi, dan umpan balik otomatis. Murid berinteraksi dengan AI bahkan ketika mereka tidak menyadarinya. Tanpa literasi AI, mereka sulit membedakan antara bantuan yang sah dengan manipulasi atau misinformasi.
2. AI mengubah kompetensi abad 21
OECD menyiapkan asesmen PISA 2029 Media & Artificial Intelligence Literacy (MAIL) untuk menilai apakah siswa sudah memiliki kesempatan belajar yang memadai untuk terlibat secara kritis dalam dunia yang semakin dimediasi oleh alat digital dan AI. Hal ini mengindikasikan bahwa literasi AI dipandang sebagai kompetensi fundamental, bukan pilihan tambahan.
3. Perlindungan hak dan kesejahteraan anak
UNICEF mengingatkan bahwa sistem AI dapat membuka kesempatan baru bagi anak (misalnya akses pembelajaran personal),
tetapi juga menghadirkan risiko seperti pelanggaran privasi, diskriminasi algoritmik, dan paparan konten yang tidak pantas. Panduan kebijakan AI untuk anak dirancang agar pemerintah dan penyedia teknologi melindungi hak anak di era AI. Literasi AI membantu murid dan guru mengenali serta memperkecil risiko tersebut dalam praktik sehari-hari.
4. Mendukung kualitas keputusan pedagogis
Guru yang memahami cara kerja dan keterbatasan AI cenderung lebih kritis ketika memilih dan mengadopsi alat digital. Mereka lebih mampu menilai kapan AI relevan untuk membantu diferensiasi pembelajaran, dan kapan interaksi manusia tetap harus menjadi pusat proses belajar mengajar.
Kerangka Internasional Literasi AI
Beberapa lembaga internasional telah mengembangkan kerangka kerja untuk membantu pemerintah dan sekolah mengidentifikasi kompetensi yang dibutuhkan guru dan murid di era AI.
UNESCO: AI Competency Frameworks for Teachers and Students
UNESCO mengembangkan kerangka kompetensi AI untuk pendidik dan pelajar yang melengkapi kerangka literasi digital seperti DigComp 2.2. Kerangka ini mencakup pemahaman dasar AI, etika, serta kemampuan memanfaatkan AI dalam kegiatan belajar dan mengajar. Fokus utamanya adalah membekali guru dan murid agar tidak hanya menggunakan, tetapi juga mempertanyakan dan mengevaluasi peran AI dalam pendidikan dan masyarakat.
OECD & EC: AILit Framework
OECD dan Komisi Eropa menginisiasi AI Literacy Framework (AILit) untuk pendidikan dasar dan menengah. Kerangka ini menekankan tiga dimensi utama: pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), dan sikap (attitudes) yang mempersiapkan peserta didik untuk memahami dan berinteraksi dengan sistem AI secara percaya diri dan kritis.
UNICEF: AI for Children & Policy Guidance
UNICEF mengembangkan panduan kebijakan AI untuk anak yang memuat sembilan persyaratan bagi AI yang berpusat pada anak,
misalnya keadilan, inklusi, perlindungan data, dan akuntabilitas pengembang. Meskipun fokusnya pada kebijakan, panduan ini memberikan landasan penting bagi sekolah ketika merancang kurikulum literasi AI dan kebijakan internal penggunaan AI oleh murid.
Kerangka AI Literacy untuk pendidik dan pelajar
Beberapa organisasi seperti Digital Promise juga merilis kerangka literasi AI untuk pendidik dan pelajar yang menekankan pentingnya kemampuan memahami, mengevaluasi, dan mengintegrasikan AI dalam konteks belajar secara bijak. Meskipun kerangka-kerangka tersebut berasal dari berbagai yurisdiksi, prinsip umumnya relevan bagi sekolah di Indonesia
maupun konteks lokal lainnya.
Komponen Utama Literasi AI
Menggabungkan temuan dari berbagai kerangka di atas, literasi AI bagi guru dan murid dapat dipahami sebagai kombinasi beberapa komponen utama berikut.
1. Pengetahuan dasar tentang AI
- Memahami perbedaan antara sistem berbasis aturan sederhana dan sistem pembelajaran mesin.
- Mengetahui bahwa AI belajar dari data dan bahwa kualitas data memengaruhi kualitas output.
- Mengenali contoh AI di kehidupan sehari-hari (rekomendasi, filter foto, deteksi spam, penerjemah otomatis, dan sebagainya).
2. Pemahaman risiko, bias, dan keterbatasan AI
- Menyadari bahwa AI dapat mereproduksi atau memperkuat bias yang ada di data pelatihan.
- Mengenali bahwa AI dapat menghasilkan informasi yang salah atau menyesatkan, termasuk konten generatif seperti teks dan gambar.
- Memahami bahwa tidak semua tugas cocok untuk diotomatisasi dengan AI, khususnya tugas yang melibatkan penilaian nilai, empati, dan konteks budaya yang kompleks.
3. Keterampilan penggunaan AI secara produktif
- Menyusun pertanyaan (prompt) yang jelas dan spesifik untuk mendapatkan output yang relevan.
- Menggunakan AI untuk eksplorasi ide, latihan, dan umpan balik, bukan untuk menyalin hasil jadi.
- Mampu mengombinasikan output AI dengan pengetahuan dan kreativitas manusia dalam tugas akademik.
4. Keterampilan evaluasi kritis
- Memeriksa kebenaran fakta yang disajikan AI dengan sumber lain yang kredibel.
- Menilai apakah rekomendasi atau penjelasan AI selaras dengan bukti ilmiah dan nilai-nilai sekolah.
- Mampu menjelaskan kepada orang lain mengapa hasil AI tertentu layak atau tidak layak dipercaya.
5. Sikap etis dan bertanggung jawab
- Menolak menggunakan AI untuk berbuat curang (misalnya mengerjakan ujian atau tugas yang dilarang).
- Menghormati privasi orang lain dan tidak memasukkan data sensitif ke layanan AI publik.
- Menyadari dampak sosial penggunaan AI, termasuk terhadap ketimpangan, disinformasi, dan polarisasi.
Literasi AI untuk Guru
Bagi guru, literasi AI bukan hanya soal mengenali alat, tetapi juga kemampuan mendesain strategi pedagogis yang memanfaatkan AI secara tepat. UNESCO dalam kerangka kompetensi AI untuk guru membagi kompetensi guru ke dalam beberapa domain, termasuk pemahaman fundamentaI AI, implementasi AI dalam pembelajaran, dan pengembangan profesional berkelanjutan.
Peran guru di era AI
- Kurator teknologi: memilih alat AI yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan profil murid.
- Fasilitator berpikir kritis: membantu murid mengevaluasi output AI dan merefleksikan proses belajar.
- Model etika digital: menunjukkan contoh penggunaan AI yang menghargai hak orang lain dan integritas akademik.
Kompetensi literasi AI yang penting bagi guru
- Memahami prinsip dasar cara kerja model generatif (misalnya LLM dan generator gambar) secara konseptual.
- Mampu mengintegrasikan AI dalam perencanaan pembelajaran (RPP) untuk diferensiasi dan personalisasi.
- Menyadari risiko bias dan ketimpangan akses ketika menggunakan alat AI tertentu.
- Mengembangkan tugas yang mendorong murid untuk menggunakan AI sebagai alat refleksi dan eksplorasi, bukan sekadar penjawab soal.
- Mampu menjelaskan kepada orang tua bagaimana sekolah menggunakan AI dan bagaimana literasi AI ditanamkan kepada murid.
Contoh penggunaan AI yang sejalan dengan literasi AI guru
- Menggunakan AI untuk menghasilkan variasi soal latihan, kemudian guru tetap memeriksa kualitas dan kesesuaiannya.
- Meminta AI menyarankan beberapa pendekatan mengajarkan konsep sulit, lalu guru memilih dan menyesuaikannya.
- Memanfaatkan AI untuk membuat rangkuman awal suatu bacaan, kemudian guru dan murid bersama-sama mengkritisi rangkuman tersebut.
Literasi AI untuk Murid
Untuk murid, literasi AI adalah bagian dari bekal hidup di masyarakat yang semakin terdigitalisasi. OECD dan mitra internasional menggarisbawahi bahwa literasi AI bagi anak dan remaja mencakup kemampuan memahami konsep dasar, menilai risiko dan peluang, serta menggunakan AI secara kreatif dan bertanggung jawab.
Apa yang perlu dipahami murid tentang AI
- AI tidak selalu benar; mereka perlu memeriksa ulang jawaban AI, terutama untuk informasi faktual.
- AI belajar dari data masa lalu, sehingga dapat membawa bias dan tidak selalu adil.
- Jejak digital yang mereka tinggalkan dapat menjadi “bahan bakar” bagi sistem AI.
- Penggunaan AI untuk menipu (misalnya memalsukan tugas, membuat gambar palsu, atau menyebar hoaks) memiliki konsekuensi etis dan sosial.
Keterampilan praktis literasi AI bagi murid
- Menyusun pertanyaan dan instruksi yang jelas kepada AI untuk tujuan belajar.
- Membandingkan jawaban AI dengan buku teks, catatan guru, atau sumber tepercaya lain.
- Menggunakan AI untuk latihan soal dan penjelasan tambahan, kemudian menuliskan jawaban asli dengan kata-kata sendiri.
- Mengenali konten AI generatif (misalnya deepfake, gambar rekayasa) dan tidak menyebarkannya tanpa verifikasi.
Mengintegrasikan literasi AI ke dalam kegiatan belajar murid
Literasi AI tidak harus menjadi mata pelajaran baru. Ia dapat disisipkan dalam berbagai konteks:
- Dalam pelajaran bahasa, murid membandingkan teks yang ditulis manusia dan teks yang dihasilkan AI, lalu mendiskusikan perbedaannya.
- Dalam pelajaran sains, murid menanyakan penjelasan konsep kepada AI lalu menguji kebenarannya dengan eksperimen sederhana atau buku sumber.
- Dalam pelajaran PPKn atau agama, murid mendiskusikan dilema etis penggunaan AI, misalnya dalam pemantauan, seleksi, atau penyebaran informasi.
Peran Sekolah dan Kebijakan Internal
Literasi AI tidak dapat dibebankan hanya kepada guru individu. Sekolah memerlukan kerangka kebijakan dan dukungan kelembagaan agar upaya literasi AI menjadi konsisten dan berkelanjutan. Artikel terpisah tentang kebijakan AI di sekolah membahas lebih detail mengenai penyusunan kebijakan, namun beberapa poin kunci terkait literasi AI adalah sebagai berikut:
- Memasukkan literasi AI ke dalam strategi transformasi digital dan rencana kerja tahunan sekolah.
- Menetapkan panduan penggunaan AI bagi guru dan murid, termasuk etika, privasi, dan integritas akademik.
- Menyediakan pelatihan dan komunitas belajar bagi guru untuk saling berbagi praktik baik.
- Melibatkan orang tua melalui sosialisasi dan bahan komunikasi yang menjelaskan manfaat dan risiko AI.
Sejumlah negara mulai meluncurkan program nasional untuk membangun literasi AI siswa dan guru, misalnya program kerangka literasi AI OECD–EC serta inisiatif pemerintah yang mengintegrasikan modul AI ke kurikulum menengah. Tren ini menunjukkan bahwa literasi AI bukan lagi isu opsional, melainkan bagian dari kesiapan sistem pendidikan
menghadapi masa depan.
Matriks Perbandingan Kebutuhan Literasi AI
Tabel berikut membandingkan fokus utama literasi AI bagi tiga kelompok: guru, murid, dan sekolah sebagai institusi.
Masing-masing memiliki kebutuhan yang saling melengkapi.
| Aspek | Guru | Murid | Sekolah (Institusi) |
|---|---|---|---|
| Tujuan utama | Mengintegrasikan AI secara pedagogis dan etis. | Belajar menggunakan AI secara kritis dan produktif. | Menjamin pemanfaatan AI sejalan dengan misi pendidikan dan regulasi. |
| Pengetahuan inti | Konsep dasar AI, jenis-jenis AI di pendidikan, dampak terhadap pedagogi. | Contoh AI di kehidupan sehari-hari, cara kerja dasar model dan keterbatasannya. | Tren kebijakan, kerangka kerja internasional, dan regulasi nasional terkait AI. |
| Keterampilan kunci | Desain tugas “AI-aware”, seleksi alat, evaluasi output AI untuk pembelajaran. | Menyusun pertanyaan efektif, memverifikasi jawaban, menggabungkan AI dengan ide sendiri. | Menyusun kebijakan, memilih platform, mengatur pelatihan, dan mengelola risiko. |
| Dimensi etis | Menjadi teladan integritas, menjelaskan etika penggunaan AI kepada murid. | Menghindari kecurangan, menghormati privasi, dan tidak menyebarkan konten AI yang menyesatkan. | Memastikan perlindungan data, inklusi, dan keadilan dalam penggunaan AI. |
| Bentuk dukungan yang dibutuhkan | Pelatihan, komunitas praktik, akses terhadap panduan resmi. | Materi belajar yang kontekstual, tugas yang memandu penggunaan AI secara positif. | Sumber rujukan kebijakan, mitra teknis yang tepercaya, dan dukungan regulasi. |
Strategi Implementasi Literasi AI di Sekolah
Implementasi literasi AI sebaiknya dilakukan secara bertahap dan terencana. Berikut contoh strategi yang dapat diadaptasi:
Langkah 1 – Pemetaan awal
- Mengidentifikasi sejauh mana guru dan murid sudah menggunakan AI, baik di sekolah maupun di rumah.
- Menginventarisasi alat AI yang sudah ada dalam ekosistem sekolah (LMS, sistem administrasi, aplikasi pihak ketiga).
Langkah 2 – Menentukan profil kompetensi
- Mencocokkan kebutuhan sekolah dengan kerangka literasi AI internasional (UNESCO, OECD, UNICEF).
- Menentukan prioritas kompetensi yang ingin dikembangkan lebih dulu (misalnya pemahaman risiko dan etika).
Langkah 3 – Desain program pelatihan dan pembelajaran
- Menyelenggarakan lokakarya literasi AI untuk guru, dengan fokus pada praktik kelas.
- Mengintegrasikan literasi AI ke dalam beberapa mata pelajaran melalui tugas dan diskusi terarah.
- Menyusun materi komunikasi bagi orang tua tentang penggunaan AI di sekolah.
Langkah 4 – Pilot dan refleksi
- Memulai pilot di beberapa kelas atau tingkat dahulu sebelum diperluas ke seluruh sekolah.
- Mengumpulkan umpan balik dari guru dan murid mengenai manfaat dan tantangan.
- Merevisi pendekatan berdasarkan temuan awal.
Langkah 5 – Institusionalisasi
- Memasukkan literasi AI ke dalam dokumen kurikulum sekolah atau perangkat ajar.
- Menjadwalkan pelatihan berkala dan mekanisme pembaruan materi seiring berkembangnya teknologi.
- Menghubungkan program literasi AI dengan kebijakan AI dan kebijakan perlindungan data sekolah.
Tantangan dan Miskonsepsi Umum tentang Literasi AI
Dalam praktik, beberapa tantangan dan miskonsepsi berikut sering muncul ketika sekolah mulai berbicara tentang literasi AI.
“Literasi AI hanya untuk sekolah teknologi atau perguruan tinggi”
Padahal, PISA 2029 akan mengukur literasi media dan AI di kalangan siswa usia 15 tahun, menandakan bahwa literasi AI relevan sejak pendidikan dasar dan menengah. Literasi AI bukan tentang memprogram model, tetapi tentang memahami dan berinteraksi secara kritis dengan sistem yang sudah hadir di sekitar mereka.
“Literasi AI berarti melarang atau membebaskan AI sepenuhnya”
Literasi AI justru mendorong pendekatan yang lebih seimbang: memanfaatkan kekuatan AI untuk mendukung pembelajaran, sambil secara sadar mengelola risikonya. Larangan total menghilangkan kesempatan belajar, sementara pembebasan total tanpa panduan meningkatkan risiko penyalahgunaan.
“Guru harus menjadi ahli teknis AI dulu”
Kerangka UNESCO dan OECD menunjukkan bahwa kompetensi utama guru adalah pemahaman konseptual, etika, dan pedagogis, bukan kemampuan teknis tingkat tinggi. Guru cukup memahami cara kerja dasar, keterbatasan, dan cara mengintegrasikan AI ke dalam strategi mengajar, sementara tugas teknis mendalam dapat didukung oleh tim IT atau mitra eksternal.
“Murid akan menjadi malas jika mengenal AI”
Risiko ini ada jika AI hanya diposisikan sebagai alat “jalan pintas”. Namun jika literasi AI ditekankan, murid justru diajak menggunakan AI sebagai partner untuk mengecek pemahaman, mendapatkan perspektif berbeda, dan mengembangkan ide. Kuncinya adalah desain tugas dan bimbingan guru.
Kesimpulan
Literasi AI untuk guru dan murid bukan sekadar tren, melainkan bagian dari kesiapan pendidikan menghadapi dunia yang kian terdigitalisasi. AI telah tertanam dalam banyak layanan yang digunakan di kelas dan di rumah; tanpa literasi AI, guru dan murid berisiko menjadi pengguna pasif yang mudah terpengaruh, alih-alih menjadi warga digital yang kritis dan bertanggung jawab.
Kerangka kompetensi dari UNESCO, OECD, dan UNICEF menawarkan rambu-rambu yang jelas tentang kompetensi apa saja yang perlu dibangun: pengetahuan dasar tentang AI, keterampilan menggunakan dan mengevaluasi AI, serta sikap etis yang menghormati hak anak dan nilai kemanusiaan. Sekolah dapat memanfaatkan kerangka tersebut sebagai referensi untuk menyusun program literasi AI dan kebijakan internal yang saling menguatkan.
Bagi guru, literasi AI berarti kemampuan mengintegrasikan AI dalam pembelajaran tanpa kehilangan inti pedagogi dan hubungan manusiawi. Bagi murid, literasi AI adalah bekal untuk belajar, bekerja, dan hidup di masyarakat yang sarat data dan algoritma. Bagi sekolah dan yayasan, literasi AI adalah tanggung jawab kelembagaan untuk memastikan transformasi digital berjalan sejalan dengan misi pendidikan.
Langkah berikutnya ada di tangan masing-masing sekolah: mulai dari pemetaan awal, penyusunan program kecil, hingga integrasi lebih luas ke dalam kurikulum dan kebijakan. Dengan pendekatan yang terarah dan berbasis referensi terpercaya, literasi AI dapat menjadi pintu pembuka bagi pembelajaran yang lebih relevan, aman, dan bermakna di era kecerdasan buatan.
Langkah Berikutnya untuk Sekolah Anda
Pertimbangkan untuk membentuk tim kecil yang fokus pada literasi AI, mengkaji kerangka kompetensi internasional, dan mulai menyusun rencana sederhana untuk tahun ajaran mendatang. Setiap langkah kecil—seperti satu unit pelajaran yang memasukkan diskusi tentang AI atau satu lokakarya untuk guru—dapat menjadi awal dari budaya literasi AI yang kuat di lingkungan sekolah Anda.
Sumber / Referensi
- https://www.unesco.org/en/digital-education/artificial-intelligence
- https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000391104
- https://ai4edu.eu/2024/11/12/unescos-ai-competency-frameworks-equipping-educators-and-students-for-the-age-of-ai/
- https://oecdedutoday.com/new-ai-literacy-framework-to-equip-youth-in-an-age-of-ai/
- https://ailiteracyframework.org/
- https://www.oecd.org/en/about/projects/pisa-2029-media-and-artificial-intelligence-literacy.html
- https://www.unicef.org/innocenti/reports/policy-guidance-ai-children
- https://www.unicef.org/innocenti/projects/ai-for-children
- https://digitalpromise.org/2024/02/21/revealing-an-ai-literacy-framework-for-learners-and-educators/
- https://www.oecd.org/en/topics/sub-issues/artificial-intelligence-and-education-and-skills.html